KETIKA JALAN BERCABANG MANA YANG DIPILIH?

Terbaru3 Dilihat

Dalam puisi “The Road Not Taken” karya Robert Frost, penyair Amerika Serikat paling terkemuka abad ke-20 pemenang empat Penghargaan Pulitzer, tertulis:” Two roads diverged in a wood and I took the one less traveled by” – Di dua jalan bercabang di sebuah hutan dan aku mengambil jalan yang lebih jarang dilalui. Secara sederhana kutipan ini dapat dimaknai berbicara tentang pilihan hidup—khususnya keberanian untuk memilih jalan yang tidak umum.

Dalam menjalani hidup setiap orang punya pilihan. Entah karir, keputusan moral ataupun masa depan. Suatu saat berada pada titik di mana harus memilih. Dua jalan dalam puisi itu dilambangkan sebagai dua pilihan atau lebih dalam kehidupan. Itu simbol persimpangan hidup.

“Jalan yang jarang dilalui” menggambarkan pilihan yang tidak populer—mungkin lebih sulit, penuh risiko, atau tidak sesuai arus utama. Di sini terletak keberanian yang berbeda menentukan pilihan. Dorongan untuk mandiri dalam berpikir dan berani berbeda.

Pilihan yang diambil—terutama yang tidak biasa—sering kali membentuk seseorang. Hidup seseorang menjadi unik karena keputusan-keputusan yang tidak mengikuti mayoritas. Dianggap menyimpang dari yang biasa dilakukan banyak orang.

Relevasinya dalam kehidupan
berani mengambil pendekatan baru misalnya intervensi berbasis komunitas, bukan sekadar pendekatan teknis,
tidak selalu mengikuti “arus program” jika tidak efektif,
membangun inovasi meskipun belum populer. Dengan kata lain berpikir “out of the box”. Sejatinya ini pangkal kreatif-inovatif.

Tulisan Robert Frost dalam puisinya bukan sekadar ajakan untuk berbeda semata, tetapi juga pengingat bahwa:
Hidup adalah rangkaian pilihan, dan makna dari pilihan itu sering kali kita ciptakan sendiri.

Menariknya, pelajaran yang dapat dipetik dari dalam puisi tersebut, kedua jalan itu sebenarnya tidak terlalu berbeda. Ini menyiratkan satu kenyataan yang jujur. Sering kali orang tidak benar-benar tahu mana pilihan yang “lebih baik” saat keputusan diambil. Baru diberi makna setelah menjalaninya. Narasi dibangun dengan seakan pilihan kitalah yang paling menentukan, paling berani, atau bahkan paling benar.

Di sinilah letak refleksi pentingnya. Hidup bukan semata soal memilih jalan yang berbeda, tetapi tentang bagaimana kita bertanggung jawab atas pilihan itu. Jalan yang jarang dilalui bukan otomatis lebih mulia. Ia hanya menjadi bermakna jika dijalani dengan kesungguhan, integritas, dan kesadaran.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan