Jawaban Sebuah Doa

Terbaru658 Dilihat

Jawaban Sebuah Doa

Lima tahun telah berlalu sejak pernikahan Adit dan Dian, mereka begitu bahagia walau apa yang mereka harapkan belum juga terwujud. Tiada hari-hari yang di lalui tanpa canda tawa, sesekali mereka kecewa namun tak apa Adit selalu bisa buat Dian tertawa kembali.

Sebagai pasangan suami istri tentu mereka memiliki impian untuk bisa mendapatkan keturunan. Dari menikah mereka progamkan untuk segera  hamil. Minum susu promil Dian lakukan. Tak lupa mereka juga meminta pada Tuhan untuk segera di berikan keturunan sebagai pelengkap kebahagiaan mereka.

“Mas, nanti sepulang kerja antarkan aku ke dokter ya “! pinta Dian.

“Loh emangnya kamu sakit ?” tanya  Adit begitu khawatir.

“Ga, Mas aku ga sakit aku mau cek aja ke dokter”. Jelas Dian.

“Oke Mas kerja dulu ya… kamu baik-baik di rumah,” pesen Adit. Bersalaman dan kecup kening selalu Adit lakukan untuk istrinya sebelum Adit berangkat kerja.

Seharian Dian di rumah, banyak aktivitas yang ia lakukan. Mulai dari memasak membereskan rumah dan juga jalankan usahanya membuka salon kecantikan dan juga jualan online. Hari-hari Dian lalui dengan penuh semangat. Tak pernah ia mengeluh melakukan pekerjaan rumah dan juga usaha salonnya. Sesekali di hari libur Adit membantu pekerjaan rumah seperti mengepel lantai. Adit ingin sedikit meringankan pekerjaan Dian walau itu hal kecil dan itu Adit lakukan di saat Adit libur.

Tepat pukul lima sore Adit sampai rumah. Dian sambut Adit dengan senyum kebahagiaan, di bawakan air putih untuk Adit sekedar untuk menghilangkan dahaganya. Hal itu yang sering Dian lakukan sesampainya Adit di rumah.

Sementara menunggu Adit mandi,  Dian membaca buku barunya.

“Ayo Dik kita berangkat!” Ajak Adit.

“Mas dah rapi? waah sore ini Mas kelihatan ganteng deh,” puji Dian.

“Yee, emangnya kemarin-kemarin ga ganteng apa”?  sedikit agak manyun.

“Ga Mas, Mas tetep ganteng kok..kemarin, saat ini dan lusa selamanya Mas ganteng di mataku, hanya saja hari ini ada sesuatu yang aku lihat hingga Mas seperti lebih ganteng dari biasanya”. Mata Dian berbinar memandang suaminya.

“Apa itu dik? tanya Adit dengan sedikit mendekat untuk meraih tangan Dian.

“Apa ya…?” Dian masih buat Adit penasaran.

Segera Dian raih tangan Adit menggandengnya serta Dian bisikkan sesuatu di telingan Adit.

“Mas kelihatan lebih ganteng saat ini karena Mas mau mengantarkan aku ke dokter hari ini”.Jelas Dian.

“Aah dik Dian bisa aja lhu, kan udah kwajibanku mengantarkan ke dokter bahkan tidak hanya itu saat kau minta sesuatu akan aku usahakan semampuku untuk bisa penuhi”. Kata yang begitu mampu tentramkan hati Dian.

Adit begitu penyayang dan selalu berlaku lembut terhadap Dian.

Mereka pun berangkat ke dokter dengan harapan apa yang mereka inginkan segera terwujut.

Sesampainya mereka ke dokter Dian di periksa dan hasilnya masih zonk. Dian belum di ijinkan Tuhan untuk bisa mengandung. Adit ataupun Dian  sedikit kecewa namun mereka harus tetap menerima. Dian berharap  Adit tak kan berkurang dalam menyanyangi dan mencintainya. Hal yang membuat hati Dian hancur adalah Dokter mengatakan bahwa Dian harus operasi karena dalam dinding rahimnya ada miom yang harus segera di angkat.

Beberapa bulan paska operasi Dian merasa ada yang lain dengan dirinya. Mudah lelah dan juga kadang Dian tak bisa kendalikan emosi. Tekanan dari pihak keluarga Adit terutama ibu mertuanya bisa mempengaruhi dirinya. Adit adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya tak heran orang tuanya inginkan Adit segera memiliki keturunan.Namun Tuhan berkehendak lain selama Adit belum juga diberikan keturunan.

Baik Adit ataupun Dian hal itu tak masalah, mereka tak ada yang berubah dari awal pernikahan sampai saat ini. Adit bisa menerima Dian apapun keadaanya. Mereka lakukan berbagai hal untuk bisa mendapatkan keturunan. Suatu saat saat Dian lelah dan seperti menyerah namun Adit selalu bisa berikan kekuatan dan suport untuk  selalu mengajak Dian sabar mengahdapi masalahnya. Keluarga dan orang tua Aditlah yang sering memojokkan Dian. Hal itu membuat Dian bersedih hati. Cibiran dan kata-kata menyakitkan selalu mampir di telinga Dian saat Adit dan Dian berkunjung ke rumah.

Hal itu yang membuat Dian serasa malas untuk datang dan berkumpul dengan keluarga Adit.

“An, kamu tu jangan malas jadi istri itu ya, rajin olah raga makan-makanan yang sehat agar kamu bisa segera punya anak.  Cari solusi  kek gimana jangan hanya menunggu,” Ucap ibu mertua Dian.

“Iya bu, aku dan Mas Adit juga sudah berusaha,” jawab Dian.

“Halaah, sampai kapan Dian, aku sudah tak sabar untuk bisa menimang cucu. Jika memang kau tak bisa berikan keturunan ya… gimana ya…,” suara mertua Dian terpotong dengan kedatangan Adit.

“Ibu, jangan mendesak Dik Dian terus, kami sudah berusaha, bu, dan semua kami serahkan pada Tuhan. Kami hanya bisa berusaha dan Tuhanlah yang menentukan.” Timpal Adit

Beruntung Adit datang di saat yang tepat jika tidak kata-kata yang lain pun akan ibu mertua Dian lontarkan. Dan hanya sakit yang hanya bisa Dian rasakan. Wanita mana yang tak inginkan segera memiliki keturunan, namun semua Tuhanlah yang berkehendak. Dian juga wanita pada umunya yang inginkan hal itu, Dian juga wanita biasa yang saat ditanya kok belum memiliki anak? Itu sangat-sangat menyakitkan. Bukannya mereka menghibur memberikan support tapi malah mereka hanya berikan cemoohan dan juga sindiran.

Beruntung Adit tipe suami yang selalu bisa buat Dian tenang dan bisa menghalau kata-kata orang lain yang dapat membuat Dian sakit. Adit mengajak Dian untuk bisa mengadopsi anak. Namun lagi-lagi orang tua Dian tak menyetujuinya. Bahkan meminta Adit untuk menceraikan Dian.

Betapa sakit dan hancur hati Dian mendengar hal itu. Padahal Adit tak ada sedikitpun untuk berpikir sampai sejauh itu. Setiap keluarga pasti akan dapati masalah. Entah apa masalahnya tentu ada jalan keluarnya. Cerai bukanlah solusi terbaik, hal itu justru sangat di benci Tuhan.

Adit dan Dian tak mendengar kata-kata dari ibunyan mereka tetap mengadopsi seorang anak. Kebetulan ada saudara dari orang tua Dian yang melahirkan namun karena suatu hal maka ibunya meninggal. Memiliki beberapa anak yang amsih kecil-kecil membuat Ayah bayi tersebut harus mengiklaskan untuk bayinya di adopsi oleh Adit dan Dian.

Hari berganti terasa begitu cepat. Kini Dian seprti lebih semangat lagi dalam jalani harinya. Dia fokus mengurus bayi yang ia adopsi sampai ia tinggalkan usahanya untuk sementara waktu. Sementara Adit  setiap saat selalu berikan pengertian pada ibunya agar bisa menerima bayi itu. Lambat laun kesabaran Adit terbalas juga. Ibunya bisa menerima bayi itu dan bahkan sering datang ke rumah untuk menengok bayi mungil itu. Terketuk hati seorang ibu melihat kelucuan bayi yang kini sudah berusia delapan bulan. Bayi yang lucu dan menggemaskan.

Semua kan indah pada waktunya, Tuhan tak akan membiarkan hambanya selalu dalam kesusahan dan selalu berikan jalan keluar dari setiap masalah yang kita hadapi hadirkan Tuhan di setiap langkah kita. Adit dan Dian tersenyum bahagia bersama putri cantik mereka. Bayi mungil itu seperti mentari yang mampu menyinari dan mengangatkan  hati keluarga Adit. Mentari  tetaplah bersinar berikan hangatmu selalu untuk kami.

#KarenaMenulisAkuAda

#Day21KMAAYPTDChallenge

Gunungkidul, 11 September 2021

 

 

Tinggalkan Balasan

2 komentar