Seorang filsuf Helenistik- Romawi bernama Plotinus yang dikenal sebagai pendiri dan tokoh utama aliran Neoplatonisme yang mengadaptasi pemikiran Plato
mengatakan:
” Pengetahuan memiliki tiga tingkatan Opini, Sains dan Iluminasi atau Intuisi. Masing-masing punya instrumen.
Opini merupakan instrumen Pengetahuan yang diperoleh dari pengindraan merupakan tingkat paling dasar. Diperoleh dari apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan lewat panca indra. Di dalamnya ada pendapat, pikiran, pendirian, atau gagasan seseorang mengenai suatu hal atau peristiwa yang sifatnya subjektif, belum pasti kebenarannya, dan dapat berbeda antara satu orang dengan yang lain. Namun Indra dikatakan seringkali menipu. Apa yang tampak benar belum tentu benar. Banyak orang menilai seseorang hanya dari penampilan atau kabar yang beredar. Cepat, tetapi belum tentu akurat. Pepatah lain mengatakan Jangan pernah menilai buku dari sampulnya”.
Pada tingkatkan Sain yaitu Pengetahuan yang didapat melalui Dialektika (Logika) menunjukkan manusia pada tahap ini mulai menggunakan akal, analisis, dan dialog kritis. Dialektika. Tepatnya dengan bertanya, menguji, membandingkan menjadi alat untuk mencari kebenaran yang lebih kokoh. Ini seperti proses ilmiah: mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan rasional.
Sedangkan pengetahuan yang didapat lewat Illumination/intuisi (Noesis/Intuition)
adalah tingkat tertinggi. Pengetahuan tidak lagi sekadar hasil indra atau logika, tetapi pemahaman langsung yang “mencerahkan”. Dalam istilah Plato, ini adalah penangkapan kebenaran sejati. Seperti momen ketika seseorang tiba-tiba memahami sesuatu secara mendalam tanpa keraguan dengan spontan berseru:“aha…!!!” atau teriakan Archimedes “Eureka…!!!” yang berarti “Aku telah menemukannya!”. Ia meneriakkan ini ketika menyadari prinsip daya apung
saat masuk ke bak mandi, yang membantunya memecahkan masalah kemurnian mahkota emas raja.
Kutipan Plotinus ini mengajak untuk tidak berhenti pada opini. Di era kini di mana informasi begitu cepat menyebar menerpa berbagai lapisan publik, banyak orang terjebak pada level pertama: percaya tanpa menguji. Tidak semua orang sampai pada tahap terakhir yaitu pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi. Karena itu membutuhkan keheningan Dan kebeningan berpikir, kedalaman refleksi, dan kerendahan hati untuk terus mencari makna sejati.
Sejatinya Pengetahuan sejati adalah perjalanan bertahap:
dari melihat, ke memahami,
hingga menyadari kebenaran secara mendalam dalam penghayatan. Seperti apa wujud tingkatkan pengetahuan yang dimaksud Plotinus setidaknya seperti berikut:
Pada tingkat Opini: “Katanya diet ini sehat…..” Ada terselimut nuansa ketidakpastian di dalamnya.
Pada tingkat Sains: “Apa bukti penelitian tentang diet tersebut?” logika mulai bekerja
Sedangkan pada tingkat Intuisi/Illuminasi: “Saya memahami secara utuh bagaimana tubuh bekerja dan apa zat-zat gizi yang benar-benar dibutuhkan.”
(Abraham Raubun. B.Sc. S.Ikom)



