Stamina Literasi Sesama Dahlan

Literasi, Terbaru, YPTD24 Dilihat

Sore menjelang malam itu saya tersenyum membaca pesan Pak Mario yang mengingatkan soal komentar di sdisway.id. Beberapa hari terakhir memang saya lebih banyak wara-wiri Jakarta–Palembang. Rasanya seperti pegawai kereta api tanpa seragam: naik turun bandara, berpindah ruang tunggu, lalu sibuk menghitung waktu boarding sambil mencari colokan telepon genggam. Akibatnya, beberapa tulisan di portal Disway dan dismorning milik Dahlan Iskan terlewat untuk dibaca, apalagi dikomentari.

Padahal, sebagai Perusuh senior, absen komentar itu bisa menimbulkan rasa bersalah kecil di hati. Ibarat jamaah pengajian yang datang terlambat, duduknya sudah di saf paling belakang sambil tersenyum canggung. Saya pun mulai menyadari satu kenyataan: dalam urusan konsistensi menulis, saya harus mengakui keunggulan Abah Dahlan Iskan. Beliau seakan memiliki tenaga cadangan tersembunyi yang tidak habis dimakan usia.

Lucunya, kalau dihitung-hitung, beda umur kami hanya setahun. Sama-sama “Dahlan”, sama-sama sudah masuk wilayah lansia, tetapi stamina literasi Abah seperti mesin diesel kapal Pelni: terus hidup walau ombak datang silih berganti. Sementara saya, baru dua kali perjalanan Jakarta–Palembang saja sudah mulai mencari minyak angin dan kopi hangat. Rupanya lomba lari literasi tidak cukup hanya modal nama belakang “Dahlan”.

Namun begitulah hidup lansia. Kita akhirnya belajar berdamai dengan keadaan. Kalau dulu ingin menang cepat, sekarang cukup bersyukur masih mampu ikut berlari. Maka saya pun kembali mengisi “Absen Perusuh” walau agak terlambat. Topiknya pun campur sari khas Disway: dari rujak, judul Ambon Manise yang sempat terlewat, hingga komentar ringan yang kadang lebih pedas daripada sambal empek-empek Palembang.

Anjuran Abah kepada para Perusuh agar tetap memantau berita Hari Kebangkitan Nasional juga saya ikuti. Apalagi suasana nasional sedang ramai membicarakan pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai kebijakan ekonomi dan APBN 2027 di Gedung DPR RI. Sebagai rakyat biasa sekaligus pembaca setia berita, tentu harapan kita sederhana: semoga arah ekonomi negeri ini benar-benar membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas, bukan sekadar angka-angka indah di layar presentasi.

Di usia senja seperti sekarang, perhatian kepada bangsa terasa berbeda. Dulu mungkin kita sibuk mengejar karier dan jabatan. Kini yang lebih penting adalah melihat Indonesia tetap teduh untuk anak cucu. Karena itu, membaca berita lalu menuliskan komentar kecil di Disway bukan sekadar rutinitas. Ada rasa ikut memiliki negeri ini, walau kontribusinya hanya lewat beberapa paragraf dan tanda jempol di kolom komentar.

Akhirnya saya hanya bisa tersenyum sambil mengirim salam kepada Pak Mario, sahabat Perusuh nan setia dan elok hati. Terima kasih sudah mengingatkan. Kalau nanti saya kembali tertinggal membaca tulisan Disway, mohon dimaklumi. Maklum, lansia itu sekarang bukan lagi soal siapa paling cepat berlari, melainkan siapa yang tetap setia berjalan sambil menjaga semangat literasi sampai garis akhir kehidupan.

  • Salamsalaman Literasi
  • BHP, 21 Mei 2026
  • Thamrin Dahlan.

Tinggalkan Balasan