Menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri

xr:d:DAFLviKrBng:114,j:35727079148,t:22091913

Peribahasa “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri” mengandung makna bahwa perbuatan buruk yang dilakukan seseorang pada akhirnya akan berbalik merugikan dirinya sendiri. Ungkapan ini mengajarkan bahwa setiap tindakan, terutama yang berniat menjatuhkan orang lain, sejatinya membawa konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Dalam kehidupan bermasyarakat, peribahasa ini sering terlihat dalam bentuk fitnah, iri hati, atau usaha menjatuhkan reputasi orang lain.

Dari sudut pandang moral, peribahasa ini bisa mencerminkan kesalahan yang bersumber dari kurangnya kehati-hatian dan kebijaksanaan. Seseorang mungkin tergesa-gesa berbicara atau bertindak tanpa mempertimbangkan dampaknya. Dalam kondisi seperti ini, kesalahan bukan semata-mata karena niat jahat, tetapi juga karena lemahnya kontrol diri dan kurangnya pemahaman terhadap akibat jangka panjang.

Namun demikian, tidak semua peristiwa yang mencerminkan peribahasa ini terjadi karena ketidaksengajaan. Ada pula yang disebabkan oleh karakter seseorang, seperti sifat dengki, sombong, atau keinginan untuk selalu merasa lebih unggul dari orang lain. Karakter seperti ini mendorong individu untuk melakukan tindakan yang merugikan orang lain, tanpa menyadari bahwa dampaknya akan kembali kepada dirinya sendiri dalam bentuk kehilangan kepercayaan, reputasi, atau bahkan kehormatan.

Dalam beberapa situasi, tindakan tersebut juga bisa terjadi karena keterpaksaan. Misalnya, seseorang yang berada dalam tekanan lingkungan atau sistem tertentu mungkin terpaksa melakukan sesuatu yang tidak benar demi mempertahankan posisinya. Akan tetapi, meskipun ada unsur keterpaksaan, tanggung jawab moral tetap melekat pada individu tersebut. Hasil akhirnya tetap sama: perbuatan yang tidak benar akan membawa dampak buruk bagi pelakunya.

Dalam perspektif ajaran Islam, konsep ini sejalan dengan prinsip keadilan Ilahi. Dalam  disebutkan bahwa setiap perbuatan manusia, sekecil apa pun, akan mendapatkan balasan yang setimpal. Salah satu ayat menyatakan bahwa barang siapa berbuat kebaikan sebesar zarrah akan melihat balasannya, dan barang siapa berbuat kejahatan sebesar zarrah pun akan melihat balasannya. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada perbuatan yang sia-sia, termasuk perbuatan buruk yang akan kembali kepada pelakunya.

Selain itu, dalam ajaran  juga ditegaskan bahwa seorang mukmin tidak boleh membahayakan orang lain, baik dengan lisan maupun perbuatannya. Rasulullah mengingatkan bahwa orang yang menyakiti orang lain pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban, bahkan kebaikannya bisa berpindah kepada orang yang dizalimi. Ini menunjukkan bahwa perbuatan yang merugikan orang lain sejatinya adalah kerugian bagi diri sendiri.

Oleh karena itu, peribahasa ini menjadi nasihat penting agar setiap individu menjaga niat, ucapan, dan tindakan. Baik kesalahan karena ketidaktahuan, keterpaksaan, maupun karakter buruk, semuanya dapat dihindari dengan memperkuat akhlak, meningkatkan kesadaran diri, serta mendekatkan diri kepada nilai-nilai agama. Dengan demikian, seseorang tidak hanya terhindar dari kerugian diri sendiri, tetapi juga mampu menciptakan kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan penuh kebaikan.

 

  • Salam Literasi
  • BHP 14 Juli 2026
  • Thamrin Dahlan

Tinggalkan Balasan