
Mengajar Itu Mudah Jika Ada Sarprasnya, Benarkah?
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
“Mengajar itu mudah selagi ada sarprasnya, begitu juga belajar. Nggak usah teori aneh-aneh.”
Kalimat itu ditulis oleh seorang kawan alumni FPTK IKIP Jakarta di media sosial. Saat membacanya, Omjay hanya tersenyum sambil tertawa kecil.
“Wkwkwkwk… makanya sering-sering nonton film Laskar Pelangi, hehehe…”
Jawaban itu memang terdengar bercanda. Namun di balik candaan tersebut tersimpan sebuah pesan yang sangat dalam.
Benarkah mengajar itu mudah jika sarana dan prasarananya lengkap?
Tentu saja iya.
Guru akan lebih nyaman mengajar jika ruang kelas ber-AC, tersedia LCD proyektor, internet cepat, laboratorium lengkap, perpustakaan modern, dan fasilitas pembelajaran yang memadai.
Siswa juga akan lebih mudah belajar jika buku tersedia, komputer tersedia, jaringan internet lancar, serta lingkungan belajar mendukung.
Tetapi pertanyaannya adalah, apakah guru harus berhenti mengajar ketika sarana itu tidak tersedia?
Di sinilah letak perbedaan antara guru biasa dan guru luar biasa.
Mengingat Kembali Laskar Pelangi
Setiap kali mendengar keluhan tentang kurangnya fasilitas pendidikan, ingatan Omjay selalu kembali kepada film dan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.
Kisah Bu Muslimah dan Pak Harfan di Belitung mengajarkan bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari gedung yang megah.
Sekolah mereka nyaris roboh.
Atap bocor.
Meja dan kursi seadanya.
Jumlah murid sangat sedikit.
Bahkan sekolah itu hampir ditutup karena kekurangan siswa.
Namun dari tempat yang sederhana itulah lahir anak-anak hebat yang mampu mengubah nasibnya.
Mereka belajar dengan semangat yang tidak pernah padam.
Mereka memiliki guru yang tidak pernah menyerah.
Bu Muslimah tidak pernah berkata:
“Tunggu sekolah ini punya fasilitas lengkap dulu baru saya mengajar.”
Beliau mengajar dengan apa yang ada.
Beliau mengajar dengan hati.
Dan ternyata hati jauh lebih kuat daripada teknologi.
Guru Tangguh Berhati Cahaya
Selama lebih dari tiga puluh tahun menjadi guru, Omjay bertemu dengan banyak guru tangguh di berbagai pelosok Indonesia.
Ada guru yang harus menyeberangi sungai setiap hari.
Ada guru yang berjalan kaki berjam-jam menuju sekolah.
Ada guru yang mengajar di kelas bambu.
Ada guru yang membeli sendiri alat peraganya.
Ada guru yang harus menggunakan uang pribadinya demi membantu siswa yang kesulitan.
Mereka tidak pernah masuk televisi.
Tidak mendapatkan penghargaan nasional.
Tidak viral di media sosial.
Tetapi mereka tetap mengajar.
Tetap tersenyum.
Tetap hadir.
Karena mereka memahami bahwa pendidikan bukan sekadar pekerjaan.
Pendidikan adalah panggilan jiwa.
Mereka adalah guru tangguh berhati cahaya.
Cahaya yang menerangi masa depan anak-anak bangsa meskipun dirinya sendiri terkadang hidup dalam keterbatasan.
Sarpras Penting, Tetapi Bukan Segalanya
Omjay tidak menafikan pentingnya sarana dan prasarana.
Justru sebaliknya.
Di era digital seperti sekarang, sekolah memang harus didukung fasilitas yang memadai.
Komputer penting.
Internet penting.
Laboratorium penting.
Perpustakaan penting.
Kecerdasan buatan (AI) juga penting.
Namun semua itu hanyalah alat.
Alat tidak akan berarti apa-apa tanpa manusia yang menggunakannya.
LCD terbaik tidak akan membuat siswa termotivasi jika gurunya tidak peduli.
Internet tercepat tidak akan menghasilkan generasi hebat jika pembelajaran tidak bermakna.
AI secanggih apa pun tidak akan mampu menggantikan ketulusan seorang guru yang mengajar dengan hati.
Karena yang paling diingat siswa bukanlah fasilitas sekolahnya.
Yang paling diingat adalah gurunya.
Senyumnya.
Perhatiannya.
Motivasinya.
Nasihatnya.
Kasih sayangnya.
Pelajaran dari Kehidupan Omjay
Omjay teringat masa kecil dulu.
Saat itu fasilitas pendidikan jauh dari kata lengkap.
Tidak ada internet.
Tidak ada laptop.
Tidak ada ponsel pintar.
Tidak ada AI.
Namun para guru tetap mengajar dengan penuh semangat.
Mereka menulis di papan tulis.
Mereka menjelaskan dengan sabar.
Mereka memberi teladan.
Mereka mendidik karakter.
Hasilnya?
Banyak murid yang kemudian berhasil dalam kehidupannya.
Hari ini Omjay menjadi guru, penulis, blogger, dan narasumber di berbagai tempat bukan karena sekolah dulu memiliki fasilitas mewah.
Tetapi karena pernah bertemu guru-guru hebat yang percaya bahwa pendidikan mampu mengubah kehidupan.
Mereka mengajar bukan karena sarpras lengkap.
Mereka mengajar karena cinta.
Ketika Hati Menjadi Sarana Terbaik
Dalam perjalanan hidup, Omjay belajar satu hal.
Sarana terbaik dalam pendidikan sesungguhnya bukan gedung.
Bukan komputer.
Bukan internet.
Bukan kecerdasan buatan.
Sarana terbaik adalah hati seorang guru.
Ketika hati guru hidup, keterbatasan akan melahirkan kreativitas.
Ketika hati guru menyala, kekurangan akan melahirkan inovasi.
Ketika hati guru bercahaya, siswa akan menemukan harapan.
Karena pendidikan sejatinya adalah hubungan manusia dengan manusia.
Hubungan hati dengan hati.
Hubungan jiwa dengan jiwa.
Dan hubungan itulah yang tidak pernah bisa digantikan oleh mesin secanggih apa pun.
Sebuah Renungan untuk Kita Semua
Hari ini mungkin kita masih mengeluh tentang fasilitas yang kurang.
Tentang jaringan internet yang lambat.
Tentang proyektor yang rusak.
Tentang laboratorium yang belum lengkap.
Keluhan itu wajar.
Namun jangan sampai keluhan membuat semangat kita padam.
Jangan sampai keterbatasan membuat kita berhenti berbuat.
Karena sejarah membuktikan bahwa banyak orang hebat lahir dari tempat yang sederhana.
Banyak tokoh besar dibesarkan oleh guru-guru sederhana.
Banyak mimpi besar tumbuh dari ruang kelas yang jauh dari sempurna.
Maka ketika seorang kawan berkata,
“Mengajar itu mudah selagi ada sarprasnya.”
Omjay hanya tersenyum.
Sebab Omjay tahu bahwa fasilitas memang membantu.
Tetapi yang membuat pendidikan tetap hidup bukanlah fasilitas itu.
Melainkan guru-guru tangguh berhati cahaya yang terus mengajar meski dalam segala keterbatasan.
Mereka tidak menunggu keadaan sempurna.
Mereka menciptakan perubahan dari keadaan yang ada.
Dan dari tangan merekalah masa depan Indonesia terus menyala.
Karena sejatinya, guru hebat tidak lahir dari fasilitas yang hebat.
Guru hebat lahir dari hati yang ikhlas, pikiran yang terbuka, dan semangat yang tidak pernah menyerah.
Salam literasi. Salam perubahan. Salam guru pembelajar sepanjang hayat.
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah – omjay
Guru Blogger Indonesia











