Jejak Haji: Panggilan Tak Pernah Usai
Catatan Thamrin Dahlan
Tahun 1994 menjadi titik awal perjalanan spiritual yang tak terlupakan. Bukan sekadar sebagai jamaah, tetapi sebagai Petugas Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), saya mendapat kehormatan mengawal para tamu Allah menuju Tanah Suci.
Di tengah lautan manusia yang thawaf mengelilingi Ka’bah, ada satu momen yang tak pernah hilang dari ingatan—Tawaf Wada’, perpisahan yang menggetarkan jiwa. Doa dipanjatkan dengan penuh harap, lirih namun dalam: “Ya Allah, panggil kami kembali ke rumah-Mu…”
Dan sungguh, Allah Maha Mendengar.
Kerinduan itu tidak dibiarkan menggantung.
Tahun 1998 dan 2003, panggilan itu kembali datang. Kesempatan menunaikan ibadah haji kembali terwujud—sebuah nikmat yang tak terukur, bukti bahwa perjalanan ke Tanah Suci bukan semata karena kemampuan, tetapi karena undangan Allah SWT.
Belum berhenti di situ, langkah kaki ini kembali diarahkan menuju Baitullah melalui ibadah umrah pada tahun 2017, 2022, dan 2025. Setiap perjalanan membawa rasa yang berbeda, namun satu yang sama: kedekatan yang semakin dalam dengan Sang Pencipta.
Sesungguhnya, ibadah haji dan umrah bukanlah sekadar perjalanan fisik.
Ia adalah perjalanan jiwa. Perjalanan hati. Perjalanan menuju keikhlasan yang sejati. Tidak semua yang mampu akan berangkat, dan tidak semua yang berangkat karena mampu. Semua adalah pilihan dan kehendak Allah.
Karena itu, jangan pernah ragu untuk berniat. Jangan menunda jika sudah dipanggil. Persiapkan diri—bukan hanya materi, tetapi juga hati yang bersih dan niat yang lurus.
Haji bukan hanya tentang pergi…
Tetapi tentang kembali—
Kembali dengan hati yang lebih tenang,
Kembali dengan jiwa yang lebih bersih,
Kembali sebagai pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT.
Ya Allah…
Panggillah kami ke rumah-Mu,
Sebagaimana Engkau telah memanggil hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.









