BUNDO KANDUANG, TEMPAT BERNAUNG

Generasi Ketiga Kaum Peto Kayo

Terbaru, YPTD21 Dilihat

BUNDO KANDUANG, TEMPAT BERNAUNG

Generasi Ketiga Kaum Peto Kayo

Di ranah Minangkabau, perempuan bukan sekadar penghias rumah gadang. Ia adalah tiang tempat kaum bersandar, tempat anak kemenakan pulang membawa suka dan duka. Dialah Bundo Kanduang—perempuan yang bukan hanya melahirkan keturunan, tetapi juga memelihara marwah, menjaga pusako, dan merawat tali darah agar tidak putus dimakan zaman.

Rumah Gadang Bagonjong bukan sekadar tempat tinggal. Di sanalah sanak bersua, mufakat dirajut, suka cita dirayakan, duka cita dipikul bersama. Bila hati sedang lapang, rumah gadang menjadi tempat bersenda gurau. Bila hidup terasa berat, di sanalah anak kemenakan datang mengadu. Ada kehangatan di dalamnya, ada nasihat yang turun dari generasi ke generasi.

Dalam ranji kaum Peto Kayo, dari Lintau Ikua Labuh, Lubuk Jantan, Batusangkar, Sumatera Barat, lahirlah perempuan-perempuan yang memikul amanah itu. Hajjah Husna Dahlan, SH, kemudian didaulat menjadi Bundo Kanduang generasi ketiga. Amanah tersebut bukan perkara kecil. Ia adalah tanggung jawab menjaga hubungan kekerabatan, tempat anak kemenakan bertanya, sekaligus tempat mereka mencari perlindungan.

Dalam adat Minangkabau, garis keturunan ditarik melalui pihak ibu. Itulah salah satu keunikan sistem matrilineal Minangkabau. Namun, keutamaan perempuan bukan berarti kaum lelaki kehilangan peran. Mamak tetap menjadi pemimpin bagi anak kemenakan, sementara Bundo Kanduang menjadi pusat kasih sayang, kebijaksanaan, dan penjaga rumah kaum.

SI BUYUNG PERGI MERANTAU

Anak lelaki Minang sejak kecil sudah mengenal arti kemandirian. Dahulu, ketika malam turun dan azan Magrib berkumandang, si buyung berangkat ke surau. Di sana ia belajar mengaji, belajar adat, belajar sopan santun, sekaligus belajar memahami dunia.

Surau bukan sekadar tempat sembahyang. Surau adalah sekolah kehidupan. Di sanalah anak-anak lelaki Minang ditempa. Mereka tidur beralaskan tikar, berbagi makanan dengan kawan sebaya, mendengar petuah orang tua, dan perlahan belajar bahwa hidup tidak selamanya bergantung kepada rumah orang tua.

Maka tidak mengherankan bila hati lelaki Minang akrab dengan kata rantau. Ada ungkapan yang terus hidup dalam darah perantau:

“Tinggalkan rumah karano dek sayang,
tinggalkan kampuang karano masa depan.”

Pergilah ke rantau untuk menuntut ilmu. Pergilah untuk berniaga. Pergilah untuk mencari pengalaman. Namun jangan pernah lupa jalan pulang. Sebab sejauh-jauh kaki melangkah, kampung halaman tetap tempat hati berlabuh.

Pesan orang tua kepada si buyung pun sederhana tetapi dalam maknanya: “Cari sanak saudaro di nagari urang, namun nan partamo dapekkan induak samang talabiah dahulu.”

Begitulah Minangkabau mengajarkan merantau. Pergi membawa harga diri, pulang membawa pengalaman.

SI UPIK DAN TUNGKAI NAN LEMAH

Untuk si upik, ceritanya berbeda. Sejak kecil anak perempuan Minang diajarkan menjadi perempuan yang cekatan. Belajar mengurus rumah, memasak, menjahit, merawat keluarga, dan menjaga kehormatan diri.

Memasak pun bukan sekadar perkara mengisi perut. Rendang, gulai, kalio, gulai kepala ikan dan aneka masakan Minang adalah bagian dari kebudayaan. Dari dapur yang mengepul, kasih sayang ditanak perlahan. Dari hidangan di atas meja, keluarga dipertautkan.

Namun, perempuan Minang tidak cukup hanya pandai memasak. Ia harus cerdas. Pendidikan agama dan pendidikan umum sama pentingnya. Sebab kelak ia akan menjadi ibu, menjadi pendidik anak-anaknya, sekaligus menjadi salah satu penjaga marwah keluarga.

Begitulah prinsip yang dipegang almarhumah Ibunda Hj. Kamsiah binti Sutan Mahmud. Beliau adalah Bundo Kanduang generasi kedua, setelah nenek Fatimah Jaudah sebagai Bundo Kanduang generasi pertama.

“Mamak”—begitu kami memanggil beliau—menyekolahkan tujuh orang anaknya. Tidak mudah. Tetapi Mamak percaya bahwa pendidikan adalah bekal yang tidak akan habis dimakan zaman.

Ada satu kisah tentang Uni Husna yang tidak pernah hilang dari ingatan.

Ketika masih balita, Husna belum juga dapat berjalan. Tungkainya lemah lunglai. Mamak menggendongnya ke sana kemari untuk berobat. Ada orang kampung yang berkata, “Sudahlah, terima saja takdir. Biarkan anak itu begitu.”

Bahkan ada pula yang berusaha menghibur dengan kata-kata yang justru menusuk hati:

“Padiahkanlah si Upik nantun. Inyo ka baguna juo untuak mausir ayam jo buruang nan makan padi di laman.”

Pedih benar mendengarnya.

Namun Mamak tidak menyerah.

Dengan doa yang tidak putus dan ikhtiar yang tidak mengenal lelah, Husna terus digendong, terus dibawa berobat. Allah ternyata punya rencana yang lebih indah.

Perlahan tungkai yang dahulu lemah mulai kuat. Husna akhirnya dapat berdiri. Kemudian berjalan. Lalu berlari kecil. Sekolah. Kuliah. Menjadi perempuan terdidik.

Dari seorang anak yang dahulu dianggap tidak akan banyak berguna, kelak ia menjadi Bundo Kanduang tempat anak kemenakan bernaung.

MAMAK, SOKOGURU EKONOMI KELUARGA

Ayahanda Haji Dahlan bin Affan adalah seorang pegawai kecil di perusahaan minyak di Tempino, Jambi. Sementara Mamak mengambil peran lain. Beliau berniaga, berkeliling kampung menjajakan kebutuhan sembako.

Tidak banyak yang beliau miliki, tetapi besar sekali cita-citanya untuk anak-anak.

Dalam surat-surat yang dikirim kepada anak-anak di perantauan, selalu ada pesan yang sama:

“Kalian harus sekolah tinggi. Dengan kepintaran itulah kehidupan akan lebih mudah.”

Kalimat sederhana itu menjadi falsafah keluarga.

Mamak bukan saudagar besar. Namun di tengah keluarga dan masyarakat, beliau menjadi sokoguru ekonomi. Bila ada sanak saudara kesulitan, beliau membantu. Bila ada anak tetangga yang tidak mampu membayar sekolah, beliau ikut memikirkan. Bila ada orang datang membawa kesusahan, pintu rumah tidak pernah tertutup.

Begitulah kekayaan Mamak. Bukan hanya uang dan harta benda, tetapi kemampuan menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Sementara Ayahanda Haji Dahlan menjalankan perannya sebagai ulama di Tempino Jambi, Mamak menguatkan ekonomi keluarga. Keduanya seperti dua tiang rumah: berbeda fungsi, tetapi sama-sama menopang kehidupan.

Mamak wafat pada tahun 2004 di Bogor.

Namun kematian tidak pernah memutus amanah.

Amanah itu berpindah kepada anak perempuan tertua.

BUNDO KANDUANG GENERASI KETIGA

Maka tampillah Uni Husna, atau yang kami panggil Uni Ina, sebagai Bundo Kanduang generasi ketiga kaum Peto Kayo.

Perjalanan hidupnya pun panjang.

Alumni Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya ini pernah menjadi dosen di Unsri. Kemudian diterima sebagai anggota Polri dan bertugas di Polwil Jambi.

Tetapi hati kecilnya ingin terus belajar.

Ia kemudian hijrah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan kenotariatan. Kuliah diselesaikan sambil berdinas di Dinas Hukum Mabes Polri.

Ketika akhirnya memilih profesi Notaris, ia mengambil keputusan besar: meninggalkan status sebagai anggota Polwan melalui pensiun dini. Tekad sudah bulat. Jalan sudah dipilih.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan memenuhi persyaratan, profesinya berubah.

Dari seragam Polwan menjadi pakaian seorang Notaris.

Kantor Notaris kemudian berdiri di Bogor.

Tetapi satu hal tidak pernah berubah: hubungan dengan anak kemenakan.

TEMPAT BERNAUNG

Bundo Kanduang generasi kedua ternyata memiliki pandangan jauh ke depan. Salah satu ikhtiar besarnya adalah membawa cucunya, Marlisa, dari Tempino Jambi ke Bogor.

Lisa masih kecil. Berpisah dari ayahnya, Syahrir, tentu bukan perkara mudah. Namun Mamak berpikir lebih jauh.

Anak ini harus melihat dunia yang lebih luas.

Maka Lisa hijrah dari tanah Jambi menuju Pulau Jawa.

Di Bogor, ia tumbuh di bawah didikan Bundo Kanduang.

Tahun berganti tahun.

Anak kecil itu belajar. Sekolah. Kuliah. Kemudian menyelesaikan pendidikan hingga jenjang sarjana dan magister kenotariatan.

Tanpa terasa, sebuah lingkaran kehidupan telah sempurna.

Marlisa meneruskan profesi Bundo Kanduang-nya sebagai Notaris.

Di situlah kita melihat betapa halus tangan Allah SWT menyusun perjalanan hidup manusia. Apa yang dahulu tampak seperti perpisahan, ternyata adalah jalan menuju masa depan.

RUMAH YANG PINTUNYA SELALU TERBUKA

Bundo Kanduang tempat bernaung memang pantas disandangkan kepada Uni Husna.

Selama bermukim di Bogor setelah menyelesaikan tugas sebagai Polisi Wanita, satu demi satu anak kemenakan datang kepadanya. Ada yang diantar ayah ibunya. Ada yang datang sendiri. Mereka tinggal, belajar, dan ditempa.

Ada Edy Darmansyah, yang kemudian menjadi anggota DPRD Kota Bogor.

Ada Ria, yang menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti dan kemudian bekerja di Bank DKI. Ria telah bersama Uni Husna sejak SMP.

Kemudian ada Boy Erlangga, Ansyori, Donny, Ade Erdwan, serta beberapa anak kemenakan lainnya yang pernah merasakan hangatnya rumah Bundo Kanduang di Bogor.

Disiplin diterapkan. Pendidikan diutamakan. Adab dijaga.

Tidak semua jalan mereka mulus. Tidak semua cita-cita tercapai dengan mudah. Namun satu per satu akhirnya mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Mereka berkeluarga.

Mereka bekerja.

Mereka hidup mandiri.

Dan yang paling penting, tali persaudaraan tetap terjaga.

BUNDO KANDUANG, TEMPAT KEMBALI

Begitulah salah satu wajah Minangkabau.

Merantau bukan berarti melupakan kampung.

Menjadi mandiri bukan berarti memutus hubungan.

Justru karena ada rumah untuk kembali, seorang perantau berani melangkahkan kaki sejauh-jauhnya.

Dalam sistem kekerabatan matrilineal, Bundo Kanduang mempunyai kedudukan istimewa. Ia menjadi pusat kehangatan keluarga, tempat anak kemenakan mengadu kegelisahan, tempat sanak saudara mencari nasihat, dan tempat nilai-nilai kehidupan diwariskan.

Bundo Kanduang bukan sekadar gelar.

Ia adalah amanah.

Ia adalah kasih sayang yang diberi bentuk.

Ia adalah rumah yang tidak selalu berupa bangunan.

Sebab terkadang seseorang disebut rumah bukan karena memiliki atap dan dinding, melainkan karena setiap orang yang datang kepadanya merasa aman.

Pada usia 75 tahun, Uni Husna tetap mengisi hari-harinya dengan membaca dan kegiatan sosial. Pengajian rutin dilaksanakan di rumah maupun di beberapa tempat di Bogor.

Beliau juga seorang pecinta buku. Majalah Intisari dikoleksinya hampir lima ratus edisi, hasil berlangganan selama puluhan tahun.

Barangkali demikianlah perjalanan seorang Bundo Kanduang.

Dari tungkai yang dahulu lemah lunglai, tumbuh seorang perempuan yang kemudian menjadi tempat orang lain bertumpu.

Dari seorang anak yang dahulu digendong Mamak, kemudian ia sendiri menggendong harapan anak kemenakan.

Dari rumah kecil di Tempino, amanah itu berjalan menuju Bogor.

Dari Mamak kepada Uni Ina.

Dari Uni Ina kepada generasi berikutnya.

Itulah adat yang hidup.

Itulah kasih yang diwariskan.

Itulah Bundo Kanduang.

Tempat anak kemenakan pulang.

Tempat sanak saudara bernaung.

Tempat hati yang jauh menemukan jalan kembali.

SALAM SALAMAN

Jalan panjang menuju rantau,
Singgah sebentar di Kota Padang.
Bundo Kanduang penjaga kaum,
Kasihnya kekal sepanjang zaman.

TD

Tinggalkan Balasan