Sukarni Empat Dekade Menyusuri Jalan, Menjaga Kisah Lewat Koran

Terbaru6 Dilihat


Di ujung jalan Ciputat Raya, persis di depan gerbang Kampus UIN Jakarta, sejak matahari baru menyingsing hingga mulai merunduk ke barat, sosok sederhana itu tak pernah beranjak pergi. Namanya Sukarni, usia menginjak 62 tahun. Selama 40 tahun penuh, lebih dari separuh perjalanan hidupnya ia curahkan untuk satu hal: menjajakan lembaran-lembaran surat kabar kepada siapa saja yang lewat.

Dari Jambi Menjejakkan Kaki di Tanah Rantau

Sukarni datang ke Jakarta dari Jambi, Sumatera, dengan bekal hanya keberanian dan mimpi. Ia tak ingin bergantung pada orang lain. Di tengah keterbatasan biaya, ia memilih jalur tak biasa: bekerja di siang hari dan melanjutkan kuliah kelas malam di sebuah perguruan tinggi swasta hingga meraih gelar Sarjana Pendidikan.

Bagi teman-temannya saat itu, Sukarni adalah gambaran perantau sejati: sangat sederhana, tutur katanya lembut, hatinya jujur, dan tangannya tak kenal lelah. Ia bisa saja melamar pekerjaan yang lebih “berwibawa” sesuai ijazahnya, namun hatinya memilih tetap setia pada jalan yang telah dipijak.

Empat Puluh Tahun di Atas Aspal

Setiap hari, tanpa mengenal hari libur, ia berjalan menyusuri sepanjang Jalan Ciputat Raya. Berpakaian kaos oblong yang sudah agak luntur, bersandal jepit yang sering ia perbaiki sendiri, dan membawa tas kain yang sudah menipis di bagian bahu.

Dahulu, gerobak atau tangannya penuh sesak: ada Kompas, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Pikiran Rakyat, dan puluhan judul lain. Waktu itu surat kabar adalah jendela dunia, satu-satunya sumber berita yang ditunggu-tunggu warga, mahasiswa, dan dosen. “Kalau hari libur, saya bisa bawa lebih dari 200 eksemplar dan habis terjual,” kenangnya sambil tersenyum tipis.

Namun zaman berubah. Dunia beralih ke gawai dan layar ponsel. Satu per satu penerbitan koran berhenti beroperasi, redup seperti lampu yang kehabisan minyak. Hari ini, hanya Harian Kompas yang masih bertahan menjadi satu-satunya barang dagangannya.

Setia Meski Angin Berhembus Berlawanan

Banyak yang menyarankan: “Pak Sukarni, sudah tua, cari pekerjaan lain saja atau istirahatlah.” Namun ia menggeleng pelan. Baginya, menjajakan koran bukan sekadar soal uang receh yang didapat. Ia melihatnya sebagai janji pada diri sendiri, rasa tanggung jawab, dan cara tetap bermanfaat bagi lingkungan.

Untuk melengkapi penghidupan, di rumah petakan kontrakannya yang sederhana di kawasan Ciputat, ia membuka lapak kelontong kecil-kecilan. Hidupnya sangat hemat, membujang seorang diri, tidak banyak keinginan, cukup jika perut terisi dan tempat berteduh ada di atas kepala.

“Mungkin bagi orang lain ini sudah ketinggalan zaman. Tapi bagi saya, setiap lembar koran yang terjual adalah jembatan agar orang tetap membaca, tetap tahu keadaan dunia. Selama masih ada yang mau membeli dan agen masih mencetak, kaki ini akan terus melangkah,” ujarnya dengan pandangan tenang.

Pelajaran dari Sang Penjaga Lembaran Berita

Kisah Sukarni mengajarkan makna kesetiaan yang jarang kita temui di zaman serba cepat ini:
✅ Ketekunan melampaui perubahan zaman: Ia tidak tergoyahkan meski profesi yang ditekuninya mulai ditinggalkan orang.
✅ Kebanggaan pada pekerjaan apa pun: Tak ada pekerjaan yang hina jika dikerjakan dengan jujur dan ikhlas.
✅ Pendidikan membentuk akhlak: Ijazah yang ia bawa tidak dipakai untuk gengsi, melainkan melandasi cara berpikir dan bertindak yang lurus.

Di tengah hiruk-pikuk perubahan teknologi dan gaya hidup, Sukarni tetap menjadi penanda. Ia adalah bukti nyata bahwa ketabahan dan kesederhanaan adalah kekuatan yang tak lekang oleh waktu.

Ciputat,
27 Juni 2026

Tinggalkan Balasan