Berargumen itu dapat diartikan sebagai kegiatan saling berdebat untuk mempertahankan alasan masing-masing baik secara lisan maupun tulisan.
Itu suatu proses menyusun dan menyampaikan alasan (argumen) untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, gagasan, atau pendirian.
Utamanya meyakinkan orang lain tentang kebenaran atau validitas pendapat yang disampaikan. Acapkali menggunakan bukti dan alasan logis.
Namun ada kalanya terjadi penalaran atau logika yang salah dalam proses interaksi yang melibatkan komunikasi. Namanya “Logical fallacy“. Kesalahan penalaran atau logika yang membuat satu argumen terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya cacat atau tidak valid.
Satu kekeliruan berpikir yang merupakan pola penalaran, tampak logis di permukaan, tetapi sebenarnya menyesatkan.
Hal ini sering muncul ketika seseorang mengambil kesimpulan tergesa-gesa. Tak jarang menggunakan emosi sebagai dasar argumen. Bisa juga hanya mengikuti mayoritas tanpa memeriksa kebenaran.
Logical fallacy bisa terjadi kapan saja, di mana saja, pada siapa saja. Dalam percakapan keluarga, debat di media sosial, hingga keputusan-keputusan penting di lingkungan kerja.
Seseorang membangun kesimpulan dengan cara yang tidak tepat, karena dirinya merasa benar dan logis. Bisa terwujud dalam bentuk
menyerang pribadi, ikut pendapat mayoritas, atau menyimpulkan terlalu cepat. Sering dijumpai dalam medsos.
Kesalahan ini bisa terjadi karena argumen tidak memiliki dasar logis yang kuat dan mapan. Kesimpulan yang dibuat salah meski premisnya benar. Logical fallacy bisa digunakan secara sengaja untuk memanipulasi atau secara tidak sengaja karena kebiasaan berpikir yang buruk.
Apa bentuk yang sering muncul? Banyak ragamnya. Diantaranya ada yang disebut ad hominem, yaitu menyerang pribadi lawan bicara, bukan argumennya. Misalnya, “Kamu tidak layak bicara pendidikan karena kamu bukan guru.” Argumen ini tidak menilai isi pemikiran, tetapi menjatuhkan individu. menolak argumen seseorang karena dianggap “bodoh” atau “pemarah” atau mengataan “jangan dengarkan dia, dia kan pemabuk” meskipun argumennya mungkin benar.
Ada pula bentuk lain, namanya bandwagon fallacy. Ini soal menganggap sesuatu benar hanya karena banyak orang percaya. Banyak terlihat ketika orang membeli produk hanya karena sedang “viral,” tanpa menilai kualitasnya.
Strawman (Membelokkan Argumen). Ini mengubah argumen lawan menjadi bentuk yang lebih lemah lalu balik menyerangnya. Tidak menjawab inti pembicaraan, malah mendistorsi tujuan
yaitu mengubah, memutarbalikkan, atau menyimpangkan sesuatu dari bentuk atau makna aslinya.Tujuannya membuat argumen lawan terlihat konyol atau tidak masuk akal, sehingga lebih mudah untuk “dikalahkan”.
Ada lagi beberapa bentuknya.
Dampak Kekeliruan berpikir cukup serius.Dapat memicu kesalahpahaman, ketegangan hubungan, dan keputusan yang tidak bijaksan
Dalam skala yang lebih luas, dapat menyulut opini publik. Masyarakat menjadi mudah terpengaruh oleh berita palsu, propaganda, atau opini yang terdengar meyakinkan tetapi tidak berbasis fakta. Ruang diskusi publik penuh emosi, bukan rasionalitas yang memenangkan hati.
Logical fallacy kini semakin marak terjadi. Arus informasi lewat terpaan media sosial sangat cepat seakan tak tertahankan. Orang tergoda untuk bereaksi cepat, bukan berpikir mendalam dan cermat.
Emosi dan sensasi lebih mudah menyebar daripada data dan penjelasan yang mendamaikan pikiran.
Maka, kemampuan berpikir kritis menjadi penting. Menahan diri sejenak, bertanya, dan menelusuri sumber dapat membuat lebih berpikir jernih.
Dengan itu, bukan hanya menghindari disesatkan, tetapi juga membantu membangun percakapan yang lebih sehat dan bermakna dalam keseharian penuh hikmat.
Hal-hal ini sering terjadi karena itu jangan terburu-buru menyimpulkan atau tidak mengecek informasi. Menyadarinya membantu kita dapat berdiskusi dengan lebih tenang, jernih, dan tidak mudah diseret emosi atau opini yang tampak meyakinkan di permukaan namun diselimuti hal menyesatkan.
(Abraham Raubun. B Sc, S.Ikom)


