CRAB MENTALITY CERMIN BURAM DI MASYARAKAT

Terbaru6 Dilihat

Bermata bulat, berkaki sepuluh begitulah,
Bergerak menyamping, tak kenal lelah.
Di antara pasir dan batu karang,
Berjalan, dengan gaya  unik yang menantang

Itu penggalan sajak tentang kepiting atau ketam. Orang Inggris menyebutnya “Crab“. Krustasea dekapoda (berkaki sepuluh) nama ilmiahnya.

Tubuh dilindungi cangkang keras yang terbuat dari kitin, memang memiliki lima pasang kaki. Salah satunya merupakan sepasang capit kuat. punya nilai ekonomis tinggi yang kuat.

Tetapi ada yang unik dari si kepiting ini. Jalannya hanya bisa menyamping, karena memang bentuk kakinya hanya bisa menekuk ke samping.

Selain jalan menyamping ada perilaku unik lain dari mahluk yang satu ini. Jika sekumpulan kepiting dimasukkan ke dalam ember apa yang terlihat? Saat satu kepiting berusaha memanjat keluar untuk bebas, kepiting lain justru menariknya kembali ke bawah. Akibatnya, tidak ada satu pun yang berhasil keluar.

Perilaku ini digunakan untuk menggambarkan suatu sikap manusia dalam kumpulan masyarakat. disebut crab mentality atau mentalitas kepiting. Ini satu cermin gambaran buram di masyarakat.

Mengapa istilah itu digunakan? Banyak orang sulit merasa bahagia melihat keberhasilan orang lain. Crab mentality atau mentalitas kepiting itu jawabannya.  Sikap iri dan enggan melihat orang lain lebih maju dan berkembang.

Fenomena ini terasa nyata di sekitar kehidupan manusia. Seseorang mulai sukses, tidak berarti lepas dari terpaan cela.
Tidak sedikit orang bukannya mendukung, tetapi berusaha menjatuhkan. “Kalau aku tidak bisa berhasil, kamu juga tidak boleh tampil.” itu akan mewarnai setiap tindakan yang diambil.

Di organisasi, tempat kerja, sekolah, bahkan di media sosial, komentar negatif merebak hanya karena seseorang tampil lebih baik. Hanya karena merasa tidak dilibatkan. Seolah keberhasilan orang lain itu jadi ancaman bagi harga diri orang tertentu.

Sikap seperti ini tidak membawa siapa pun ke manapun. Sama seperti sekumpulan kepiting dalam ember yang saling menarik ke bawah. Mentalitas yang membuat  semua terjebak di tempat yang sama,  tidak ada yang benar-benar bisa maju dalam setiap usaha.

Perubahan memang dimulai dari cara berpikir. Menghargai keberhasilan orang lain bukan berarti suatu kekalahan, tetapi justru menunjukkan  kedewasaan dan sadar diri penuh kepercayaan.

Dari pada sibuk menjatuhkan, mengapa tidak belajar dari mereka yang dapat dibanggakan?
Mentalitas kepiting harus ditinggalkan. Diganti dengan mentalitas kolaborasi saling meninggikan, bukan saling tarik menarik ke bawah menjatuhkan.

Karena pada akhirnya, kemajuan sejati hanya bisa diraih jika  tumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan sesama.

Karena itu mengenali perasaan negatif tanpa menghakimi diri sendiri itu penting. Sadari keberhasilan orang lain sebagai peluang untuk belajar bukan ancaman. Ambil langkah kecil yang bisa berkembang. Lebih penting lagi apresiasi orang-orang yang memang berprestasi.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)
.

Tinggalkan Balasan