Sebelum Ajal Tiba: Jangan Menungu Sempurna Untuk Berbuat Baik

DR. WIJAYA KUSUMAH, M.PD

Terbaru5 Dilihat

Sebelum Ajal Tiba: Jangan Menunggu Sempurna untuk Berbuat Baik

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)
Blog https://wijayalabs.com/about

Pagi itu, seperti biasa, saya membuka telepon genggam. Sebuah pesan singkat yang dikirimkan seorang sahabat langsung menarik perhatian saya. Isinya sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.

“Orang hebat itu adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum ia meninggal dunia.”

Saya terdiam beberapa saat. Kalimat itu mengajak saya merenung. Bukankah pada akhirnya semua manusia akan meninggalkan dunia? Namun, ternyata yang dimaksud bukanlah meninggalkan dunia secara fisik, melainkan meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun jasad telah tiada.

Saya teringat perjalanan hidup sebagai guru selama puluhan tahun. Tidak ada harta melimpah yang saya miliki. Namun, saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk menulis setiap hari, mengajar dengan sepenuh hati, berbagi ilmu kepada sesama guru, dan menyemangati siapa pun yang ingin belajar. Dari sanalah saya memahami bahwa warisan terbaik bukan hanya bangunan megah atau tabungan yang banyak, tetapi ilmu yang bermanfaat dan hati yang pernah menguatkan orang lain.

Pesan itu kemudian melanjutkan, “Orang yang bersedekah sampai kaya, bukan kaya baru bersedekah.” Kalimat ini menampar saya dengan lembut. Betapa sering kita menunda berbagi karena merasa belum cukup. Padahal, sedekah tidak menunggu seseorang menjadi kaya. Justru sedekah mengajarkan kita bahwa keberkahan sering kali datang kepada mereka yang mau berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit.

Saya pernah bertemu seorang guru honorer yang penghasilannya sangat sederhana. Namun, setiap kali ada teman yang kesulitan, ia selalu menyisihkan sebagian rezekinya. Anehnya, hidupnya selalu terasa cukup. Dari beliau saya belajar bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan luasnya hati.

Pesan berikutnya berbunyi, “Orang yang berdakwah sampai jadi alim, bukan sudah alim baru berdakwah.” Saya memaknainya sebagai ajakan untuk tidak menunggu sempurna sebelum berbagi kebaikan. Kita memang harus terus belajar, tetapi jangan sampai keinginan menjadi sempurna membuat kita berhenti menyampaikan hal-hal baik yang sudah kita ketahui.

Begitu pula dengan menulis. Saya selalu mengatakan kepada para peserta pelatihan menulis, “Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” Kemampuan akan tumbuh seiring kebiasaan. Keberanian akan lahir karena terus mencoba.

Kalimat berikutnya membuat saya semakin tersentuh, “Orang yang datang ke masjid sampai tua, bukan sudah tua baru ke masjid.” Kehidupan tidak pernah memberi jaminan bahwa kita akan sampai pada usia tua. Karena itu, jangan menunda ibadah. Jangan menunggu waktu luang. Jangan menunggu pensiun. Jangan menunggu semua urusan selesai. Mulailah hari ini, karena hari esok belum tentu menjadi milik kita.

Terakhir, saya membaca kalimat yang paling dalam maknanya, “Orang beramal sampai ikhlas, bukan ikhlas baru beramal.” Betapa sering kita menunggu hati benar-benar bersih sebelum berbuat baik. Padahal, keikhlasan justru tumbuh melalui proses. Semakin sering kita beramal, semakin kita belajar membersihkan niat hanya karena Allah.

Perjalanan hidup saya juga penuh ujian. Pernah mengalami sakit, menjalani masa pemulihan, hingga merasakan betapa berharganya setiap detik kehidupan. Pengalaman itu mengajarkan bahwa umur adalah rahasia Allah. Tidak ada yang tahu kapan perjalanan ini akan berakhir. Karena itu, setiap pagi adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri, meminta maaf, berbagi ilmu, menolong sesama, dan menanam amal yang kelak menjadi bekal.

Hari ini saya kembali mengingatkan diri sendiri bahwa hidup bukan tentang menunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat adalah sekarang. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu pintar untuk berbagi ilmu. Jangan menunggu tua untuk rajin beribadah. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.

Sebab, ajal tidak pernah mengirim undangan sebelum datang menjemput.

Mari kita isi setiap hari dengan karya, doa, ilmu, dan amal yang bermanfaat. Semoga ketika suatu saat kita meninggalkan dunia ini, nama kita tetap hidup dalam doa orang-orang yang pernah merasakan manfaat dari kehadiran kita.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Berbuat baiklah setiap hari dan saksikan bagaimana Allah menumbuhkan keberkahan dalam hidup kita.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tinggalkan Balasan