PERAHU

Terbaru351 Dilihat

Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom

Burung camar terbang melayang rendah dipermukaan laut. Matanya tajam mengintai sasaran yang berenang dalam air. Angin laut sepoi-sepoi bertiup menyapu wajah Seruni yang halus. Sudah hampir satu jam ia duduk di tepi pantai itu. Riak gelombang yang mengalun, tak sebesar riak yang berkecamuk dalam hatinya. Tatapannya jauh lepas menelusur kaki langit. Tatapan yang penuh harapan akan munculnya perahu nelayan yang pulang dari melaut.

Ini hari ke tiga ia duduk disitu. Namun perahu yang ditunggu tak kunjung muncul. Matahari mulai lingsir ke ufuk Barat tapi Seruni belum mau beranjak.

Di suatu senja Seruni dan Jaka duduk di tempat yang sama. Alam sekitar menebar suasana aroma laut dibawa angin berembus lembut. Sepasang insan yang memadu kasih itu terbuai dalam keremangan senja. Kata hati telah menyatu untuk meniti rumah tangga disuatu waktu. Tiga tahun sudah tali kasih itu terjalin. Kini tinggal menunggu hari yang disepakati kedua keluarga.
Di kejauhan melintas kapal penangkap ikan.
“Satu saat nanti aku akan punya kapal penangkap ikan sendiri.” Jaka berbisik di telinga Seruni. Itu kata-kata terakhir Jaka.

 

Tinggalkan Balasan