Di peringatan Hari Veteran Nasional ini, tanggal 10 Agustus, aku tidak mengenang sosok besar di buku sejarah — aku mengenang ayahku. Seorang pemuda sederhana dari Balige, Sumatera Utara, yang namanya mungkin tidak tercatat di setiap halaman teks pelajaran, tetapi bagi kami, beliau adalah pahlawan yang paling nyata. Namanya N. Sitinjak.
Beliau lahir dan tumbuh di tanah Batak, lalu merantau ke Jakarta saat masih remaja. Menyelesaikan sekolah MULO — setingkat SMP di zaman Belanda — di tengah masa yang penuh ketidakpastian. Sebelum negara ini lahir, sebelum beliau memegang senjata, ayahku adalah pemuda biasa. Bahkan tercatat sebagai petarung bosen atau tinju amatir di Jakarta — pemuda yang tangguh, berani, dan tidak mudah menyerah, sifat yang kelak membawanya ke medan perang yang sesungguhnya.
Ketika kemerdekaan diproklamasikan, pemuda dari Balige ini tidak tinggal diam. Beliau masuk ke dalam Divisi X Siliwangi, pasukan yang menjadi kebanggaan Jawa Barat, dan ikut berdiri di garis depan pada Perang Kemerdekaan I dan II, tahun 1948–1949. Dua kali beliau melihat nyawa di ujung tanduk, dua kali beliau berdiri mempertahankan tanah yang baru saja merdeka. Atas pengabdiannya, pemerintah menganugerahi beliau dua bintang penghargaan.
Namun kisah paling dalam dan paling berat terjadi di Perang Kemerdekaan II. Saat pasukan Siliwangi berada di Jawa Tengah, diperintahkan kembali ke basis di Jawa Barat sehubungan gencatan senjata yang diputuskan pemerintah di Yogyakarta. Di tengah perjalanan, tepat di daerah Klaten, Jawa Tengah, musuh melanggar janji. Angkatan Udara Belanda tiba-tiba menggempur barisan pasukan yang sedang bergerak. Ledakan besar terjadi di dekat ayahku. Tubuhnya terangkat ke udara lalu jatuh kembali ke bumi.
Beliau selamat, tetapi tubuhnya tidak lagi sama. Luka parah di tangan dan kaki kanannya membuatnya harus dirawat secara intensif di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Beliau pulih, tetapi takdir berkata lain — tangan dan kaki kanannya menjadi cacat tetap. Karier militernya yang baru dimulai dengan penuh semangat harus berakhir di sana. Kesatuannya menghargai pengabdiannya dengan memberikan pangkat Mayor saat pensiun.
Namun semangat “Si Macan” — begitu teman seperjuangannya memanggilnya, sesuai lambang pasukan Siliwangi — tidak pernah patah. Setelah seragam ditanggalkan, beliau tetap berdiri tegak. Di zaman Orde Lama maupun Orde Baru, ayahku tetap aktif di tengah masyarakat, sekaligus berdagang gula antar-pulau — membuktikan bahwa seorang prajurit yang tidak lagi memegang senjata masih bisa membangun negeri dengan cara lain.
Beliau membangun dua keluarga. Yang pertama dengan Ibu Panjaitan, dikaruniai enam orang putra. Dan dengan ibuku, beliau dikaruniai satu putra — yaitu aku.
Aku masih ingat jelas masa kecilku. Sering datang ke rumah teman-teman seperjuangannya. Tawa mereka pecah, saling berpelukan, dan memanggil ayahku dengan panggilan yang penuh hormat dan sayang: “Si Macan.” Dan meski sudah lama pensiun, cacat di tangan dan kaki tidak pernah membuatnya malu. Jika ada acara khusus, seragamnya yang rapi dan bersih selalu beliau kenakan — lambang kehormatan yang tidak akan pernah beliau lepaskan.
Menjelang akhir hayat, di tahun 1980-an, saat usianya telah menginjak 82 tahun, Panglima TNI saat itu, Jenderal M. Yudohusodo, memberikan penghargaan terakhir: kenaikan pangkat kehormatan menjadi Letnan Kolonel Angkatan Darat, beserta anugerah Bintang Gerilya. Pemerintah mengusulkan agar beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Namun ayahku menolak dengan halus. Beliau memilih beristirahat di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta — di tengah rakyat biasa, tempat di mana beliau merasa menjadi bagian dari mereka yang diperjuangkannya.
Ayahku berpulang, tetapi pesannya tetap hidup di setiap detik waktu: bahwa menjadi pahlawan tidak harus selalu dengan senjata di tangan. Menjadi pahlawan adalah tetap berdiri tegak meski tubuh terluka, tetap bekerja jujur meski tak diangkat di berita, dan tetap mencintai negeri di mana pun kita berpijak.
Hari ini, di Hari Veteran Nasional, aku tidak hanya mengenang ayahku. Aku mengenang ribuan “Si Macan” lain — pemuda dari desa, dari pegunungan, dari pinggir sungai — yang merantau, berjuang, terluka, dan pulang dalam diam. Mereka adalah fondasi yang menopang negeri ini. Tanpa mereka, bendera ini tak akan berkibar.
“Sejarah mungkin hanya menuliskan nama di papan besar, tetapi kemerdekaan ini dibeli oleh darah dan keringat orang-orang seperti ayahku — pemuda dari Balige, petarung tinju, prajurit Siliwangi yang hingga akhir hayat tetap memanggil negeri ini: rumahnya.”
Ciputat,
10 Agustus 2026
#Hut81TahunBangsaIndonesiaMerdeka
SI MACAN DARI BALIGE: Mengenang Letkol N. Sitinjak, Prajurit Siliwangi yang Tak Pernah Luntur Semangatnya





