MARIACHI SENANDUNG MUSIK PENYIMPAN EMOSI

Terbaru14 Dilihat

Susunan nada atau suara dari vokal atau alat musik dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal menghasilkan irama, melodi, serta keharmonisan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran. Itulah musik.

Bisa sebagai hiburan menjadi sarana relaksasi dan kesenangan bagi pendengar.
Media curahan isi hati pencipta atau penyanyi, ekspresi diripun jadi. Digunakan dalam Upacara sebagai pengiring ritual, adat, atau kegiatan sakral. Bahkan menjadi sumber penghasilan bagi para musisi dan industri kreatif.

Di berbagai budaya ada berbagai musik. Di Meksiko terutama di wilayah Jalisco dan Meksiko bagian Barat, dikenal jenis musik rakyat tradisional, serta nama kelompok musisi yang memainkannya. Suatu grup Mariachi. Biasanya mengenakan pakaian khas peternak tradisional bernama traje de charro dan pakaian bergaya penunggang kuda Meksiko, lengkap dengan topi lebar (sombrero).

Kelompok ini memainkan berbagai alat musik seperti gitar, biola, terompet, dan vihuela dan guitarrón (bass gitar khas mariachi).

Namun, Mariachi bukan hanya soal penampilan. Di dalamnya terdapat cerita tentang cinta, keluarga, kehilangan, kebanggaan, persahabatan, kehidupan dan tanah air. Salah satu kekuatan Mariachi adalah kemampuannya menyampaikan emosi secara langsung. Karena itu menjadi musik penyimpan emosi.

Di pesta-pesta pernikahan atau perayaan keluarga lagu Mariachi  terdengar sangat meriah. Tetapi ada kalanya musik yang sama juga dapat berubah suasana. Musik ini menjadi sangat menyentuh ketika nyanyian dinyanyikan tentang kerinduan, perpisahan atau kehilangan.

Mariachi seakan mengatakan:  Tidak semua perasaan harus dijelaskan dengan kata-kata; kadang- kadang musik mampu mengatakannya dengan lebih jujur. Suara terompet yang kuat, gesekan biola, petikan gitar dan suara penyanyi berpadu menjadi sebuah ekspresi emosional yang khas.

Bagi Meksiko, Mariachi tidak hanya hidup di panggung, tetapi hadir dalam berbagai peristiwa kehidupan masyarakat di pernikahan, ulang tahun, festival, perayaan keagamaan, bahkan saat seseorang ingin menyampaikan penghormatan Dan perasaan kepada orang yang dicintai.

Mariachi telah ditetapkan oleh badan Dunia UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2011: “Mariachi, string music, song and trumpet”. Ini menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sesuatu yang hanya disimpan di museum. Ia tetap hidup ketika dimainkan, dinyanyikan, diwariskan dan digunakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Apa pelajaran yang dapat dipetik dari Mariachi? Tradisi tidak akan bertahan hanya karena kita mengatakan bahwa tradisi itu penting. Ia bertahan karena ada generasi yang mau mempelajari dan meneruskannya. Budaya menjadi kuat ketika dipraktikkan.

Mariachi menunjukkan bahwa melestarikan budaya tidak selalu berarti membekukannya dalam bentuk lama. Ia terus mengalami perkembangan tanpa kehilangan ciri dasarnya.

Berbagai alat musik yang digunakan memiliki karakter masing-masing, tetapi semuanya harus menghasilkan harmoni. Ini menjadi metafora yang menarik bagi kehidupan masyarakat: perbedaan tidak harus dihapus untuk menciptakan keselarasan.

Biola tidak harus menjadi terompet, terompet tidak harus menjadi gitar, dan gitar tidak harus menjadi guitarrón. Itulah nilai filosofi yang dikandungnya. Masing-masing memiliki suara dan fungsi sendiri. Namun ketika dimainkan bersama, perbedaan tersebut justru menghasilkan musik yang indah.

Kebersamaan tidak berarti keseragaman. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk menyelaraskan perbedaan menuju dan menggapai tujuan bersama.

Mariachi mengajarkan bahwa budaya adalah ingatan yang diberi suara. Di dalam musiknya tersimpan sejarah, emosi, identitas dan pengalaman manusia. Mungkin tak dapat disangkal inilah alasan mengapa mariachi tetap hidup: karena manusia, di mana pun berada, selalu membutuhkan cara untuk merayakan kebahagiaan, mengungkapkan cinta, mengenang kehilangan, dan menyatakan siapa dirinya.

Bagi bangsa Meksiko Mariachi bukan sekadar musik. Ia cara bangsa itu mengatakan: “Inilah kami, inilah cerita kami, dan inilah suara kami.”
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan