Dalam satu tatap muka dengan sekelompok mahasiswa seorang pembicara bertanya ” Àpakah kalian siap melakukannya?. Serempak dijawab:”Siap!!”. Jawaban ini masih butuh pembuktian lewat “Satunya kata dan perbuatan” yang dalam konteks kehidupan sosial masa kini kata bijak “Satunya kata dan perbuatan” terasa semakin menjadi barang langka.
Langka adalah kata yang diserap dari bahasa Jawa. Diartikan sebagai jarang didapat, jarang ditemukan, atau jarang terjadi. Kata yang digunakan unruk menggambarkan keadaan di mana sesuatu jumlahnya sedikit, tidak umum, atau sulit ditemui.
Istilah ini sering merujuk pada benda, spesies, atau kejadian yang memiliki nilai tinggi karena keterbatasannya, seperti barang antik atau hewan langka.
Ketidaksatuan antara kata dan perbuatansejatinya melahirkan krisis kepercayaan. Begitu banyak janji diobral, opini dan janji menghiasi taburan kata-kata membentuk pencitraan dalam indahnya mimpi.
“Satunya Kata dan Perbuatan” menjadi barang langka yang justru paling dibutuhkan. Kita hidup dalam budaya yang mudah memproduksi kata-kata—status motivasi, komitmen publik, hingga slogan perubahan—namun sering gagap membuktikannya dalam tindakan nyata. Namun integritas itu tidak lahir dari kefasihan berbicara, melainkan dari konsistensi menjalankan apa yang diucapkan.
Mahatma Gandhi pernah mengingatkan, “Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.” Kebahagiaan dan kedamaian batin ternyata bukan sekadar hasil pencapaian materi, tetapi buah dari keselarasan antara pikiran, kata, dan perbuatan.
Ketika seseorang mengatakan pentingnya kejujuran, lalu ia sendiri berlaku jujur meski dalam situasi sulit, di situlah wibawa moral terbentuk tanpa perlu diumumkan.
Bagi mahasiswa, terutama yang sedang ditempa menjadi calon pemimpin, kesatuan kata dan perbuatan adalah fondasi karakter. Mudah mengatakan disiplin itu penting, tetapi lebih bermakna ketika hadir tepat waktu. Mudah menyerukan hidup sehat, tetapi lebih berdampak ketika konsisten menjaga pola makan, aktivitas fisik, dan etika profesional. Kata-kata menginspirasi, tetapi teladan menggerakkan.
Satunya kata dan perbuatan bukan berarti sempurna tanpa salah. Ia adalah komitmen untuk bertanggung jawab ketika keliru, berani mengakui kekurangan, dan memperbaiki diri. Integritas bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang kesediaan bangkit dengan jujur.
Masyarakat tidak lagi mudah percaya pada janji, karena terlalu sering menyaksikan inkonsistensi. Di sinilah integritas menjadi investasi sosial. Sekali seseorang dikenal teguh memegang ucapannya, kepercayaan akan mengikutinya. Dan kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam relasi apa pun—akademik, profesional, maupun keluarga.
Kini dunia mungkin tidak selalu membutuhkan lebih banyak pidato. Ia membutuhkan lebih banyak teladan. Karena pada akhirnya, karakter seseorang tidak diukur dari apa yang ia katakan tentang dirinya, melainkan dari apa yang ia lakukan ketika tidak ada yang melihat.
(Abraham. Raubun. B.Sc, S.Ikom)








