Mantan Pecandu Narkoba
Siapa Tahu di Antara Mereka Ada yang Jadi “Orang”
Ayo Selamatkan Generasi Muda dari Dampak Buruk Narkoba
Thamrin Dahlan
Tahun 2007 menjadi titik balik penting dalam perjalanan pengabdian saya. Melalui Surat Perintah Kapolri, saya ditugaskan ke Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai Kepala Satuan Tugas Terapi Rehabilitasi (Ka Satgas TR). Penugasan ini menjadi tantangan terbesar selama saya berkarier di Polri, karena langsung bersentuhan dengan persoalan kemanusiaan yang sangat kompleks: penyalahgunaan narkoba.
Saat itu, Kepala BNN Komjen Pol Drs. Made Mangku Pastika memerintahkan saya untuk “mengisi” Pusat Rehabilitasi Narkoba di Lido, Sukabumi. Kata “mengisi” saya maknai sebagai tugas besar: menghadirkan para korban penyalahgunaan narkoba agar bersedia direhabilitasi.
Namun kenyataannya tidak mudah. Meski fasilitas rehabilitasi disediakan secara gratis, sangat sedikit pecandu yang datang dengan kesadaran sendiri. Banyak dari mereka terjebak dalam ketakutan, stigma, dan keterasingan.
Seiring perubahan kepemimpinan di BNN kepada Komjen Pol Gories Mere, dilakukan evaluasi organisasi. Satgas Terapi Rehabilitasi kemudian diubah menjadi Satgas Jangkau dan Dampingi (Satgas JD)—sebuah pendekatan yang lebih aktif dan operasional: menjemput, bukan menunggu.
Data yang kami hadapi sungguh mengguncang. Penelitian BNN bersama Universitas Indonesia tahun 2008 mencatat, sekitar 40 orang meninggal setiap hari akibat penyalahgunaan narkoba. Mereka pergi dalam usia muda—sia-sia, sunyi, dan sering tanpa pertolongan.
Fakta di lapangan bahkan lebih menyayat. Seorang pemuda dari Pekanbaru pernah bercerita, dari lingkar pergaulannya, lebih dari 20 orang telah meninggal dunia. Penyebabnya satu: tidak tersentuh layanan rehabilitasi.
Di sinilah peran konselor menjadi sangat penting. Mereka terdiri dari dua kelompok: petugas BNN dan para relawan—mantan pengguna narkoba yang telah pulih. Justru dari merekalah pendekatan kemanusiaan menemukan kekuatannya. Mereka memahami, karena pernah berada di titik gelap yang sama.
Namun tantangan terbesar bukan hanya pada korban, melainkan pada lingkungan. Stigma masyarakat menjadi tembok tebal. Pecandu dianggap kriminal. Keluarga merasa malu. Akibatnya, banyak korban disembunyikan, bukan diselamatkan.
Padahal waktu tidak pernah menunggu. Tanpa rehabilitasi, kondisi fisik dan mental mereka terus menurun—hingga akhirnya kematian menjadi ujung jalan.
Karena itu Satgas JD bergerak proaktif. Kami mendatangi, membujuk, bahkan dalam kondisi tertentu harus bertindak tegas—semata demi satu tujuan: menyelamatkan nyawa manusia.
Salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika seorang pemuda datang sendiri ke kantor BNN di Cawang. Dengan wajah lelah, ia berkata, “Saya capek hidup dengan narkoba. Saya ingin sembuh.” Ia datang bukan karena ditangkap, tetapi karena ingin hidup.
Momen seperti itu menjadi energi luar biasa bagi kami.
Setiap akhir tahun, para konselor dari seluruh Indonesia berkumpul di Lido. Mereka bertemu kembali dengan para mantan pecandu yang pernah mereka jangkau. Suasana haru tak terhindarkan—melihat perubahan, melihat harapan hidup kembali.
BNN juga membekali mereka dengan keterampilan, agar setelah sembuh mereka mampu kembali ke masyarakat dengan percaya diri dan mandiri.
Selama lebih dari tiga tahun, Satgas JD berhasil menyelamatkan sekitar 500 orang generasi muda dari jerat narkoba. Mungkin angka itu kecil dibanding jutaan pengguna di luar sana, namun bagi kami—satu nyawa yang terselamatkan adalah kemenangan besar.
Program ini kemudian diperkuat dengan kebijakan nasional: pengguna narkoba wajib direhabilitasi, bukan dipenjara. Sebuah langkah maju dalam pendekatan yang lebih manusiawi.
Perjalanan organisasi terus berkembang. Satgas JD dilebur menjadi Direktorat Pasca Rehabilitasi, dan di penghujung masa tugas, saya diberi amanah memimpin pada level tersebut.
Setelah pensiun tahun 2010, saya masih menjalin komunikasi dengan beberapa alumni rehabilitasi. Mereka kini hidup normal, bahkan ada yang telah berkeluarga. Lebih membahagiakan lagi, sebagian dari mereka menjadi konselor—menolong sesama yang masih terjerat.
Di sanalah saya menemukan makna terdalam dari pengabdian ini.
Bahwa dari mereka yang pernah terjatuh, bisa lahir harapan.
Bahwa dari yang dianggap “hilang”, bisa tumbuh masa depan.
Siapa tahu… di antara mereka ada yang kelak menjadi “orang”.
Pantun Refleksi
Pergi ke hutan mencari rotan,
Rotan dirajut jadi anyaman.
Selamatkan satu insan dari kehancuran,
Sama nilainya menyelamatkan kehidupan.










