Obrolan Ringan Sepasang Lansia

Humaniora, YPTD12 Dilihat

Sepasang lansia ini sudah berusia 70 tahun, tetapi mereka masih terlihat sehat dan semangat menjalani hari-hari penuh dengan kegembiraan. Cucu-cucu mereka memanggil sebutan kesayangan dengan panggilan Yangkung dan Yangti, akronim dari Eyang Kakung dan Eyang Putri.

Bulan lalu mereka baru saja syukuran ulang tahun pernikahan yang ke-50. Ini adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang telah mereka jalani dengan berbagai ujian yang berhasil mereka lewati.

Malam itu jam dinding menunjukkan pukul 22.17 WIB, tetapi lampu kamar masih menyala sebagai pertanda sepasang lansia itu belum tidur. Sementara kipas angin tua berputar malas dengan mengeluarkan bunyi ngek-ngek.

“Kung belum tidur?” tanya Eyang Putri sambil melihat Eyang Kangkung di sebelahnya yang masih menatap langit-langit kamar.

“Iya Ti. Kalau mau merem, nanti mimpi indah. Tapi kalau melek, mimpi indahnya ada di sebelah.” Ujar Yangkung menggoda. Yangti hanya tertawa kecil mendengar godaan itu.

“Udah 50 tahun nikah, tapi rayuannya masih receh aja. Dulu waktu pacaran juga gombalannya gitu. Bilangnya ‘Nduk, nek kowe merem, aku kangen. Nek kowe melek, aku seneng’.” Balas Yangti sambil tertawa.

“Lha wong bener. Dulu kamu rambutnya dikuncir dua. Sekarang…” sambil mengelus rambut putih istrinya. “Sekarang dikuncir satu. Tapi yang aku sayang orangnya, bukan rambutnya.” Mereka tertawa bersama.

“Kung! Inget nggak dulu kita janji? Sampe gigi kita tinggal satu, kita tetep tidur sekamar, sekasur,” kata Yangti.

“Iya bener. Walau gigi kita tinggal satu, tapi janji kita masih utuh. Inget nggak, dulu kamu yang ngajarin aku masak. Sedang aku yang ngajarin kamu sabar kalo di dapur kompor meledak.” Kata Yangkung sambil tertawa lebar.

Yangti memegang tangan suaminya sambil tersenyum mendengar kelakar Yangkung. “Besok minta dibikinin teh anget atau kopi pahit tanpa gula?”

“Kopi pahit saja sayang, karena manisnya cukup memandang wajahmu.” Gombalan klise Yangkung keluar lagi. Lansia memang gombalannya sudah basi semua.

Pillow talk apapun namanya bagi sepasang lansia ini adalah momen-momen kegembiraan mereka yang tidak pernah dilewatkan begitu saja.

Yangkung dan Yangti selalu bahagia dalam keseharian mereka dari sejak bangun tidur sampai dengan mereka kembali tidur saat malam tiba.

Pada usia lanjut, mereka semakin berbagi perhatian dalam segala hal. Saat salah satu sakit, maka perhatian pasangannya sangat penting sebagai upaya penyembuhan.

Malam itu hujan di luar masih turun dengan deras. Airnya jatuh memukul genteng tua  bertubi-tubi sehingga suaranya terasa bising di telinga.

Waktu pada malam itu sudah menunjukkan pukul 23.02. Sejak siang tadi Eyang Putri merasakan tubuhnya demam. Eyang Kakung memeriksa suhu tubuh istrinya yang masih tinggi.

Lalu dia mengambil obat-obatan yang disimpan di meja nakas sebelah tempat tidur. Sementara itu alat tensimeter juga mulai dipasangkan di lengan istrinya untuk mengukur tensi. Segelas air putih juga sudah disiapkan.

“Ti! Ini obat darah tinggi yang ke-3 ya hari ini?” Jelas Yangkung. Begitu pula obat penurun panas sebelumya sudah diminum sehingga suhu tubuhnya sudah mulai normal.

Eyang Kakung masih duduk di pinggir ranjang dimana istrinya berbaring sakit. Sosok lansia ini menarik napas panjang merasa khawatir.

“Dulu kita lari-lari mengejar bis takut kesiangan masuk kerja. Sekarang, jalan ke kamar mandi aja harus berhenti dua kali.” Suara Yangti sambil memandang suaminya dengan senyum.

“Kung! Kamu terlihat lelah. Udah kamu bobo duluan. Sebentar nanti aku menyusul.” Suara Yangti meminta Yangkung beristirahat, tapi Yangkung tidak mau tidur duluan sebelum istrinya tidur.

“Aku cuma takut ketika besok aku bangun, kamu udah nggak ada di sebelahku. ” Eyang Kakung dengan suara pelan mengharukan menjawab permintaan Eyang Putri.  “Atau malah aku yang duluan… terus kamu kesepian.” Tambahnya.

“Lah, wong kita udah janjian dari 50 tahun yang lalu. ‘Sakit bareng, tua bareng’. Kalo nanti kamu duluan, aku nyusul. Juga kalo nanti aku duluan, kamu yang nyusul.” Timpal Eyang Putri.

” Tapi sekarang kita masih di sini. Masih bisa rebutan selimut, masih bisa debat obat ini pahit apa nggak.”Kata Eyang Kakung sambil tertawa. Eyang Putri merasa bersyukur, kepalanya bersandar di bahu suaminya.

“Iya Kung! Tujuh puluh tahun itu bukan kita takut mati, tapi untuk buktiin bahwa cinta kita lebih kuat dari tensimeter.” Ujar Eyang Putri sambil menatap suaminya. Eyang Kakung membalas tatapan istrinya dengan senyum cinta.

Hujanpun mulai reda sehingga suasana malam semakin hening. Tensimeter di meja sudah tidak berguna lagi karena tensi Yangti sudah kembali normal.

Ada dua tangan keriput yang saling menggenggam dengan erat untuk menguatkan janji mereka melanjutkan hidup sampai ke Alam Abadi.

Salam bahagia @hensa17.

Keterangan: Nduk, nek kowe merem, aku kangen. Nek kowe melek, aku seneng. Bahasa Jawa yang artinya kalau kamu merem aku kangen tapi kalau kamu melek aku senang.

Tinggalkan Balasan