Mas Ibam “di bantu” Perusuh disway.id

Terbaru7 Dilihat

Mas Ibam “di bantu” Perusuh disway.id

DISWAY, PERUSUH, PENAKAWAN DAN PERKARA AI
Thamrin Dahlan YPTD
Agak emosional awak membaca tulisan Disway, Sabtu 5 September 2026. Bukan karena tersenggol. Apalagi tersinggung. Justru sebaliknya, awak tiba-tiba merasa beruntung. Sangat beruntung malah.
Berada di lingkungan literasi Abah Dahlan Iskan itu seperti masuk warung kopi yang kopinya boleh pahit, tetapi obrolannya bikin melek. Awak mendapatkan banyak kawan, banyak pikiran, dan sesekali tentu saja mendapat “sentilan”.
Disway memang begitu. Ada manfaat, ada pula mudaratnya. Yang tersenggol kadang malah tambah populer. Namanya yang tadinya hanya dikenal tetangga, mendadak dikenal pembaca se-Indonesia. Itu manfaat. Mudaratnya? Ya, kalau yang menyenggol sedang khilaf, yang disenggol bisa ikut panas. Maklum, kita semua manusia. Tidak ada manusia yang sertifikatnya tertulis “bebas khilaf seumur hidup”.
Membaca kisah Mas Ibam yang “dibantu kaum perusuh”, awak malah tersenyum. Perusuh Disway ini sebenarnya bukan perusuh betulan. Mereka lebih tepat disebut sparing partner. Abah dilempar pertanyaan, mereka menyambar. Abah menulis satu paragraf, komentar bisa berkembang menjadi satu halaman. Kadang ngawur, kadang benar, kadang membuat kita bertanya: “Ini orang dapat ilmunya dari mana?” Tetapi justru di situlah asyiknya Disway. Pikiran tidak dibiarkan tidur.
Awak punya istilah sendiri: Penakawan dan Penasehat.
Penakawan adalah kawan yang berani berada di samping kita. Bukan sekadar kawan ketika senang, tetapi kawan yang berani menyenggol ketika kita mulai melenceng. Penakawan tidak selalu mengatakan “iya”. Kadang justru berkata, “Eh, jangan begitu.” Nah, kalimat pendek seperti itulah yang kadang lebih mahal daripada pujian panjang.
Sedangkan Penasehat adalah kawan yang memberikan nasihat tanpa merasa paling benar. Nasihat bukan palu untuk memukul kepala orang lain. Nasihat adalah cermin. Kita persilakan orang bercermin, lalu biarkan dia sendiri yang melihat apakah rambutnya sudah rapi atau masih berantakan. Jadi, Penakawan menyapa, Penasehat mengingatkan. Keduanya sama-sama penting dalam perjalanan literasi.
Mungkin karena itu awak merasa Disway bukan sekadar portal berita. Ia sudah menjadi ruang pertemuan antara penulis, pembaca, perusuh, penakawan, penasehat, bahkan pejabat dan rakyat jelata. Kabarnya sampai kepada hakim juga. Artinya apa? Tulisan yang awalnya hanya berupa rangkaian huruf ternyata bisa berjalan jauh sekali. Kadang lebih cepat daripada kendaraan di jalan Jakarta.
Dan sekarang muncul Perkara AI. Nah, ini lain lagi ceritanya. Mas Ibam dengan kemampuan IT-nya seperti membuka pintu baru. Orang yang sedang berhadapan dengan persoalan hukum kini mempunyai alat bantu untuk memahami perkara. Tentu AI bukan pengacara, bukan hakim, apalagi Tuhan yang menentukan benar salah. AI hanyalah alat. Tetapi alat yang semakin pintar tentu dapat membantu manusia mencari informasi dan memahami persoalan.
Abah pun sedang menyiapkan Dahlan Iskan AI. Ratusan ribu literasi dikumpulkan, diolah, kemudian diharapkan menjadi sumber pengetahuan yang dapat dicari dengan cepat. Ini bukan lagi soal masa depan. Masa depan rupanya sudah datang, lalu mengetuk pintu rumah kita sambil berkata: “Buka, saya AI.”
Tetapi awak tetap ingat satu hukum teknologi yang tidak pernah basi: GIGO—Garbage In, Garbage Out. Sampah masuk, sampah keluar. Data salah, jawaban bisa salah. Hoaks masuk, jangan berharap keluar ilmu yang benar. Karena itu kecanggihan AI tetap membutuhkan manusia yang waras, kritis dan mau melakukan verifikasi.
Di sinilah awak melihat Perkara AI bukan semata-mata “lawan” para pengacara. Lebih tepat disebut mitra tanding. Pengacara punya pengalaman, ilmu hukum dan intuisi manusia. AI punya kecepatan mengolah informasi. Kalau keduanya bertemu secara sehat, yang diuntungkan mestinya masyarakat.
Maka awak semakin bersyukur pernah dan masih berada di lingkungan Disway. Di sini awak belajar bahwa literasi bukan hanya menulis. Literasi adalah keberanian membaca, berpikir, bertanya, berbeda pendapat, menerima kritik, kemudian tetap bersalaman.
Penakawan boleh menyenggol.
Penasehat boleh mengingatkan.
Perusuh boleh meramaikan.
AI boleh membantu.
Tetapi manusia tetap memegang kendali.
Sebab sehebat-hebatnya teknologi, yang menentukan apakah informasi menjadi ilmu atau menjadi hoaks tetaplah manusia.
Dan kalau sesekali awak ikut menjadi perusuh?
Jangan marah.
Anggap saja Penakawan sedang bekerja.
Salam literasi.
Salam Penakawan.
Salam Penasehat.
Salamsalaman.
BHP, 5 September 2026
Thamrin Dahlan YPTD

Tinggalkan Balasan