UCAPLAH SYUKUR SETIAP SAAT

Terbaru29 Dilihat

Kata syukur yang berakar dari
bahasa Arab “syakar”  berarti berterima kasih atau menampakkan nikmat, sebagai lawan dari sifat kufur. Itu suatu
pengakuan hati, yang diungkapkan secara lisan, dan perbuatan atas segala rahmat nikmat yang diberikan Tuhan.

Syukur bukan hanya respons terhadap keadaan baik, tetapi pilihan sikap. Bukan juga perasaan pasif. Ia adalah latihan sadar. Setiap latihan, sekecil apa pun, sedang membentuk siapa diri kita di masa depan.

Secara psikologis dikatakan
“Every time you axpress gratitude your brain rewires itself”. Pernyataan ini memiliki makna yang dalam, baik secara psikologis maupun neurologis.
Semakin sering seseorang mempraktikkan syukur, semakin terbiasa otaknya mencari hal-hal positif. Dengan kata lain, ia “melatih” otaknya untuk optimis. Kemampuan otak untuk membentuk dan mengubah jaringan sarafnya berdasarkan pengalaman dan kebiasaan. Mengungkapkan rasa syukur bukan sekadar tindakan sosial, tetapi latihan mental.

Bagaimana proses itu terjadi?
Saat seseorang bersyukur:
Otak melepaskan hormon seperti dopamin dan serotonin (hormon kebahagiaan). Sistem limbik yang berperan dalam emosi menjadi lebih stabil.
Fokus mental bergeser dari kekurangan menuju kelimpahan.

Salah satu tokoh yang banyak membahas hal ini adalah Donald Hebb dengan prinsipnya yang terkenal: “neurons that fire together wire together.” Artinya, semakin sering suatu pola pikir atau emosi diaktifkan, semakin kuat jalur saraf tersebut terbentuk.

Rasa syukur bukan hanya respons terhadap keadaan baik, tetapi pilihan sikap. Ia membentuk cara pandang. Orang yang membiasakan diri bersyukur tidak berarti menutup mata dari masalah, tetapi ia memilih untuk tidak membiarkan masalah mendominasi kesadarannya.

Rasa syukur mengubah pertanyaan dalam diri:
Dari: “Mengapa hidup saya sulit?” menjadi: “Apa yang masih bisa saya pelajari dan syukuri hari ini?” Perubahan pertanyaan ini saja sudah mengubah struktur berpikir.

Implikasi dalam kehidupan sehari-hari afalah membiasakan  berterima kasih atas berkah Sang Pencipta.

Jika setiap ungkapan syukur benar-benar “mengubah kabel-kabel” di otak kita, maka syukur bukan lagi sekadar etika sopan santun, melainkan strategi pembentukan karakter.

Bersyukur adalah kunci kebahagiaan sejati dan ketenangan jiwa yang mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup. Hati yang bersyukur tidak akan pernah merasa kekurangan dan selalu melihat kebaikan dalam setiap keadaan. Karena kebahagiaan sejati datang dari sikap bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini”.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan