STASIUN MANGGARAI: DARI KENANGAN LAMA KE WAJAH MODEREN

Terbaru6 Dilihat

“Pagi itu, niat lama untuk mengunjungi seorang teman di Cikarang dengan menggunakan KRL dari Stasiun Manggarai akhirnya terwujud. Ketika menunggu KRL, kenangan lama muncul dalam pikiran.

Di awal tahun 1971an, saat masa perkenalan mahasiswa (Mapram) di Akademi Gizi Jakarta, kami para calon mahasiswa diarahkan menuju stasiun ini untuk mengikuti kegiatan di Bogor. Tentu saja situasinya sudah jauh berbeda. Suasana sepi dan sederhana tak lagi ada, digantikan oleh berdesaknya penumpang ke beberapa jurusan.

Kini segalanya telah berubah.
Stasiun Manggarai telah menjadi salah satu stasiun tersibuk di Indonesia. Sebagai stasiun transit, melayani perpindahan penumpang Jabodetabek dalam sehari bisa melayani sekitar 150 ribu bahkan pernah mencapai 300 ribu penumpang transit.

Menelusur sejarah perkembangannya, Stasiun Manggarai tercatat mulai beroperasi pada 1 Mei 1918. Dirancang oleh arsitek Belanda, Ir. J. Van Gendt. Diresmikan untuk menggantikan Stasiun Bukit Duri yang saat itu berfungsi sebagai persimpangan utama di Batavia. Saat pertama kali diresmikan, atapnya sempat menggunakan kayu karena pasokan baja dari Eropa tertunda akibat Perang Dunia I.

Stasiun ini menjadi saksi bisu sejarah karena menjadi lokasi keberangkatan evakuasi rahasia Presiden Soekarno ke Yogyakarta pada 1946 saat pemindahan ibu kota. Dulu, stasiun ini juga memiliki menara air ikonik yang dibangun pada tahun 1920 untuk mengisi lokomotif uap.

Bangunan utama stasiun beserta bangunan seperti Menara Air Balai Yasa telah ditetapkan secara resmi sebagai bangunan cagar budaya.

Wajah modern Stasiun Manggarai kini ditandai bangunan yang luas dan jalur layang yang megah.
Tidak hanya berkembang sebagai pusat transit, kawasan Stasiun Manggarai juga akan segera dilengkapi dengan pembangunan rumah susun oleh PT Kereta Api Indonesia di atas lahan seluas 2,1 hektare. Proyek yang direncanakan mulai Juli 2026 itu mencakup tujuh tower setinggi 24 lantai dengan ribuan unit hunian, baik untuk masyarakat berpenghasilan rendah maupun kelas menengah.

Hikmah yang dapat jadi perenungan bahwa perubahan zaman adalah keniscayaan.
Dari Manggarai lama hingga Manggarai modern, kita belajar bahwa perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan. Manusia dituntut terus belajar dan beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya. Seperti kata Charles Darwin, ‘Bukan spesies yang paling kuat atau paling cerdas yang mampu bertahan, melainkan mereka yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan.
(Abraham Raubun B.Sc, S.Ikom)

 

Tinggalkan Balasan