TUMPENG JALAN LURUS MENUJU ILAHI

Terbaru14 Dilihat

 

Saat ini, tumpeng menjadi simbol budaya yang sering wajib ada dalam berbagai acara perayaan seperti ulang tahun, peresmian, atau syukuran di seluruh Indonesia.

Dijumpai sebagai tradisi kuliner khas Jawa, Bali, dan Madura. Berakar dari tradisi kuno masyarakat Indonesia untuk penghormatan dan memuliakan gunung. Gunung dipercaya sebagai tempat suci bersemayamnya arwah leluhur atau Hyang. Kemudian seiring perjalanan zaman berevolusi dipengaruhi  Hindu-Buddha digunakan sebagai sesaji persembahan hingga Islam.

Secara filosofis tumpeng diartikan sebagai tumapaking Gusti Pangeran Tumindak (jalan lurus menuju Ilahi). Tapi diartikan juga sebagai akronim Jawa “yen metu kudu sing mempeng” (jika keluar harus bersungguh-sungguh). Kalimat memotivasi agar melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati, tekuni, rajin atau serius demi hasil maksimal.Jalan lurus menuju Ilahi.

Bentuk kerucut tumpeng meniru Gunung Mahameru, persemayaman suci para dewa. Ini pengaruh Hindu-Buda, digunakan  sebagai sesaji persembahan.

Dengan masuknya Islam tradisi ini diadaptasi dalam nilai-nilai Islam. Maknanya berubah dari persembahan dewa menjadi bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tumpeng dilengkapi lauk-pauk.
Ini melambangkan kehidupan yang harmonis menyatu dengan alam. Nasi kuning melambangkan kekayaan dan kemuliaan, sementara nasi putih melambangkan kesucian.

Tumpeng bukan sekadar hidangan tradisional, melainkan simbol budaya yang menyatukan nilai spiritual, sosial, dan filosofis dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kehadirannya dalam berbagai upacara adat, syukuran, peresmian, hingga perayaan keluarga menunjukkan bahwa tumpeng memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar makanan.

Bagi dunia gizi  masyarakat, tumpeng juga dapat dipandang sebagai simbol makanan sehat dengan sumber zat gizi yang variatif. Mengandung lengkap protein nabati dan hewani, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral dari pangan lokal yang beragam. Jika diolah secara bijak, tumpeng dapat menjadi contoh pola makan berbasis kearifan lokal yang memanfaatkan bahan pangan Nusantara secara seimbang dan bernilai gizi.

Tumpeng bijak dipertahankan.
Di balik kerucut nasi dan aneka lauknya tersimpan filosofi hidup orang Indonesia: hidup yang harmonis dengan Tuhan, manusia, dan alam. Karena itu, menjaga tradisi tumpeng berarti menjaga akar budaya sekaligus merawat identitas bangsa di tengah arus globalisasi yang deras menerpa.
(Abraham Raubun.B.Sc. S.Ikom)

Tinggalkan Balasan