Setiap Subuh rasanya hati ini damai. Masih di atas sajadah yang warnanya sudah buram, aku terduduk mencoba memikirkan diri sendiri. Penuh khusyuk bersimpuh di bahwah KakiNya.
Sementara di luar udara dingin dengan angin lembutnya masuk melalui ventilasi kamar, menusuk setiap pori-pori kulit tubuh.
Masih dalam momen termenung itu tetiba terbersit momen kematian. Ya kematian. Menurut tutur kata orang bijak menyebutkan bahwa hanya orang cerdas yang selalu mengingat kematian. Apalagi bagiku yang usianya sudah tiga perempat dari satu abad.
Jika sudah terbayang sebuah momen kematian, maka aku tetiba ingat bertobat. Jangan-jangan bekal amalku belum cukup dan banyak. Jangan-jangan dosa-dosaku malah semakin menumpuk.
Kematian yang sempurna adalah kematian yang selalu didahului dengan tobat yang sempurna. Itu adalah bahan perenunganku yang harus diperhatikan dengan baik.
Maka segeralah bertobat sebelum semuanya terlambat. Jangan sampai tobat itu belum aku tunaikan saat momen kematian itu hadir di depanku.
Mungkin aku harus mulai berpikir bahwa seorang hamba yang menyadari untuk bertobat sesungguhnya telah mengawali perjalanannya menuju kunci kebahagiaan bagi para Pengharap Ridho Allah.
Tobat itu memiliki esensi yang jelas yaitu kembali dari jalan yang jauh dari Allah menuju jalan yang dekat dengan Allah. Esensi inti dari tobat itu adalah rasa takut dari Murka Allah dan penyesalan.
Aku bersyukur sudah mampu menyadari untuk bertobat. Karena hal tersebut sesungguhnya aku telah mengawali perjalanannya menuju kunci kebahagiaan bagi para Pengharap Ridho Allah.
Momen kematian dan bertobat adalah dua hal yang penting perlu dipikirkan dengan serius dalam menjalani hidup ini.
Semakin aku memahami dan menghayati esensi tobat dengan baik, maka tobat itu adalah kewajiban setiap hamba dalam menjalani perilaku kehidupan sehari-hari.
Dalam pemikiranku tobat sudah menjadi kewajiban seorang hamba karena pada dasarnya manusia itu adalah tempatnya berbuat salah dan dosa. Coba simak dan ingat bahwa Rasulullah SAW saja setiap hari mengucapkan Istigfar sebanyak minimal 70 kali sebagai wujud pertobatan.
Aku mencoba mengingat dan membuka kembali Al Quran. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri” (Al-Quran Al-Baqoroh 122).
Sebuah acuan dari Kitab Suci yang sangat tepat dan wajib dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupanku.
Sungguh aku perlu juga bersyukur kepada Allah, karena telah mampu berpikir tentang kematian dan tobat.
Mati dan tobat dua kata yang terus menari-nari dalam pikiran ini. Sementara hari sudah menjelang siang. Aku bertekad jangan sampai terlambat untuk bertobat.
Salam bahagia @hensa17.
Dusun Sindang Palay 6 November 2026
*****







