Harta Tidak Dibawa Mati, Budi Baik Dikenang Jua

Peribahasa Melayu:
“Harta Tidak Dibawa Mati, Budi Baik Dikenang Jua.”
Peribahasa Melayu ini mengingatkan bahwa harta hanyalah titipan Allah SWT. Sebanyak apa pun kekayaan yang dikumpulkan selama hidup, semuanya akan ditinggalkan ketika ajal menjemput. Yang tetap hidup dalam ingatan manusia adalah budi pekerti, kejujuran, keikhlasan, dan amal kebajikan yang pernah dilakukan. Itulah warisan yang tidak lekang oleh waktu dan tidak akan habis dimakan zaman.
Tulisan Bawah Bantal membawa kita bernostalgia ke masa ketika masyarakat hidup sederhana namun tenteram. Emak di kampung Tempino, Jambi, menyimpan emas beberapa suku dan sejumlah uang di bawah bantal. Nilainya mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan ukuran zaman sekarang, tetapi di balik kesederhanaan itu tersimpan rasa syukur, kejujuran, dan ketenteraman hidup. Rumah-rumah tidak selalu dikunci, hubungan bertetangga penuh kepercayaan, dan masyarakat bekerja dengan mengandalkan sawah serta kebun sebagai sumber rezeki yang halal.
Al-Qur’an telah mengingatkan manusia agar tidak terlena oleh gemerlap dunia. Allah SWT berfirman:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.”
(QS. Al-Kahfi: 46)
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, melainkan dari amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas. Harta hanyalah perhiasan, sedangkan amal kebajikan menjadi bekal menuju kehidupan yang kekal.
Rasulullah SAW juga memberikan nasihat yang sangat dalam maknanya:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa tidak satu keping emas ataupun setumpuk uang dapat menemani seseorang ke alam kubur. Yang terus mengalir adalah manfaat yang ditinggalkan bagi sesama. Karena itu, orang bijaksana tidak hanya sibuk mengumpulkan harta, tetapi juga berlomba meninggalkan jejak kebaikan.
Fenomena kehidupan masa kini sering memperlihatkan betapa manusia rela mempertaruhkan kehormatan demi mengejar kekayaan. Padahal sejarah mengajarkan bahwa nama baik jauh lebih mahal daripada harta benda. Kekayaan dapat berpindah tangan, jabatan dapat berakhir, tetapi budi pekerti akan terus dikenang oleh keluarga, sahabat, dan masyarakat. Itulah sebabnya orang tua dahulu lebih sering mewariskan nasihat daripada kemewahan.
Semangat inilah yang hendak diwariskan melalui Serial 100 Peribahasa Melayu. Setiap peribahasa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan pelita kehidupan yang menuntun manusia agar mampu menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Kekayaan yang paling mulia adalah hati yang bersih, rezeki yang halal, dan kesediaan berbagi kepada sesama. Dengan demikian, ketika ajal tiba, yang mengiringi bukanlah tumpukan harta, melainkan doa, kenangan indah, dan amal kebajikan yang terus mengalir.
Pantun Syiar
Pagi hari memetik melati,
Harumnya semerbak sampai ke taman.
Harta habis tinggal berarti,
Budi dikenang sepanjang zaman.
Burung merpati terbang berdua,
Hinggap sebentar di ranting jati.
Harta dunia tak ikut ke kubur jua,
Amal dan takwa bekal sejati.
Salam Literasi
“Menulis adalah sedekah ilmu. Menerbitkan buku adalah mewariskan amal jariyah. Semoga setiap lembar yang dibaca menjadi saksi bahwa budi baik lebih abadi daripada harta yang ditinggalkan.”
- Thamrin Dahlan
Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) - BHPm 12 Juli 2026









