Saya pertama kali mengenal Yayasan Jantung Indonesia bukan dari seminar kesehatan.
Saya mengenalnya dari peristiwa sederhana: seorang tetangga tiba-tiba jatuh di depan rumahnya.
Kami panik.
Ada yang memijat, ada yang memberi minyak angin, ada yang menyuruh minum teh hangat. Tidak ada yang berpikir itu serangan jantung.
Belakangan saya tahu, justru pada menit-menit pertama itulah nyawa paling mungkin diselamatkan.
Sejak hari itu saya mulai mencari tahu tentang penyakit jantung. Saya membaca artikel, menonton edukasi kesehatan, sampai akhirnya saya mengenal YJI dan para relawannya. Saya melihat mereka mengedukasi masyarakat, mengajak senam, mengukur tekanan darah warga, bahkan mengajarkan pertolongan pertama.
Dan muncul keinginan dalam diri saya:
Saya ingin jadi relawan YJI.
Tapi ada satu kenyataan yang sulit saya hindari.
Saya masih merokok, that’s the problem ….
Ketika Kampanye CERDIK Terasa Sangat Pribadi
Saat pertama kali membaca program CERDIK, saya merasa seperti sedang bercermin.
C – Cek kesehatan berkala
Saya hampir tidak pernah periksa kesehatan kecuali sudah sakit.
E – Enyahkan asap rokok
Ini yang paling menohok. Saya bukan hanya perokok, saya juga sumber asap bagi orang lain.
R – Rajin aktivitas fisik
Olahraga saya hanya berjalan ke warung membeli rokok.
D – Diet sehat seimbang
Gorengan dan kopi manis hampir menjadi menu wajib.
I – Istirahat cukup
Sering begadang tanpa alasan jelas.
K – Kelola stres
Dan setiap stres… saya merokok.
Tiba-tiba saya sadar:
Program CERDIK bukan sekadar materi edukasi untuk masyarakat.
Ia sebenarnya panduan untuk saya sendiri.
Relawan Bukan Orang yang Sudah Selesai, Tapi Orang yang Mulai
Saya sempat berpikir:
“Bagaimana mungkin saya mengajak orang hidup sehat kalau saya sendiri belum?”
Namun saya kemudian memahami sesuatu.
Relawan kesehatan bukanlah orang yang sudah sempurna.
Relawan adalah orang yang memutuskan berubah lebih dulu, lalu mengajak orang lain ikut berjalan.
CERDIK akhirnya tidak saya lihat sebagai slogan, melainkan sebagai perjalanan pribadi.
Saya mulai dari hal kecil.
Saya memberanikan diri melakukan C — Cek kesehatan berkala.
Pertama kali periksa tekanan darah, hasilnya tinggi. Itu mengejutkan. Saya merasa sehat, tapi ternyata tubuh saya bercerita lain.
Saya mencoba R — Rajin aktivitas fisik.
Awalnya hanya jalan pagi 10 menit. Bukan karena rajin, tapi karena takut.
Saya mulai D — Diet sehat seimbang.
Tidak langsung sempurna. Hanya mulai mengurangi gorengan.
Yang paling berat tentu saja E — Enyahkan asap rokok.
Saya belum berhasil berhenti total. Tapi saya mulai:
- mengurangi batang
- tidak merokok di dalam rumah
- tidak merokok di dekat keluarga
- menunda keinginan
Untuk pertama kalinya, rokok bukan lagi kebiasaan tanpa pikir. Ia menjadi sesuatu yang saya sadari setiap kali melakukannya.
Saya memulai I – Istirahat
Saya sering tidur lewat tengah malam.
Bukan karena kerja, tapi karena kebiasaan: ponsel, video, atau sekadar duduk sambil merokok.
Dulu saya berpikir penyakit jantung hanya soal makanan dan rokok.
Ternyata jantung juga “lelah”.
Saat mulai mencoba tidur lebih awal, saya merasakan perubahan kecil:
-
bangun tidak terlalu pusing
-
tidak mudah emosi
-
keinginan merokok pagi hari berkurang
Saya sadar, mungkin selama ini saya tidak hanya kecanduan rokok — saya juga kecanduan begadang.
Hal terakhir yang saya sedang lakukan adalah K – Kelola stress
Selama ini saya tidak benar-benar merokok karena nikmat, melainkan karena tidak tahu cara berhenti sejenak dari pikiran saya sendiri.
Jika jujur, alasan saya merokok bukan karena nikmatnya.
Alasan terbesar saya adalah stress.
Setiap ada masalah, rokok terasa seperti tombol “pause”.
Saya merasa lebih tenang, padahal itu hanya efek sementara nikotin.
Sekarang saya mulai mencoba cara lain. Ketika pikiran terasa penuh, saya keluar rumah tanpa membawa rokok. Saya berjalan sebentar, menarik napas perlahan, atau hanya duduk diam beberapa menit. Awalnya terasa aneh. Saya seperti kehilangan “pegangan”. Tetapi perlahan saya mengerti: yang saya cari selama ini bukan rokok, melainkan rasa tenang.
Setelah mengenal CERDIK, saya baru memahami:
stres kronis membuat hormon kortisol meningkat, tekanan darah naik, detak jantung lebih cepat, dan pembuluh darah menjadi tegang. Artinya, tanpa saya sadari, saya sudah memberi tekanan pada jantung bahkan sebelum rokok menyentuh bibir.
Mengelola stress ternyata bukan menghilangkan masalah, tetapi mengatur respon saya terhadap masalah.
CERDIK Mengubah Makna Relawan
Dulu saya kira relawan YJI tugasnya mengedukasi masyarakat.
Sekarang saya mengerti:
Relawan YJI adalah orang yang menjalani CERDIK, lalu membagikan pengalamannya.
Masyarakat sering tidak berubah karena ceramah, tetapi karena melihat contoh nyata.
Suatu hari mungkin saya akan berdiri di depan warga menjelaskan bahaya merokok. Dan saya tidak akan berkata,
“Jangan merokok karena buku kesehatan bilang begitu.”
Saya akan berkata,
“Saya juga pernah sulit berhenti. Saya mulai dari mengurangi. Dan ternyata bisa.”
Itulah kekuatan relawan — bukan pada kesempurnaan, tetapi pada kejujuran proses.
Menyelamatkan Orang Lain, Dimulai dari Menyelamatkan Diri
Saya akhirnya menyadari satu hal penting.
Sebelum menyelamatkan orang lain dari penyakit jantung, relawan terlebih dahulu diajak menyelamatkan dirinya sendiri.
Mungkin saya belum sepenuhnya berhasil.
Saya masih berproses.
Saya masih belajar.
Dan mungkin di situlah arti sebenarnya menjadi relawan :
bukan orang yang sudah sehat, tetapi orang yang memilih untuk hidup lebih sehat — lalu mengajak orang lain ikut melangkah.
Saat mulai memahami CERDIK lebih dalam, saya juga baru mengetahui satu hal penting.
Ternyata CERDIK bukanlah slogan yang dibuat oleh Yayasan Jantung Indonesia. Ia merupakan kampanye nasional Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam pengendalian Penyakit Tidak Menular. Lalu di mana posisi YJI?
Saya kemudian menyadari, YJI tidak mengambil peran sebagai pembuat kebijakan, tetapi sebagai penggerak masyarakat. YJI menyelaraskan pesan CERDIK dengan gerakan kesehatan jantung yang mereka bawa — gerakan SEHAT.
Karena pada kenyataannya, faktor risiko penyakit tidak menular adalah faktor risiko penyakit jantung itu sendiri: hipertensi, diabetes, merokok, kurang aktivitas fisik, stres kronis, dan pola makan tidak sehat.
Artinya, ketika seseorang menjalankan CERDIK, ia sebenarnya sedang melindungi jantungnya.
Saya menyadari sesuatu yang sederhana:
setiap kali saya menjalankan CERDIK, sebenarnya saya sedang menjalankan SEHAT.
Saya mengerti peran relawan YJI: bukan sekadar menyampaikan teori kesehatan, tetapi membantu masyarakat menerjemahkan CERDIK menjadi kebiasaan, sehingga tujuan akhirnya — jantung yang lebih sehat — benar-benar terjadi.








