Teks gambar : Tim Official Fotografer PON XX Papua, duduk paling kanan Opa Gino (foto dok FORWAN)
WARTAWAN OLAH RAGA DI PON –Melihat hasil liputan teman-teman wartawan dari arena Pekan Olah Raga Nasional (PON) ke-XX di Papua sekarang ini 2 – 15 Oktober 2021 — satu di antaranya ada sohib saya fotografer senior bang Gino Franki Hadi — saya jadi teringat kembali kenangan saya sekitar 21 tahun silam (1980-an) pada PON ke-XI di Jakarta.
Ketika itu, kantor tempat saya bekerja menugaskan untuk bergabung sebagai wartawan olah raga dalam tim liputan selama ajang nasional bergengsi PON ke-XI ini berlangsung.
Seperti diketahui PON XI, Jakarta menjadi tuan rumah. Upacara pembukaan dilakukan tanggal 9 September dan penutupan 20 September 1985.
Dilansir dari laman Facebook Anies Baswedan, Jakarta pernah menjadi juara umum PON sebanyak 11 kali dari total 20 kali penyelenggaraan PON.
Terakhir, Jakarta menjadi juara umum pada PON Riau 2012 dengan perolehan medali emas sebanyak 110, perak 101, dan perunggu 112 sehingga total keseluruhan DKI Jakarta menyabet 323 medali.
Sayangnya, pada PON Jawa Barat tahun 2016, DKI Jakarta harus puas di posisi ketiga di bawah tuan rumah Jawa Barat dan Jawa Timur.
DKI Jakarta dalam PON XIX Jawa Barat hanya mampu menyabet 132 medali emas, 124 medali perak, dan 118 medali perunggu sehingga total medali yang mampu disabet berjumlah 374 medali.
“Pada PON XVII Kalimantan Timur tahun 2008, DKI Jakarta juga belum mampu menjadi juara umum dan harus puas di posisi runner up di bawah Jawa Timur,” kata Gubernur Anies Baswedan, saat melepas Kontingen DKI Jakarta ke PON di Papua, seperti dikutip Tempo.co
DKI Jakarta, kata Anies, PON di Kaltim itu, hanya mampu membawa pulang 119 medali emas, 117 medali perak, dan 122 medali perunggu sehingga total medali yang dibawa pulang berjumlah 358 medali. Sedangkan Jawa Timur memborong total medali sebanyak 363.

Sementara dari laman antaranews.com memberitakan, tahun 2021 ini, dalam kompetisi PON Papua, Ketua KONI DKI Jakarta Djamhuron Wibowo, menargetkan DKI Jakarta menjadi juara umum dengan total torehan 171 medali emas.
“Atlet DKI bertanding di 37 cabang olahraga dan 67 nomor pertandingan bertekad meraih juara umum,” katanya.
******
Waktu itu saya masih bujangan. Baru datang dari Makassar untuk berjuang di belantara hutan beton Jakarta sebagai wartawan ibukota. Artinya, saya wartawan daerah yang masuk ke kota Metropolitan.
Meski bukan lagi wartawan pemula — di Makassar saya sudah menulis berita sebagai koresponden koran nasional — tapi namanya Jakarta, tentu masih sangat asing bagi seorang perantau yang “pendatang haram” hehe….
Jadi ketika saya harus meliput pertandingan malam hari hingga tengah malam, saya terpaksa tidak pulang ke tempat kos saya di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya ikut ke rumah teman di Ciputat, Tangerang, Banteng.
“Dari pada harus pulang ke Priok, yuk Nur nginap saja di rumah saya,” ajak Saut Pasaribu, teman wartawan dari surat kabar Harian Merdeka. Bang Saut saya kenal karena sama-sama pernah satu pos liputan di Jakarta Utara. Dia rupanya ditugaskan kantornya meliput PON.
*****
Pertama kali masuk Jakarta, saya langsung ditugaskan “nge-pos” liputan perkotaan, hukum, dan kriminal untuk wilayah hukum Jakarta Utara.
Markas utama liputan di Tanjung Priok. Meliputi kantor walikota, polres, pengadilan dan pelabuhan. Karena itu saya mencari tempat kos-kosan di daerah Tanjung Priok, ibukota kecamatan di Jakarta Utara.
Sementara, terus terang, pos liputan saya sehari-hari bukan olah raga. Tapi liputan bidang hukum, kriminal dan perkotaan saat itu. Namanya wartawan, ya tidak boleh menolak penugasan. Di bidang liputan manapun ditugaskan, ya harus bisa memberikan liputan yang terbaik bagi kantor.
Maka kejadian lucu, kocak pun terjadi. Seperti yang saya ceritakan pada tulisan saya 5 tahun lalu di blog pribadi #NurTerbitDotCom berikut ini. Semoga bermanfaat. Selamat membaca.
*******
Pengalaman Jadi Wartawan Olah Raga
5 tahun a go by nurterbit 4 Comments 631 Views
Written by nurterbit
Bernostalgia ke “markas” wartawan olah raga di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Meski tidak pernah secara khusus jadi wartawan olah raga, tapi pada PON XI tahun 1980-an ditugaskan kantor memperkuat tim liputan PON.
Sebagai reporter olah raga dan meliput pertandingan, terasa berbeda kalau meliput bidang lain. Minimal harus mengerti dan tahu cabang2 olah raga.
Lah, saya waktu itu lebih banyak liputan hiburan, hukum kriminal, perkotaan, sosial keagamaan dan sedikit nyenggol2 berita politik. Jadi ketika tiba2 ditugaskan meliput olah raga PON, serasa masuk rimba raya. Yang saya tahu, cuma pertandingan sepak bola, itu pun lebih banyak jadi kiper hehehe….

Saat PON XI berlangsung di Senayan, saya ditugaskan meliput pertandingan basket, tenis, dan beberapa cabang olah raga lain. Tim DKI Jakarta merajai pertandingan, dan halaman koran sore tempat saya bekerja diwarnai oleh berita2 PON hasil liputan saya dari lapangan.
Sekali waktu, berita saya diprotes oleh pendukung tim daerah di kuar DKI Jakarta. “Gimana sih ini wartawannya. Nulis beritanya keliru, masak tim DKI Jakarta kalah, koq ditulis menang?”. Saya pun meralat beritanya dalam pertandingan berikut. Kan begitu wartawan kan?
Untungnya cuma ditegur bos pemred di kantor, gak sampai dipecat hehe…Saya pun belajar dan berusaha lebih cermat lagi menulis berita. Sejak saat itu, liputan berita olah raga saya dari arena PON pun, tidak lagi dikomplain pembaca.
Apa rahasianya? Ini dia. Saat pertandingan berlangsung, saya tidak pernah jauh2 dari orang yang bertugas sebagai komentator — yang lagi live bersama reporter RRI atau TVRI. Waktu itu media belum seramai sekarang. Belum ada TV swasta, belum banyak koran harian apalagi media online
Dari komentator yang mengulas jalannya pertandingan inilah, saya mengutip untuk bahan berita selain memotret untuk illuatrasi. Toh media saya lain, koran cetak dan mereka elektronik. Biasanya komentator itu mantan atlit atau pelatih, sehingga tidak diragukan lagi pengetahuan olah raganya.
(Sekedar tambahan: salah satu komentator olah raga di televisi saat itu, adalah mbak Soraya Perucha, khusus di liputan cabang olah raga renang. Istri sutradara kondang Syumandjaja, memang dikenal sebagai mantan atlit renang. Di kolam renang ini juga, saya ketemu keluarga Nasution (Elvira Rosa Nasution bersaudara) — yang ketika itu mewakili kontingen PON dari Sumatera Utara).
Jadi, wartawan olah raga itu memang lain. Baik teknik liputan maupun cara mengemas beritanya. Saya salut dengan reporter olah raga, dan saya bangga pernah menjadi bagian dari mereka. Salam olah raga….. (GBK Senayan, Selasa/23/02/2016)
Tulisan ini juga menghiasi di beberapa akun media sosial saya : FB, Instagram, Twitter, Blog (#NurTerbit)

Ilustrasi foto : Kunjungan nostalgia ke “markas” wartawan olah raga SIWO PWI JAYA di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Meski saya tidak pernah secara khusus jadi wartawan olah raga, tapi pada PON XI tahun 1980-an ditugaskan kantor memperkuat tim liputan PON — foto Nur Terbit






