ANTARA HIBURAN DAN KECANDUAN DI GENGGAMAN

Terbaru5 Dilihat

Dalam Bus Trans Jakarta pagi itu padat penumpang. Sebelum mencapai halte tujuan masing-masing penumpang menunjukkan sikap beragam. Ada yang memejamkan mata tidur-tidur ayam. Ada yang melayangkan pandangan ke luar jendela, entah apa yang dinikmatinya. Tapi tidak sedikit yang menyibukan diri asik dengan piranti tilpon genggam di tangan.

Menarik jika diperhatikan ekspresi wajah mereka ada yang serius, ada yang senyum-senyum geli dan sumringah. Sebagian asyik bermain games dengan penuh semangat.

Menarik jika mengamati fenomena bermain games di ponsel ini. Di tengah dunia yang semakin cepat dan penuh tekanan, banyak orang mencari ruang kecil untuk bernapas. Bagi sebagian, ruang itu hadir dalam bentuk permainan di layar ponsel. Hanya dengan sentuhan jari-jemari seseorang bisa masuk ke dunia lain—lebih sederhana, lebih terkendali, atau justru lebih menantang.

Namun di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: apakah kita sedang menikmati permainan, atau justru sedang dikendalikan olehnya?

Dalam kesibukan pekerjaan,
memang bermain game di HP bukanlah sesuatu hal yang keliru. Sekedar jeda sejenak melepaskan lilitan rutinitas yang melekat. Game di gadget dapat menjadi sarana pelepas lelah. Ada rasa puas ketika menyelesaikan tantangan, ada kegembiraan kecil saat mencapai level baru. Bahkan, dalam beberapa kasus, game melatih konsentrasi, strategi, dan ketekunan—nilai-nilai yang juga dibutuhkan dalam kehidupan nyata. Itu seperangkat manfaat yang didapat.

Namun, hati-hati disamping menyenangkan, dan menarik bisa mendorong melampaui batas. Waktu yang awalnya “hanya sebentar” perlahan berubah menjadi berjam-jam tanpa terasa. Di titik ini, permainan tidak lagi sekadar hiburan, melainkan menjadi kebiasaan yang menyita perhatian dan energi.

Pekerjaan terabaikan, juga relasi, bahkan kebutuhan dasar seperti istirahat dan makan, di situlah sinyal tanda bahaya mulai menyala. Dalam perspektif gaya hidup sehat, fenomena ini patut dicermati lebih dalam.

Bermain game dalam waktu lama sering berjalan beriringan dengan pola hidup sedentari yaitu perilaku kurang gerak, gaya hidup yang banyak duduk atau berbaring dan minim aktivitas fisik, duduk berlama-lama, disertai kebiasaan ngemil tanpa kendali.

Tanpa disadari, ini membuka pintu mengundang berbagai masalah kesehatan, mulai dari kelelahan mata, gangguan tidur, hingga peningkatan risiko berat badan berlebih. Tubuh yang seharusnya aktif justru menjadi pasif, sementara asupan energi terus masuk tanpa diimbangi pengeluaran yang cukup.

Lebih jauh lagi, ada dimensi relasi yang sering tergerus secara halus. Kehadiran fisik dalam keluarga atau komunitas tidak selalu berarti kehadiran yang utuh. Ikatan jejeluargaan yang seharusnya terjalin lewat cengkerama, gelak-tawa serta candaria karena interaksi yang terjadi diantara anggota keluarga tak lagi nyata.

Seseorang bisa duduk bersama, tetapi pikirannya terikat pada permainan di layar. Percakapan menjadi singkat, perhatian terpecah, dan kedekatan perlahan memudar. Ironisnya, di tengah koneksi digital yang luas, kualitas hubungan nyata justru bisa menurun.

Lalu, apakah solusinya adalah menjauhi game sepenuhnya? Tidak selalu begitu. Seperti banyak hal dalam hidup, kuncinya terletak pada keseimbangan dan kesadaran. Game dapat tetap menjadi bagian dari kehidupan, selama ia ditempatkan pada posisi yang tepat—sebagai alat, bukan tuan. Membatasi waktu bermain, menetapkan prioritas, serta menjaga disiplin diri menjadi langkah sederhana namun penting.

Menariknya, di sinilah letak pelajaran yang lebih dalam. Game sering kali dirancang dengan tujuan yang jelas, aturan yang tegas, dan penghargaan bagi setiap pencapaian. Jika prinsip ini diterapkan dalam kehidupan nyata—memiliki tujuan hidup yang jelas, disiplin dalam proses, dan menghargai setiap kemajuan kecil—maka kehidupan itu sendiri dapat menjadi “permainan” yang jauh lebih bermakna.

Semoga refleksi ini membawa kita pada satu kesadaran sederhana: bukan soal apakah kita bermain game atau tidak, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas diri kita sendiri.

Di era digital ini, kemampuan untuk mengatur diri menjadi bentuk kekuatan yang sejati. Sebab, ketika kita mampu menempatkan segala sesuatu pada porsinya, termasuk hiburan di genggaman, di situlah kita sedang membangun kehidupan yang sehat—bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan sosial. Karena itu jangan sampai kecanduan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan