Kerbau dan burung jalak tidak tampak bersama lagi. Biasanya pagi-pagi hari burung jalak sudah datang menemani kerbau membajak sawah. Burung jalak kadang menaiki punggung kerbau dan memakan kutu yang mengganggu kerbau. Jalak kenyang, kerbau pun senang karena tidak diserang gatal-gatal. Begitupun di waktu petang. Mereka selalu bercengkrama bersama di sungai sembari kerbau berendam.
Semua hewan bertanya-tanya apa yang terjadi pada mereka berdua. Namun tidak ada satu pun yang tahu pasti apa penyebabnya. Bebek yang penasaran akhirnya menanyakan langsung kepada kerbau saat mereka mandi di sungai.
“Hai Kerbau, mengapa kamu sendirian saja? mana sahabatmu?” tanya bebek.
“Sahabat yang mana?” jawab kerbau.
“Burung jalak. Siapa lagi? Bukankah kalian selalu bersama?”
“Kami bertengkar Bek, burung jalak tidak mau lagi menemuiku?”
“Bertengkar kenapa?”
“Aku juga tidak tahu Bek. Awalnya dia datang seperti biasa lalu mengatakan kalau mulai saat ini dia tidak mau lagi berteman denganku.”
“Kamu tidak menanyakan kenapa begitu.”
“Aku bertanya, namun dia hanya terbang begitu saja. Aku pun marah. Pasti dia sudah punya teman baru sehingga teman lama dilupakan begitu saja.”
“Hmm…jangan berfikiran negatif Kerbau. Belum tentu juga burung jalak begitu.”
“Aduh…aduh..punggungku gatal sekali,” keluh kerbau sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Namun dia tidak bisa menggaruk punggungnya itu.
“Apa kutumu semakin banyak Kerbau?” tanya bebek.
“Sepertinya iya. Biasanya ada jalak yang selalu memakannya untukku. Sehingga tubuhku tidak gatal lagi.”
“Kau pasti merindukan dan membutuhkan sahabatmu itu?”
“Iya Bek. Tapi sudahlah. Dia sudah tidak mau lagi berteman denganku.”
Esoknya bebek melihat burung jalak terbang melintasi rumahnya. Dengan setengah berteriak, bebek memanggil jalak. Burung jalak yang mendengar namanya dipanggil segera mendarat dan bertengger di dahan pohon dekat bebek berdiri.
“Apakah kau memanggilku Bek?” tanya Jalak.
“Iya Jalak. Bagaimana kabarmu?”
“Kabarku baik. Kamu bagaimana?”
“Aku juga baik. Aku sebenarnya memanggilmu karena ingin menanyakan sesuatu?”
“Menanyakan apa?”
“Apa benar kau bertengkar dengan kerbau?”
“Oh, kamu tahu ya? apa dia cerita padamu?”
“Aku yang bertanya padanya. Kami semua heran mengapa kalian tidak tampak bersama lagi? Waktu aku tanya kerbau dia bilang kau tidak mau lagi berteman dengannya. Dia bilang kamu sudah punya teman baru sehingga tidak mau berteman lagi dengan teman lama,”
“Oh jadi kerbau berfikir seperti itu ya?”
“Apakah itu benar Jalak?”
“Tidak benar. Walaupun aku punya teman baru, aku tidak mungkin melupakan sahabatku kerbau. Hanya saja…” burung jalak tidak melanjutkan ucapannya.
“Hanya saja apa Jalak?” tanya bebek penasaran.
“Aku dengar dari ayam kalau kerbau selama ini terluka karena aku sering mematuki punggungnya. Saat aku memakan kutu-kutu kerbau ternyata punggungnya juga terluka karena paruhku ini.”
“Kenapa kamu tidak tanya langsung kepada kerbau apa benar seperti itu?”
“Aku sengaja tidak bertanya Bek, karena aku pikir pasti kerbau tidak mau jujur karena tidak enak denganku. Aku jadi merasa bersalah telah menyakiti kerbau selama ini.”
“Kau salah Jalak. Malah karena kau tidak memakan kutu kerbau lagi dia sekarang gatal dan sangat tersiksa. Baru saja aku berendam bersamanya di sungai dan aku melihat dia sangat kesusahan karena kutunya semakin banyak.”
“Benarkah?”
“Benar Jalak. Lebih baik sekarang kita jumpai ayam untuk menanyakan dari mana dia mendapat kabar seperti itu.”
Bebek dan burung jalak segera mencari ayam untuk menanyakan langsung informasi yang dia sampaikan kepada burung jalak sebelumnya.
“Oh itu dia ayam. Ayam!” teriak bebek yang melihat ayam sedang memakan biji-bijian di tanah.
“Hai Bebek dan Jalak. Ada apa memanggilku?”
“Kami ingin menanyakan padamu dari mana kau tahu kalau kerbau terluka karena paruh burung jalak?”
“Oh itu, aku mendengarnya dari Pak Tani. Dia bilang kasihan punggung kerbau sudah penuh dengan luka. Pasti kerbau sakit kalau punggung ini diduduki. Jadi aku pikir tentulah burung jalak akan menyakiti kerbau kalau ia berdiri sambil mematuk kutu-kutu kerbau.”
“Oh itu, aku juga mendengarnya. Tapi apa kau mendengar apa yang dikatakan Bu Tani sebelum Pak Tani berbicara seperti itu?”
“Tidak Bek. Aku mendengar itu saja sepintas melewati mereka berdua,”
“Aku di sana sudah lama Yam dan mendengar percakapan mereka semuanya. Sebelumnya Bu Tani berkata kalau Pak Omar ingin menunggangi kerbau untuk jalan-jalan mengelilingi desa. Namun punggung kerbau sakit karena beban di punggungnya saat membajak sawah. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak membolehkan Pak Omar membawa kerbau.”
“Oo jadi begitu,” ucap jalak dan ayam serentak.
“Makanya Yam, jangan buru-buru mengambil kesimpulan jika tidak mengetahui suatu persoalan secara utuh. Jadinya persahabatan yang erat dan lekat antara kerbau dan burung jalak jadi pecah. Itu tidak baik,” ucap bebek.
“Maafkan aku Bek, Jalak, aku salah. Tidak seharusnya aku seperti itu.”
“Iya Yam, aku maafkan. Sekarang yang terpenting kita segera menemui Kerbau dan menjelaskan semuanya padanya. Aku juga sudah kangen dengan kerbau.”
“Oke siap!” sahut ayam.
Akhirnya mereka bertiga menjumpai kerbau dan menceritakan semua padanya. Mendengar itu kerbau langsung mendekatkan wajahnya pada burung jalak. Mereka bermaaf-maafan dan saling janji untuk tidak bertengkar lagi.










Pelajaran sungguh luarbiasa dati kisah ini. Trimskasih buk..
Terima kasih apresiasinya bu