Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama

Terbaru3 Dilihat

 

Nyaman, Mundur Terhormat, dan Kemerdekaan Berkarya

Banyak alasan seseorang memilih mundur dari sebuah jabatan. Salah satunya adalah karena sudah tidak lagi merasa nyaman berkarya akibat tekanan yang datang dari berbagai arah. Tentu itu hanya satu dari sekian banyak penyebab. Ada pula yang mundur karena faktor kesehatan, kelelahan fisik dan batin, pertimbangan keluarga, atau alasan pribadi lainnya. Apa pun alasannya, satu hal yang patut dijunjung adalah bahwa mengundurkan diri secara terhormat jauh lebih bermartabat daripada harus diberhentikan atau dipaksa mundur oleh keadaan.

Lalu, apakah kenyamanan identik dengan zona nyaman? Belum tentu. Justru seorang negarawan sejati adalah pribadi yang berani meninggalkan zona nyaman demi cita-cita yang lebih besar. Jabatan boleh bergengsi, terhormat, bergaji besar, dan dilengkapi berbagai fasilitas, tetapi semua itu tidak selalu menjadi tujuan akhir kehidupan. Ada saatnya seseorang merasa tugasnya telah selesai, lalu memilih jalan baru yang lebih bermakna bagi masyarakat.

Indonesia memiliki tokoh-tokoh yang pernah mengambil keputusan demikian. Setelah menuntaskan pengabdian di institusi, mereka memilih hidup lebih sederhana, lebih merdeka, dan lebih leluasa menyampaikan pikiran. Mereka bebas berkelana, berbagi pengalaman, memberi nasihat, dan menulis. Mungkin tidak semua nasihat diterima, bahkan ada yang diabaikan. Namun, keikhlasan berbagi ilmu tanpa pamrih merupakan kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan jabatan ataupun materi.

Salah satu jalan paling moderat untuk terus mengabdi adalah melalui literasi. Menulis, membaca, berdiskusi, dan menerbitkan buku adalah bentuk sedekah ilmu yang manfaatnya dapat melintasi ruang dan waktu. Jabatan memiliki masa bakti, sedangkan karya tulis dapat terus hidup, dibaca, dan menginspirasi generasi berikutnya. Itulah sebabnya banyak tokoh memilih pena daripada kekuasaan ketika memasuki babak baru kehidupannya.

Di sisi lain, jabatan dalam sebuah institusi, terutama yang sarat birokrasi, sering kali menghadapi tantangan menjaga independensi. Banyak aturan memang diperlukan untuk menciptakan tata kelola yang baik. Namun, ketika intervensi yang tidak semestinya semakin banyak, ruang untuk berkarya secara profesional menjadi semakin sempit. Energi yang seharusnya digunakan untuk menghasilkan karya terbaik justru habis menghadapi persoalan-persoalan administratif dan kepentingan yang saling bertabrakan.

Berbeda halnya dengan usaha yang dibangun sendiri. Pemilik memiliki keleluasaan menentukan arah, inovasi, dan strategi, selama tetap mematuhi hukum dan etika. Kreativitas tumbuh lebih subur ketika keputusan dapat diambil secara mandiri. Karena itu, tidak sedikit orang yang setelah pensiun atau mengundurkan diri memilih membangun lembaga, usaha, yayasan, atau komunitas yang memungkinkan mereka tetap berkarya secara independen.

Ada ungkapan menarik yang sering muncul dalam berbagai diskusi publik, termasuk di media seperti Disway, bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alamnya, melainkan oleh kokohnya institusi yang profesional, transparan, dan bebas dari intervensi yang tidak semestinya. Ketika lembaga-lembaga negara diberi ruang untuk bekerja secara independen sesuai amanat hukum, kepercayaan publik akan tumbuh dan pembangunan menjadi lebih efektif. Bagi Indonesia, refleksi semacam ini penting agar setiap lembaga mampu menjalankan fungsinya secara profesional demi kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

Pantun Literasi

Pagi hari menanam serai,
Harumnya semerbak hingga ke taman.
Jabatan boleh silih berganti,
Karya abadi sepanjang zaman.

Burung merpati terbang beriring,
Hinggap sebentar di dahan jati.
Lebih mulia mundur dengan bening,
Daripada bertahan kehilangan harga diri.

Peribahasa Melayu yang sesuai:

“Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”

Maknanya, yang akan dikenang bukanlah lamanya seseorang menduduki jabatan, melainkan nama baik, integritas, dan karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat. Jabatan bersifat sementara, sedangkan manfaat ilmu dan keteladanan dapat hidup jauh lebih lama.

Tinggalkan Balasan