Ketika sampai di stasiun KRL Tanah Abang sejenak bingung bercampur kagum. Cukup lama tidak menggunakan jalur KRL Kebayoran Lama-Tanah Abang-Pasar Minggu. Jalur yang selalu harus ditempuh selama beberapa tahun menuju tempat kerja.
Tak terbayangkan situasi stasiun yang dahulu selalu padat dengan manusia yang berjubel di pagi hari dan petang, kini berubah total. Apik, resik tertata rapi.Kapasitas Stasiun Tanah Abang yang baru diresmikan itu meningkat lebih dari dua kali lipat. Diperkirakan Penumpang Satu Rangkaian KRL di Stasiun Tanah Abang dikatakan setara dengan kapasitas 20 Pesawat Boeing. Stasiun ini mampu menampung hingga 380 ribu penumpang per hari. Naik signifikan dari sebelumnya yang hanya 141 ribu orang.
Tak heran ini hasil penerapan nyata konsep Transit Oriented Development (TOD). Satu pendekatan pembangunan kota yang menempatkan transportasi publik sebagai pusat aktivitas.
Itu muncul sebagai respons terhadap pertumbuhan kota yang sering kali tidak teratur, macet, dan menguras energi. Tujuannya memudahkan orang bepergian yang tidak selalu harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Suatu kawasan yang dirancang bauran antara hunian berdampingan dengan ruang usaha dan layanan publik. Ini menciptakan lingkungan yang hidup sepanjang hari. Di dalamnya ada hunian, kantor, pusat belanja, dan ruang publik dirancang berada dalam jangkauan berjalan kaki dari stasiun atau halte utama.
Pejalan kaki dan pesepeda diutamakan.Trotoar dibuat nyaman, jalur sepeda aman, serta area parkir kendaraan pribadi dibatasi. Harapannya masyarakat terdorong untuk memilih transportasi umum yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Terjadi dampak positif bagi peningkatan kualitas hidup.
Ketika rumah, tempat kerja, sekolah, dan taman berada berdekatan, waktu perjalanan berkurang, peluang interaksi sosial meningkat, dan kesehatan masyarakat dapat lebih terjaga.
TOD membantu mewujudkan kota yang lebih sehat, dan lebih berkelanjutan, tempat masyarakat dapat hidup lebih dekat, lebih ringkas, dan lebih saling terhubung. Sudah banyak stasiun KRL yang dibenahi. Itu cara cerdik menata kota dengan apik.
Sedikit kembali ke cerita masa lalu Tanah abang. Ada Catatan sejarah konon Tanah abang berarti “Tanah Merah”. Pernah merah oleh warna darah tertumpah ketika pasukan Mataram menyerang Batavia pada tahun 1628. Lalu dijadikan area pangkalan pasukan Mataram.
Pada tahun 1735 Justinus Vinck mendirikan Pasar Tanah Abang. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan yang penting.
Dari semula pasar yang
sederhana berkembang menjadi pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara.
Bahkan juga menyimpan kisah kerasnya kehidupan para preman yang berkiprah di sana. Namun kini zaman telah berubah.
Winston Churchill mengatakan
“Untuk meningkatkan itu berarti berubah; menjadi sempurna itu berarti sering berubah.” –
Sedangkan menurut Gail Sheehy “Jika kita tidak berubah, kita tidak tumbuh. Jika kita tidak tumbuh, kita tidak benar-benar hidup.” –
(Abraham Raubun. B Sc, S.Ikom)


