
Sayangnya, karya itu merupakan cerpen pertamaku sekaligus yang paling akhir. Kesibukan kuliah, bekerja setelah lulus sarjana dan akhirnya mengurus keluarga. Semuanya menjadi alasan klise yang menutupi keogahanku untuk melakukan lirerasi literasi lewat menulis. Ya, aku tidak menekuni hobi menulisku secara serius. Yang tersisa hanyalah menulis diary.
Menorehkan tinta pada buku diary berlangsung harian atau mingguan, sesuai mood. Buahnya, tak lebih dari catatan pribadi yang tak mungkin publish untuk menerima apresiasi, atau setidaknya komentar.
Era berganti dan jaman pun berubah, hingga tiba era digital. Tak mau ketinggalan, aku pun melakukan upgrade diri. Tahun 2007 adalah saat pertama tanganku menyentuh mouse laptop.
Tak bisa kulupa saat belajar mengoperasikan peralatan baru itu, menyimpan catatan tersendiri. Menempatkan cursor agar fungsinya pada screen, dengan menggunakan mouse merupakan perjuangan tersendiri. Benda mirip hewan tikus itu harus jatuh beberapa kali dari meja komputer. Suami, bahkan sempat berkomentar,
“Apa mejanya kurang lebar?”
Ah, dia hanya bercanda. Tak mengapa, aku pun tak malu untuk belajar.
Era digital terus berjalan. Muncullah beragam fitur komunikasi. Serasa menjadikan dunia semakin mengecil. Sejalan dengan fasilitas dan fitur di komputer yang menyajikan aneka kemudahan, terlebih dengan munculnya aneka macam aplikasi. Akses berkomunikasi menjadi lebih gampang. Muncullah facebook, blog, email, telegram, watts app, instagram, twiter dan semacamnya.
Era Jadul telah usai. Tergantikan oleh Zaman Now. Sosok yang kucari untuk menjadi guru dalam kepenulisan pun begitu dekat. Mereka ada di grup-grup kepenulisan semacam yang ada FB, telegram juga WA. Baik yang gratis maupun yang berbayar. Siapa pun bisa memasuki grup ini dengan mudah.
KBM, Komunitas Bisa Menulis, sebuah grup kepenulisan yang ada di facebook menjawab harapanku. Di Grup itu, aku bergabungnya termasuk belakangan. Awalnya aku hanya berani menyimak perbincangan di grup asuhan Isa Alamsyah itu. Namun akhirnya kuberanikan diri publish tulisan. Harapan untuk dapat komentar rupanya masih berada di awang awang waktu itu. Tak ada yang komen terhadap tulisanku. Hingga akhirnya aku menjadi faham bagaimana sebuah tulisan bisa diberikan kritik, saran dan masukan.
Kritik dan saran pun berjatuhan. Kadang begitu pedas. Tapi tak mengapa. Itu semua memoles tulisanku menjadi lebih bernas, lugas dan enteng dibacanya. Aku suka.
Progres terus berjalan, kutemukan banyak ilmu yang bisa didapat dari grup ini. Mulai dari menulis, sharing karya, even lomba hingga terbukanya pada link publishing. Tak terhingga manfaatnya, merasa beruntung masuk di grup semacam ini.
Hidup di zaman Now tak ada alasan untuk tidak ikut giat literasi. Seorang guru kepenulisan berkali menyampaikan kalau untuk menjadi penulis itu, tak harus punya bakat kepenulisan. Asalkan mau berlatih dan membuat karya tulis, maka anda akan sukses menjadi seorang penulis.
Menulis dan terus menulis. Karena dengan menulis ilmu diikat. Seluas apa pun ilmu yang diserap, sebanyak apa pun kepelatian yang anda ikuti, karya itu akan mewujud hanya dengan menulis. Menulis dan menulislah!
(Part ke 2 dari 2-selesai)
AAKM-5
Direpro dari artikel penulis yang tayang di gurusiana.id



1 komentar