Ekoteologi Terhadap Kebebasan Berekspresi

Terbaru4 Dilihat

MENTERI AGAMA: Ekoteologi sebagai Diskursus Akademik

Seri Ke-3: Ekoteologi Terhadap Kebebasan Berekspresi

Salah satu ironi terbesar di era demokrasi saat ini adalah ketika kebebasan berekspresi—yang seharusnya menjadi ruang tumbuhnya kebenaran dan perdamaian—berubah menjadi senjata kebrutalan. Di bawah naungan “hak bebas”, kita menyaksikan membanjirnya ujaran kebencian, fitnah massal, penyebaran kebohongan, hingga pemusnahan ruang bicara pihak lain. Merespon seruan Prof. Dr. KH. Nazarudin Umar, ekoteologi hadir untuk meluruskan kesalahpahaman fatal ini dengan meminjam kearifan hubungan manusia dan alam.

Ruang Publik Sebagai Ekosistem yang Rentan

Ekoteologi mengajarkan bahwa ruang publik—seperti halnya hutan, sungai, atau udara—bukanlah ruang tak terbatas yang bisa dikotori dan dijarah sesuka hati. Ia adalah rumah bersama yang memiliki daya dukung dan keseimbangan alami.

Ketika kebebasan berekspresi digunakan secara brutal: menyebar fitnah, menghina kelompok, atau memutarbalikkan fakta secara sengaja, itu sama persis dengan penebangan liar dan pembuangan limbah beracun di ekosistem sosial:

– Mematikan keberagaman pandangan yang menjadi kekuatan demokrasi;
– Mengeringkan empati dan kepercayaan antarwarga;
– Membuat ruang wacana tidak lagi layak huni bagi suara-suara lemah, minoritas, atau kebenaran yang sederhana.

Kebrutalan ini tidak merusak satu orang saja, tapi merusak fondasi kehidupan bersama kita semua.

Kebebasan Bukan Hak Mutlak, Melainkan Amanah

Kesalahan paling mendasar yang diluruskan ekoteologi adalah: kita tidak pernah memiliki kebebasan mutlak untuk merusak. Seperti kita tidak bebas menebang semua pohon di hutan hanya karena kita merasa “berhak”, kita pun tidak bebas berbicara apa saja yang melukai dan menghancurkan.

Kebebasan berekspresi adalah amanah yang diemban manusia sebagai makhluk berakal dan beriman. Ia memiliki batas tegas: berhenti di titik di mana ia mulai merusak kehidupan orang lain, memecah belah persaudaraan, atau menanam benih permusuhan. Kebebasan sejati bukan kemampuan berbuat semaunya, melainkan kemampuan menempatkan diri dengan benar demi menjaga keseimbangan bersama.

Mengapa Ini Penting Dikaji Secara Akademik?

Ruang akademik perlu membedah ini untuk melawan narasi yang memisahkan kebebasan dari tanggung jawab:

1. Menunjukkan bahwa menjaga kebersihan ruang bicara adalah bagian dari kewajiban menjaga ciptaan Tuhan;
2. Membangun etika berkomunikasi yang tidak hanya berlandaskan hukum positif, tapi juga nurani dan penghormatan terhadap martabat sesama makhluk;
3. Mengingatkan bahwa demokrasi yang membiarkan kebrutalan atas nama kebebasan, pada akhirnya akan runtuh sendiri—persis seperti ekosistem yang rusak total.

Penutup

Ekoteologi mengajak kita membalikkan arah: Kebebasan berekspresi haruslah menjadi sarana menanam benih kehidupan, bukan menyebar racun kehancuran. Sebagaimana kita tidak ingin bumi ini penuh sampah dan racun, kita pun tidak boleh membiarkan ruang publik kita penuh dengan kebencian dan kebohongan. Menahan diri untuk tidak berkata kasar dan menyakiti, adalah bentuk tertinggi dari menjaga amanah kebebasan itu sendiri.

Tinggalkan Balasan