KRITIK: ANTARA LUKA DAN PEMBELAJARAN

Terbaru6 Dilihat

Usai mengikuti suatu forum rapat organisasi yang dipadati “lalu-lintas” kritik peserta rapat, tersisa kerancuan memahami apakah yang dilontarkan banyak peserta itu suatu kritik atau celaan.

Beberapa peserta memulai pembicaraan dengan mengatakan akan menyampaikan kritik, namun nada-nadanya terasa bagai celaan. Patut diakui sering kali apa yang dikatakan kritik terdengar seperti vonis. Begitu kata itu muncul, sebagian orang langsung bersiap bertahan membela diri, menjadi defensif. Sebagian lagi memilih menyerang balik.

Padahal, kritik sejatinya bukan piranti menghujat, melainkan alat belajar. Masalahnya bukan terletak pada kritik itu sendiri, melainkan pada cara kita memahami dan menyampaikannya.

Kritik itu harus dibedakan dengan celaan. Dalam makna yang sehat, kritik merupakan bentuk kepedulian. Ia lahir dari keinginan agar sesuatu menjadi lebih baik.

Kritik sejatinya menyoroti kekurangan, mengungkap kelemahan untuk diperbaiki. Sayangnya, di ruang publik—termasuk media sosial—kritik sering berubah menjadi celaan bahkan umpatan. Bahasa keras dianggap jujur, nada tajam dikira tegas. Akibatnya, pesan tersamar atau hilang, yang tersisa hanya luka membekas yang tidak mudah sembuh.

Kritik yang baik tidak cukup hanya betul atau benar. Karena betul itu tidak salah dan benar itu tidak bohong. Juga perlu tepat cara. Bahasa santun bukan berarti lemah, melainkan cerdas secara sosial. Kritik yang disampaikan dengan data, contoh jelas, dan empati justru lebih kuat daya ubahnya.

Alih-alih berkata, “Ini salah dan tidak bermutu,” kritik yang mendidik akan berbunyi, “Bagian ini bisa diperkuat dengan data agar pesannya lebih jelas.” Substansinya sama, dampaknya sangat berbeda.

Kritik yang membangun memberi arah. Ia fokus pada masalah, bukan mengungkit-ungkit soal bersifat pribadi. Ia membuka ruang dialog, bukan menutup harga diri. Orang yang menerima kritik seperti ini mungkin tidak langsung setuju, tetapi akan berpikir.

Sebaliknya, kritik yang merusak lebih sibuk menunjukkan siapa yang paling dianggap benar. Ia menghakimi, memukulrata dan sering disampaikan di ruang yang salah. Kritik semacam ini jarang menghasilkan perubahan, kecuali jarak dan permusuhan.

Kemampuan mengeritik dan menerima kritik adalah tanda kedewasaan berpikir. Ia membuka ruang belajar dan pengalaman dalam berkomunikasi. Masyarakat yang sehat bukan masyarakat tanpa kritik, melainkan masyarakat yang mampu mengelola kritik secara beradab.

Kritik yang baik tidak melukai, tetapi juga tidak memanjakan. Ia jujur sekaligus berempati. Dalam kritik yang demikian, kita tidak hanya memperbaiki sesuatu, tetapi juga menjaga kemanusiaan satu sama lain.
Karena pada akhirnya, kritik yang paling bermakna bukan yang paling keras, melainkan yang paling mencerahkan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan