GAGAL KULIAH SUKSES JADI PENGUSAHA

Terbaru449 Dilihat

Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom

Semangat juang mantan kawan kuliah di Akademi Gizi Jakarta yang satu ini, patut mendapat acungan jempol. Pasalnya dia harus terlempar keluar dari dunia kampus. Bukan karena ketidakmampuan intelektualnya. Namun saat itu institusi pendidikan dimana kami belajar menerapkan sistem penilaian akademis yang “unik” untuk mencapai kenaikan tingkat. Kami menyebutnya “Magic Formula”.

Banyak mahasiswa yang berguguran di tengah jalan terhadang sistem itu, termasuk kawan yang satu ini. Kisah perjuangannya setelah “drop-out” ini menarik untuk dipaparkan.

Sebut saja nama singkatnya mas Soegeng. Orangnya “humble” senang bergaul. Jiwa wiraswastanya tinggi. Senang bercanda dan selalu optimis serta berjiwa sosial.

Dalam menempuh perjalanan hidupnya, ia harus berjuang keras mencari biaya untuk sekolah. Berbekal kamera tua ia menjajakan jasa mengabadikan acara-acara kenangan orang yang memintanya di mana saja termasuk di kampus. Hampir semua moment kenangan mahasiswa bergambar hitam putih yang dimiliki, hasil karya mas Soegeng.

Terpaksa impian menjadi sarjana harus ditinggalkanya. Namun ia berhasil menyunting gadis idaman hatinya selama masa kuliah bersama yang menyandang gelar Ahli Gizi.

Ia menjelajah berbagai dunia pekerjaan. Sampai suatu saat terdampar di satu bengkel dinamo. Nampaknya disini ia menemukan “cuannya”.

Suatu ketika bengkel tempatnya bekerja mengalami krisis, terancam gulung tikar. Ia bersepakat dengan rekan kerjanya untuk membeli bengkel dinamo tersebut. Akhirnya bengkel itu beralih tangan ke mas Soegeng dkk.

Singkat kisah dengan penuh ketekunan Mas Soegeng secara profesional berhasil mengembangkan usaha bengkel dinamonya dengan sukses. Kini bengkel tersebut telah berkembang maju didukung oleh karyawan-karyawan yang setia penuh dedikasi. Ia tinggal menikmati hasil perjuangan kerasnya bersama keluarga.

Kehidupan sebagai keluarga muda di rumah petak kontrakan yang pernah ditempati kini berubah jauh. Namun nampaknya hal ini tidak mematikan jiwa sosialnya. Rezeki berlimpah yang sangat diyakininya sebagai anugerah Allah, ia persembahkan kembali kepada Sang Sumber Kehidupan dalam bentuk Amal kepada sesama.

Semua karyawannya berkesempatan untuk umroh ke tanah suci. Soal tempat bernaung mereka tidak perlu kuatir lagi, sudah dijamin perusahaan. Soal bersilaturahim dengan semua kawan sejak SD sampai masa kuliah dulu dilakukannya dengan rutin. Prinsipnya ketika kumpul teman-temannya harus merasa senang dan bahagia. Bukan cuma itu pulangpun tidak boleh bertangan hampa. Selalu harus ada oleh-oleh yang dibawa pulang untuk keluarga.

Ada hal menarik dari mas Soegeng untuk beramal. Saat ini ia menebar amal dengan berbagi rezeki kepada banyak orang dengan daya beli terbatas. Caranya sederhana. Ia memilih bekerjasama dengan seorang pemilik warung makanan sebagai saluran berkatnya. Setiap hari tidak kurang dari 120 porsi makanan dipesannya dengan harga Rp. 10 ribu dari pemilik warung. Ia bersepakat dengan pemilik warung untuk menjual kepada pembeli dengan harga Rp.3 ribu per porsi/bungkus. Menunya nasi lengkap dengan lauk pauknya.

Setiap pagi pembeli membayar harga makanan dan mendapat kupon untuk ditukarkan dengan makanan di siang hari. Sudah cukup lana hal ini dilakukannya. Bukan hanya ini saja, banyak lagi kebajikan lain yang dengan diam-diam telah dilakukannya guna meringankan beban hidup orang-orang di sekitarnya.

Nampaknya ia sangat merasakan bagaimana pahitnya hidup dalam kekurangan. Kini saatnya mengembalikan kelimpahan berkat yang diberikan Sang Sumber Kehidupan dengan menolong sesama yang membutuhkan.

Tentu banyak juga orang-orang seperti mas Soegeng yang mensyukuri hidup yang diberkahi Sang Khalik dengan meringankan beban hidup sesama.

 

Tinggalkan Balasan