
TIDAK BERBAKAT MENULIS
Sebagian orang menganggap menulis itu memerlukan bakat. Kalau saya bilang tidak. Menulis itu sangat diperlukan kemauan. Punya bakat gak punya kemauan, tetap saja tidak akan pernah menulis.
Bagaimana bisa mengetahui punya bakat atau tidak kalau tidak pernah menulis. Jadikanlah menulis itu sebagai kebiasaan, maka Anda akan terus menulis.
Menulis adalah sebuah sarana untuk mengatakan pada orang lain, bahwa Anda ada di muka bumi ini. Semakin banyak karya Anda, dan dibaca banyak orang, maka semakin orang lain kenal Anda.
Itulah kenapa Pramoedya Ananta Toer mengatakan, bahwa menulis itu untuk keabadian, agar tidak hilang dari sejarah dan peradaban. Dan itu benar, karena karya Anda akan abadi selamanya, meskipun Anda sudah mati.
Pada dasarnya setiap orang bisa menulis. Masalahnya tidak semua orang punya kemauan untuk menulis. Padahal menulis pun bisa menjadi pekerjaan dan mendatangkan penghasilan.
Saya katakan sekali lagi, menulis tidak perlu bakat, karena bakat tanpa diasah tidak akan menjadikan Anda seorang penulis. Di Era digital sekarang ini seorang penulis bisa menjadi ‘writepreneur’, yang hidup dan mendapatkan penghasilan dari menulis.
Memang tidak banyak orang yang memilih profesi sebagai penulis, karena dianggap bukanlah sebagai profesi yang menjanjikan. Pada kenyataannya, banyak orang sukses secara finansial karena memilih profesi sebagai penulis.
Itu kalau dilihat dari sudut pandang ekonomi, tapi dari teori eksistensialisme Immanuel Kant, eksistensi manusia di muka bumi diukur dari keberadaannya bisa dirasakan orang lain. Kurang lebih seperti itulah yang diucapkannya.
Seorang penulis itu eksistensinya sangat dirasakan keberadaannya, itu kalau memang seorang penulis. Manusia dikatakan ada di muka bumi ini karena bisa dirasakan keberadaannya.
Itulah nilai lebihnya seorang penulis, dengan menulis maka keberadaannya bisa dirasakan orang lain. Setiap karya tulis itu memiliki takdirnya sendiri, sehingga seorang penulis tidak akan hilang dari sejarah dan peradaban.
Kalau Anda percaya bahwa menulis itu memerlukan bakat, maka ketika Anda tidak mampu menulis, Anda akan memvonis diri Anda sebagai orang yang tidak berbakat menulis. Padahal, menulis itu sangat sederhana, yang diperlukan hanya memulainya.
Seorang Fatimah Mernissi justeru menganggap menulis itu akan mempengaruhi kesehatan kulit, seperti yang dikatakannya:
“Usahakan menulis setiap hari. Niscaya, kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang luar biasa”. –
Bahkan ada juga yang mengatakan, bahwa menulis itu menyehatkan jiwa. Sangat masuk diakal, karena dengan terus menulis maka akan terus mengolah dan mengasah pikiran.
Seringkali seseorang susah untuk mengawali kalimat pertama, sehingga banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan hal itu, padahal ketika kalimat pertama sudah dimulai, maka kalimat yang lain mengalir begitu saja.
Seperti yang dikatakan Joan Didion:
“Yang menyebabkan kalimat pertama begitu sulit adalah karena Anda terpaku padanya. Semua yang lain akan mengalir dari kalimat itu”. –
Tulis saja kalimat pertama yang Anda sukai, maka akan mengalir kalimat yang lain mengikutinya. Kalau sudah begitu Anda pun akan malas untuk berhenti, karena kalimat per kalimat akan berkelindan dalam pikiran Anda.
Ajinatha








