Pemain Punya Kemampuan
Tung Widut
Ketoprak merupakan salah satu warisan kesenian tradisional yang sangat dihormati. Asalnya dari Jawa Barat dan Jawa Tengah, namun seni pertunjukan ini juga berkembang pesat hingga ke sebagian wilayah Jawa Timur. Dalam sebuah pementasan ketoprak, terdapat berbagai unsur yang menyatu padu, dan salah satu yang paling vital adalah unsur pemain atau pelakon.
Seorang pemain ketoprak tidak hanya dituntut untuk bisa berakting, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai tingkatan bahasa Jawa. Mereka wajib menguasai Basa Krama, Krama Inggil, hingga ragam bahasa ngoko.
Penguasaan ini sangat krusial karena menjadi media komunikasi antar tokoh dalam cerita. Pemilihan kata dan tingkatan bahasa yang tepat akan mencerminkan status sosial, usia, dan hubungan antar karakter yang sedang diperankan, sehingga cerita menjadi lebih hidup dan bermakna.
Salah satu ciri khas dan kehebatan pemain ketoprak tradisional adalah kemampuan mereka untuk membawakan berbagai jenis tokoh. Walaupun pada dasarnya setiap pemain memiliki karakter dan kelebihannya masing-masing, atau memiliki peran khusus yang sangat cocok dan natural saat dimainkannya, mereka tetap dituntut untuk bisa memerankan tokoh apa saja.
Hal ini dilakukan bukan tanpa alasan, melainkan agar setiap anggota benar-benar memahami keseluruhan alur cerita dari berbagai sudut pandang. Selain itu, sistem ini menjadi solusi praktis jika terjadi kendala di lapangan, misalnya ada salah satu pemain yang berhalangan hadir. Dengan demikian, pementasan tetap bisa berjalan lancar karena peran tersebut bisa langsung digantikan oleh rekan lainnya, meskipun mungkin bukan spesialisasi utamanya.
Salah satu contoh kelompok kesenian terbesar di Indonesia yang menerapkan sistem ini adalah Ketoprak Siswa Budoyo. Cara kerja mereka sangat unik dan dinamis.
Biasanya, pembagian peran baru dilakukan sekitar satu jam sebelum pertunjukan dimulai. Pada saat itu, dilakukan absensi untuk melihat siapa saja pemain yang hadir, kemudian peran langsung dibagikan malam itu juga. Dalam pembagian ini, tentu akan lebih maksimal jika pemain mendapatkan peran yang sesuai dengan karakter dan kelebihannya masing-masing. Namun, jika kondisi mendesak, siapapun harus siap menggantikan peran orang lain demi kelancaran pertunjukan.
Setelah pembagian peran, biasanya diadakan pengarahan singkat atau briefing. Dalam sesi ini, pelatih atau pemimpin grup akan menyampaikan evaluasi masing-masing pemain, serta arahan mengenai bagaimana cerita akan dikembangkan malam itu.
Yang menarik, mereka juga sangat memperhatikan kondisi penonton. Jika yang hadir didominasi oleh anak-anak atau tamu dari instansi tertentu, maka bagian lapakan (dialog atau adegan lelucon) akan disesuaikan agar sesuai dengan usia dan selera penonton.
Sistem ini tentu memiliki tantangan tersendiri. Berbeda dengan teater modern yang biasanya seorang aktor hanya fokus pada satu karakter khusus dan mempersiapkannya jauh-jauh hari, pemain ketoprak harus siap mental dan kemampuan untuk tampil dalam karakter apa pun secara mendadak.
Kelemahannya, tentu saja terdapat kesulitan tersendiri karena mereka harus menghafal dan memahami begitu banyak karakter sekaligus. Namun, inilah yang membuat ketoprak menjadi seni yang luar biasa. Para pelakunya tumbuh menjadi seniman yang tangguh, hafal cerita, dan mampu berimprovisasi dengan luar biasa di atas panggung.











