BANGKU SEKOLAH

Terbaru714 Dilihat

BANGKU SEKOLAH
Moch. Syaechu Nasirudin *)

Bangku-bangku dalam ruang kelas masih berjajar rapi, namun sudah hampir setahun penuh belum ditempati, bahkan ada yang sama sekali tidak tersentuh hingga debu yang menempel mulai menebal.

Andai saja bangku tersebut bisa bicara, pasti akan ngerumpi saling menonjolkan diri, seberapa banyak ditempati oleh anak manusia yang berhasil, dan akan teriak merasa bosan berada di ruangan yang kurang terurus; sekaligus akan benar-benar rindu ditemapati oleh penuntut ilmu.

Kerinduan bangku juga dialami oleh sarana lain yang menjadi teman sepenanggungan dalam satu kelas, mengingat biasanya setiap hari merasa damai ditemani siswa yang mencari ilmu, atau mereka yang mempunyai niat menghilangkan kebodohan.
Saat ini para bangku sedang bersedih melihat prosesi pendidikan yang carut marut terkena dampak pandemi covid 2019 berkepanjangan, karena tidak bisa menyaksikan peserta didik sedang bermain dan interaksi sosial untuk belajar saling menghargai, yang nantinya akan berdampak ketika sudah bermasyarakat; tidak juga menyaksikan guru menguras seluruh kekuatanya dalam menyampaikan pesan-pesan moral kepada peserta didik.

Jika kondisi ini berlarut, muncul kekhawatiran baru, siswa yang setiap hari mempercayakan smartphone untuk memecahkan masalahnya, akan berubah pola pikir menjadi kurang percaya pada guru, yang akhirnya akan melupakan figur seorang guru; apalagi dalam pembelajaran tanpa pendampingan dan pengawasan dari wali murid. Di sinilah guru ditantang, walaupun pertemuanya hanya melalui alam maya, namun tetap mampu menanamkan norma susila dan agama dihadapan siswa.

Bagi bangku yang sudah termakan usia merasa jengkel, sebab peranya sama sekali tidak dimanfaatkan lagi, yang berarti amal baiknya untuk turut serta mencerdaskan generasi bangsa telah terputus, lebih jengkel ketika mereka yang sudah berhasil menjadi manusia melupakan peranya sebagai salah satu perangkat suksesi pembelajaran.

Kejengkelan para bangku tentunya bukan tanpa alasan, melihat orang-orang yang dulu pernah menempati ketika berstatus siswa, kurang mengindahkan penularan penyakit koronavirus 2019, bahkan ada diantara mereka yang tidak percaya keberadaan virus ini sehingga penularan virus semakin berlarut. Kejengkelan bangku juga ditujukan kepada guru, yang kurang memanfaatkan masa pandemi ini sebaik mungkin untuk meningkatkan kompetensinya.

Menurut bangku yang ditemapati Kepala Sekolah, terdapat beberapa typologi guru pada pandemi covid-19 ini, pertama, guru yang merasa tidak terbebani bahkan cenderung senang, sebab dengan program Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sama halnya membebaskan dirinya dari proses pembelajaran; guru typoogi ini biasanya kurang menguasai tehnologi informasi dan hanya memberikan pekerjaan dari rumah, tanpa memberikan ulasan kepada peserta didik.

Kedua, guru yang terkesan biasa-biasa saja, hampir sama dengan yang pertama, guru typology ini dalam melaksanakan tugas karena ada ketakuatan kehilangan jam pelajaran, atau faktor lain yang mengubah posisinya sebagai guru yang sudah memperoleh tunjangan, kalaupun mereka aktif dikegiatan peningkatan kapasitas, biasanya hanya berburu sertifikat saja.
Ketiga, guru kreatif inovatif, yaitu guru yang berusaha semaksimal mungkin memecahkan masalah yang dihadapi dalam proses pembelajaran, mengembangkan materi serta selalu berinovasi, sehingga siswa merasa nyaman dan tertantang. Guru typologi ini menggunakan kesempatan luang untuk menambah wawasan dan meningkarkan berbagai kearah profesionalime guru.

Akhirnya bangku yang ditemapati Kepala Sekolah bertanya pada beberapa bangku yang ditempati guru; kamu termasuk type mana? Semua bangku diam belum mampu menjawab, dan mesti bertanya pada gurunya sendiri.


*) Moch. Syaechu Nasirudin
Guru MI Nahdlatul Mujtama Tembeling, Kasiman, Bojonegoro, dan Guru MTs Plus AL Hadi, Padangan, Bojonegoro

Tinggalkan Balasan