(Tip Ibadah Haji) Bawalah Sabar Sebanyak Bulu di Badan
Catatan Thamrin Dahlan
Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariika lak…
“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu.”
Kalimat talbiyah itu bukan sekadar lantunan lisan. Ia adalah panggilan jiwa. Panggilan untuk datang, berserah, dan kembali menjadi hamba yang utuh di hadapan Allah SWT.
Sabar, sabar, dan sabar…
Itulah petuah Ayahanda Haji Dahlab bin Affan dan Ibunda Hj. Kamsiah binti Sutan Mahmud ketika ananda mohon doa restu akan berangkat menunaikan Ibadah Haji tahun 1994.
Pesan Mak dan Bapak yang telah menunaikann ibadah haji 1982
Tidak cukup sepuluh kali sabar, tetapi lebih banyak dari itu. Ananda harus banyak bersabar dalam setiap gerakan tugas melayani Jamaah dan siapa saja yang memerlukan bantuan. Luruskan niat semata mengharap Redha Allah SWT.
“Bawalah sabar sebanyak bulu di badan.”
Sebuah ungkapan sederhana, namun sarat makna. Karena di Tanah Suci, kesabaran bukan sekadar sikap—ia adalah kebutuhan. Dengan bekal sabar yang berlimpah, insyaAllah hati tetap tenang, tidak mudah panik, dan mampu menghadapi berbagai ujian selama menjalankan ibadah.
Sabar sejatinya adalah bunga dari taqwa. Dan taqwa adalah bekal utama menuju Baitullah.
Allah SWT berfirman:
“…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa…”
(QS. Al-Baqarah: 197)
Dari taqwa lahirlah kesabaran sejati. Sebuah keyakinan bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak Allah SWT. Tugas kita hanyalah menyikapi dengan ikhlas dan penuh keimanan.
Empat puluh hari di Tanah Suci, bagi sebagian orang terasa panjang. Namun bagi yang menjalaninya dengan hati yang hadir, itulah hari-hari terindah dalam perjalanan hidup.
Alhamdulillah, saat itu saya diberi amanah sebagai petugas Tanaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) 1994. Kami bertiga petugas medis mendampingi / melayani satu kelompok terbang berjumlah 450 jamaah. Saudaraku datang dari latar belakang yang beragam—ada yang muda dan kuat, ada pula yang lanjut usia dan perlu dipapah.
Di situlah pelajaran sabar mulai diuji.
Sejak di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, ujian pertama kesabaran telah hadir. Jamaah diminta melaporkan obat-obatan yang dibawa. Sebagian memahami, sebagian lagi belum mengerti pentingnya informasi tersebut.
Padahal, bagi petugas kesehatan, data itu sangat penting—terutama untuk jamaah dengan penyakit kronis yang masuk kategori Risiko Tinggi (RT).
Di sinilah sabar pertama digunakan.
Menghadapi pertanyaan berulang, kebingungan jamaah, bahkan keluhan—semuanya dilayani dengan senyum.
Karena melayani jamaah haji bukan sekadar tugas… tetapi ibadah.
Perjalanan sembilan jam di udara dari Bandara Kemayoran Jakarta ke Bandara Jeddah menjadi ujian berikutnya. Ada yang mual, muntah, pusing, hingga tidak nafsu makan.
Tas obat selalu melekat. Kaki terus melangkah menyusuri lorong pesawat. Walau lelah, pelayanan tidak boleh berhenti.
Sabar kedua terpakai.
Setibanya di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, ujian kembali hadir. Banyak jamaah kebingungan menghadapi proses imigrasi.
Bahasa menjadi kendala.
Dokumen sering tertukar.
Kecemasan mulai terlihat.
Namun di situlah keindahan itu muncul…
Dengan kesabaran, semua bisa dilalui.
Dengan ketulusan, semua terasa ringan.
Sesungguhnya, perjalanan ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik.
Ia adalah perjalanan jiwa.
Ujian kesabaran terus hadir—di pemondokan, di Masjid Nabawi Madinah, Masjidil Haram, Wukuf di Arafah, Muzdalifah, hingga Mina. Sampai kembali ke tanah air.
Namun justru di sanalah letak kemuliaannya.

Petugas Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) 1994
Haji adalah panggilan. Tidak semua orang mendapatkannya.
Namun setiap yang dipanggil, harus mempersiapkan diri.
Bukan hanya biaya… tetapi juga taqwa dan kesabaran.
Mari luruskan niat…
Mari bersihkan hati…
Mari siapkan diri memenuhi panggilan Ilahi.
Karena ketika hati telah terpanggil, maka lisan akan bergetar: Sabar dilandasi sikap tulus ikhlas melaksanakan tugas. Semua tugas TKHI menjadi lebih mudah ketika ada rasa syukur diberangkatkan Ibadah Haji oleh Mabes Polri.
Alhamdulillah pelaksanaan Tugas TKHI berlangsung dengan lancar dan penuh keberkahan. Atas Redha Allah SWT dan Selalu bershalawat Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Allauma Syali ala Syaidina Muhammad Wa ala ali Syaidina Muhammad.
Sesungguhnya Rukun Islam ke – 5 Wajib Ibadah Haji ketika mampu. Ternyata Allah SWT yang memampukan siap[a saja berangkat Ibadah ke Tanah Suci Makkah Madinah.
Bersyukur saya diperjalankan Ibadah Haji lagi tahun 1998 sebagai Ketua Rombongan mendampingi jamaah Mabes Polri. Kemudian tahun 2013 bersama Istri. Subhanallah. Umroh 2017, 2022 dan 2025. Semua diperjalankan dimampukan atas biaya keberkahan kesabaran. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.
Labbaik Allahumma Labbaik…
BHP, 10 Dzulka’dah 1447 H
Thamrin Dahlan










1 komentar