Tersenyum, Bersyukur, dan Terus Berbuat Baik
Kisah Omjay Mengawali Hari dengan Cahaya Kebaikan
Setiap pagi memiliki cerita yang berbeda. Ada pagi yang disambut dengan kabar bahagia, ada pula pagi yang diawali dengan berbagai ujian kehidupan. Namun, apa pun yang kita temui ketika membuka mata, satu hal yang selalu saya yakini adalah bahwa setiap pagi merupakan hadiah terindah dari Allah Swt. Kesempatan untuk kembali bernapas, beribadah, berkarya, dan berbuat baik kepada sesama adalah nikmat yang tidak ternilai harganya.
Sebagai seorang guru, penulis, dan pembelajar sepanjang hayat, saya selalu berusaha memulai hari dengan membaca, merenung, dan membagikan inspirasi kepada sahabat-sahabat di berbagai grup WhatsApp. Saya percaya bahwa satu kalimat yang menyentuh hati mampu mengubah cara seseorang memandang hidup. Bahkan, tidak sedikit yang mengaku kembali bersemangat setelah membaca pesan sederhana yang saya kirimkan setiap pagi.
Suatu pagi saya membaca kalimat yang begitu membekas dalam hati.
“Berbuat baiklah tanpa mengharapkan balasan dari manusia. Karena Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda.”
Kalimat itu membuat saya terdiam beberapa saat. Betapa sering manusia merasa kecewa ketika kebaikannya tidak dihargai. Kita membantu orang lain, tetapi tidak diucapkan terima kasih. Kita bekerja keras, tetapi tidak mendapat penghargaan. Kita memberi perhatian, tetapi justru dilupakan. Padahal sejak awal, tujuan berbuat baik seharusnya bukan agar dipuji manusia, melainkan agar mendapat ridha Allah.
Saya teringat perjalanan panjang selama puluhan tahun menjadi guru. Banyak hal yang telah saya lakukan bersama para siswa, guru, dan komunitas pendidikan. Tidak semuanya dikenang orang. Tidak semuanya mendapatkan apresiasi. Namun, saya belajar bahwa setiap kebaikan yang dilakukan dengan hati yang ikhlas tidak pernah sia-sia. Mungkin manusia lupa, tetapi Allah tidak pernah lupa.
Keyakinan itulah yang membuat saya tetap bersemangat menulis setiap hari. Saya tidak pernah tahu tulisan mana yang akan mengubah kehidupan seseorang. Bisa jadi sebuah artikel yang saya tulis di pagi hari ternyata dibaca oleh seorang guru di pelosok negeri yang sedang kehilangan semangat. Bisa jadi tulisan sederhana itu membuatnya bangkit kembali. Bukankah itu sudah menjadi kebahagiaan yang luar biasa?
Inspirasi berikutnya berbunyi,
“Tersenyumlah ketika hidupmu tersenyum, dan tetaplah tersenyum ketika hidupmu menantangmu.”
Kalimat ini mengingatkan saya pada perjalanan hidup yang penuh warna. Saya pernah merasakan masa-masa ketika kesehatan menurun, harus menjalani perawatan di rumah sakit, bahkan dokter meminta saya mengurangi aktivitas tertentu demi menjaga kondisi tubuh. Sebagai orang yang terbiasa aktif mengajar, menulis, mengisi webinar, dan bepergian, tentu keadaan itu bukan hal yang mudah diterima.
Namun, saya memilih tetap tersenyum. Senyum bukan berarti tidak memiliki masalah. Senyum adalah tanda bahwa kita percaya setiap ujian pasti mengandung hikmah. Justru dalam masa-masa sulit itulah saya memiliki lebih banyak waktu untuk merenung, membaca, dan menulis. Banyak artikel lahir ketika tubuh sedang beristirahat, tetapi hati tetap bekerja untuk menyebarkan semangat kepada orang lain.
Saya semakin yakin bahwa senyum adalah sedekah yang paling murah, tetapi nilainya sangat mahal. Senyum mampu menghapus rasa canggung, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan harapan di tengah kesulitan.
Inspirasi berikutnya mengajarkan,
“Bersyukurlah dalam setiap keadaan, baik suka maupun duka. Karena dalam kesyukuran terdapat kebahagiaan yang hakiki.”
Bersyukur ternyata bukan sekadar mengucapkan “Alhamdulillah”. Bersyukur adalah cara hidup. Ketika kita memiliki pekerjaan, bersyukurlah. Ketika masih diberi kesehatan, bersyukurlah. Bahkan ketika sedang diuji sekalipun, tetaplah bersyukur karena Allah masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Saya sering bertemu guru-guru hebat di berbagai daerah. Banyak di antara mereka yang mengajar dengan fasilitas sederhana, bahkan harus menempuh perjalanan jauh demi menemui murid-muridnya. Namun, wajah mereka tetap memancarkan kebahagiaan. Mereka mengajarkan kepada saya bahwa kebahagiaan bukan ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh rasa syukur yang memenuhi hati.
Pesan berikutnya juga sangat menyentuh.
“Jangan memikirkan masa lalu dan jangan takut pada masa depan. Hiduplah dalam keterikatan pada saat ini, karena itulah yang Anda miliki.”
Betapa banyak orang menghabiskan waktunya menyesali masa lalu. Ada pula yang terlalu cemas memikirkan masa depan sehingga lupa menikmati hari ini. Padahal, satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki adalah saat ini.
Karena itulah saya memiliki kebiasaan menulis setiap hari. Saya tidak menunggu suasana hati yang sempurna. Saya tidak menunggu waktu luang yang banyak. Saya memanfaatkan waktu yang ada. Bahkan ketika berada di perjalanan menggunakan transportasi umum, saya tetap bisa menulis melalui telepon genggam. Sedikit demi sedikit, tulisan itu terkumpul menjadi artikel, lalu menjadi buku yang akhirnya dapat dibaca oleh banyak orang.
Saya percaya bahwa masa depan dibangun dari apa yang kita kerjakan hari ini, bukan dari apa yang hanya kita rencanakan.
Kemudian saya kembali membaca kalimat berikut.
“Jadilah seseorang yang berusaha menjadi lebih baik dari hari ke hari, dan tidak hanya menjadi orang yang baik di hari kemarin.”
Kalimat ini mengingatkan saya pada motto yang selalu saya pegang.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Kalimat itu bukan sekadar ajakan menulis. Itu adalah ajakan untuk terus bertumbuh. Setiap hari kita belajar sesuatu yang baru. Setiap hari kita memperbaiki kesalahan. Setiap hari kita meningkatkan kualitas diri. Itulah hakikat belajar sepanjang hayat.
Kesempurnaan bukan tujuan manusia. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus memperbaiki diri.
Inspirasi berikutnya berbunyi,
“Tolonglah orang lain sesuai kemampuanmu, karena sesama manusia adalah saudara dalam agama.”
Selama menjadi guru, saya menyaksikan begitu banyak contoh indah tentang semangat saling membantu. Ada guru yang rela berbagi bahan ajar tanpa meminta bayaran. Ada penulis yang membimbing penulis pemula hingga berhasil menerbitkan buku. Ada pula sahabat yang selalu hadir ketika kita sedang mengalami kesulitan.
Saya belajar bahwa pertolongan tidak selalu berupa uang. Kadang-kadang, sebuah senyuman, doa yang tulus, ilmu yang dibagikan, atau waktu yang diberikan kepada orang lain jauh lebih berharga daripada materi.
Terakhir, saya membaca pesan yang sangat menenangkan hati.
“Memaafkan adalah tanda kebesaran hati. Jadi, maafkanlah dosa dan kesalahan orang lain, sebagaimana kamu ingin diampuni oleh Allah.”
Tidak ada manusia yang sempurna. Semua pernah salah. Semua pernah melukai atau dilukai. Namun, hidup akan terasa jauh lebih ringan ketika kita belajar memaafkan. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan membebaskan hati dari beban kebencian.
Saya menyadari bahwa perjalanan hidup akan jauh lebih damai jika dipenuhi dengan hati yang lapang. Ketika kita memaafkan, sesungguhnya kita sedang memberikan hadiah terbaik kepada diri sendiri, yaitu ketenangan.
Menjelang akhir tulisan ini, saya kembali mengajak diri saya sendiri dan para pembaca untuk memulai hari dengan hati yang bersih. Berbuat baiklah tanpa pamrih. Tersenyumlah meskipun hidup sedang menguji. Bersyukurlah atas segala nikmat. Jalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Teruslah belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Ringankan tangan untuk menolong sesama. Dan jangan pernah lelah memaafkan.
Semoga setiap pagi menjadi awal bagi lahirnya semangat baru, harapan baru, dan amal kebaikan yang terus mengalir. Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing langkah kita, melapangkan hati kita, menguatkan ikhtiar kita, dan menjadikan hidup ini penuh manfaat bagi keluarga, sahabat, murid-murid, dan masyarakat luas.
Tetap semangat.
Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com



