Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah
Kisah Omjay Menemukan Cahaya di Balik Setiap Ujian
Ahad pagi selalu menjadi waktu yang indah untuk merenung. Udara masih sejuk, suasana masih tenang, dan hati terasa lebih mudah menerima nasihat. Di pagi seperti inilah Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., biasanya membuka hari dengan membaca Al-Qur’an, berzikir, dan merenungkan makna kehidupan.
Ada satu ayat yang selalu menguatkan langkahnya ketika menghadapi berbagai ujian hidup.
“Janganlah kamu putus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada putus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Ayat tersebut bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ayat itu adalah obat bagi hati yang sedang gelisah, penawar bagi jiwa yang sedang lelah, dan pelita bagi siapa saja yang merasa hidupnya berada di jalan buntu.
Omjay memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Sebagai seorang guru, penulis, pembicara, sekaligus ayah dalam keluarga, beliau pernah merasakan kegagalan, penolakan, dan kesedihan. Ada tulisan yang tidak dimuat media, ada rencana yang gagal terlaksana, bahkan ada doa yang terasa lama dikabulkan.
Namun setiap kali hati mulai lemah, beliau kembali mengingat firman Allah.
“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Bukan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan. Artinya, ketika Allah memberikan ujian, pada saat yang sama Allah juga telah menyiapkan jalan keluarnya. Tugas manusia hanyalah terus berikhtiar, bersabar, dan tidak berhenti berharap kepada-Nya.
Omjay sering mengingatkan para guru yang mengikuti pelatihan menulis agar tidak menyerah hanya karena satu atau dua tulisan ditolak. Seorang penulis hebat bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang selalu bangkit setiap kali mengalami kegagalan.
Begitu pula dalam kehidupan. Tidak ada orang sukses yang jalannya selalu mulus. Semua pernah jatuh. Semua pernah menangis. Semua pernah merasa tidak mampu. Yang membedakan hanyalah cara mereka menyikapi ujian.
Ada yang berhenti di tengah jalan karena putus asa. Ada pula yang terus melangkah karena yakin Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.
Omjay memilih menjadi orang yang kedua.
Beliau percaya bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan tidak pernah sia-sia. Ketika mengajar dengan penuh keikhlasan, Allah melihatnya. Ketika menulis untuk menginspirasi orang lain, Allah mencatatnya. Ketika membantu sesama tanpa mengharapkan balasan, Allah telah menyiapkan ganjaran terbaik.
Karena itulah beliau sangat menyukai firman Allah:
“Maka ingatlah kamu kepada-Ku; niscaya Aku ingat pula kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Betapa indah janji Allah itu. Jika manusia mengingat Allah melalui salat, doa, zikir, membaca Al-Qur’an, dan berbuat baik, maka Allah akan mengingat hamba-Nya dengan kasih sayang, pertolongan, serta keberkahan hidup.
Tidak ada kemuliaan yang lebih besar daripada diingat oleh Allah.
Omjay juga meyakini bahwa ilmu yang dibagikan tidak akan pernah berkurang. Justru semakin banyak berbagi, semakin luas manfaat yang dirasakan.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Barang siapa yang memberi petunjuk kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi penyemangat Omjay untuk terus menulis setiap hari. Barangkali ada seorang guru yang termotivasi mengajar lebih baik setelah membaca tulisannya. Mungkin ada seorang siswa yang kembali semangat belajar. Bisa jadi ada seorang pembaca yang kembali rajin beribadah karena tersentuh oleh sebuah artikel.
Jika itu terjadi, pahala akan terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan orang lain.
Inilah investasi terbaik yang tidak pernah merugi.
Dalam kehidupan rumah tangga pun Omjay belajar bahwa jodoh bukan hanya tentang bertemu, melainkan tentang menjaga amanah yang telah Allah titipkan. Banyak pasangan mampu menemukan cinta, tetapi tidak semuanya mampu merawatnya dengan kesabaran, keikhlasan, dan saling memaafkan.
Karena sesungguhnya jodoh telah Allah tetapkan. Yang menjadi tugas manusia adalah menjaga kepercayaan, memperbanyak syukur, dan membangun keluarga yang dipenuhi kasih sayang.
Di sisi lain, Omjay selalu mengingatkan dirinya agar tidak meremehkan dosa sekecil apa pun.
Rasulullah ﷺ mengingatkan agar manusia tidak melihat kecilnya dosa, tetapi melihat kepada siapa dosa itu dilakukan.
Sering kali manusia merasa aman karena menganggap kesalahan yang diperbuat hanyalah hal sepele. Padahal setitik noda yang dibiarkan terus-menerus dapat menggelapkan hati.
Karena itu, setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak istigfar, memperbaiki ibadah, dan memohon ampun kepada Allah.
Omjay percaya bahwa manusia terbaik bukanlah yang tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang segera bertobat ketika menyadari kesalahannya.
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengeluh. Terlalu berharga untuk diisi dengan putus asa. Allah masih memberikan napas, kesehatan, keluarga, sahabat, dan kesempatan berbuat baik. Itu semua adalah tanda bahwa rahmat-Nya masih terbuka lebar.
Mari kita jadikan Ahad ini sebagai awal untuk memperbaiki diri. Perbanyak syukur ketika mendapat nikmat. Bersabar ketika mendapat ujian. Teruslah menebarkan ilmu, senyum, dan manfaat kepada sesama.
Percayalah, tidak ada doa yang sia-sia. Tidak ada air mata yang terbuang percuma. Tidak ada kebaikan yang hilang tanpa balasan.
Selama kita masih menggantungkan harapan kepada Allah, selalu ada alasan untuk bangkit dan melangkah.
Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak pernah putus asa dari rahmat-Nya, menguatkan langkah kita dalam setiap ujian, melapangkan rezeki yang halal dan berkah, menjaga keluarga kita dalam kebaikan, serta menjadikan kita pribadi yang selalu bermanfaat bagi orang lain.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah – omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com




