Jiwaku Memanggilmu

Suara anak-anak bermain di jalanan dekat sekolah terdengar begitu asik dan bahagia mereka bercengkrama bersama. Padahal sekarang harusnya ada pembelajaran walaupun hanya lewat daring. Di sekolah kami hanya bisa melaksanaakan PJJ dengan WA Grup saja kadang dengan mengirim Vidio Youtube dan untuk praktek dengan video call dan mengirimkan video.
Dari sekian siswa tidak semua bisa langsung mengakses materi dan tugas-tugas yang di berikan. Hal ini membuat para guru berusaha untuk bisa memantau siswa-siswa yang sekiranya mengalami hambatan. Dan benar adanya di antara anak-anak yang bermain di dekat sekolah setelah ku dekati, ada di antara mereka siswa kelas dua. Aku hafal sekali dengan anak ini. Saat masih kelas satu aku dampingi ia karena pada saat teman-teman sudah berhamburan keluar saat jam istirahat tapi dia belum juga beranjak. Maka aku dekati dan aku ajak ngobrol. Dari sana aku tahu jika dia hanya tinggal bersama neneknya yang sudah tua dan juga pamannya.
Waktu masih pembelajaran tatap muka saat jam-jam istirahat aku sering dampingi ia untuk belajar membaca. Ya dia belum dapat membaca. Setelah BDR pun saya tak lagi bisa dampingi ia belajar. Lama saya berkeinginan untuk mengujungi rumahnya, namun ada salah satu rekan kerja kami yang melarang karena keadaan keluarganya yang memprihatinkan.
Hal itu justru keinginan ku bertambah kuat untuk datang kesana. Benar adanya aku dan teman mengunjungi rumahnya . Dan apa yang aku lihat membuat hati ini menangis pilu. Ya rabb masih ada siswa kami yang keadaanya seperti ini. Menangis diri ini. ampuni hamba ya rabb hamba buta dan tuli.
Hari ini aku panggil dia untuk aku ajari belajar membaca di sekolah. Alhamdulilah sedikit ada peningkatan. Ada beberapa huruf yang dia bisa hafalkan. Sebenarnya dia jika ada yang dampingi pasti bisa membaca. Sayang dia hanya tinggal bersama nenek dan pamannya yang kebetulan mengalami gangguan jiwa. Ibunya merantau di kota lain untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dia Sejak kecil di tinggal oleh Ayahnya. Entah kemana yang jelas sejak umur tiga bulan dia dah di tinggal ibunya bekerja dan tinggal bersama neneknya tersebut.
“Ayo, Galang. Coba tirukan ibu baca lalu Galang tulis kembali ya! Ajakku.
“Iya, Bu,” jawabnya.
“Galang baca ya, Bu. G, i, l, a, n g. Gilang.” Suara bacaan Gilang membuatku terharu. Setelah beberapa saat belajar, dia mampu kuasai dan hafal beberapa huruf. Minimal untuk menulis namanya sendiri dia bisa.
“Semangat, Nak. Kamu pasti bisa. Semoga kita selalu ada kesempatan untuk belajar bersama ya.” Ucapku.
Tiba-tiba dari pintu masuk terdengar temanku mengatakan sesuatu. Biasa di mana pun kita berada tiap akan berbuat baik tentu tak semua orang bisa menerimanya. Dan bahkan menganggap kita cari muka.
“Halah, Bu. Akan betah berapa lama Ibu dampingi siswa. Besok-besok pasti juga Sudah capek. Banyak lhu siswa kita yang ga bisa baca, Ibu mau dampingi semuanya.” Katanya sinis.
Tak ku hiraukan ucapannya. Aku tetap fokus belajar bersama Gilang. Beberapa saat setelah Gilang aku suruh pulang dan memintanya untuk besok datang lagi ke sekolah. Lumayan sedikit-sedikit dan sebentar saja telah sedikit membuatnya semakin pintar menulis dan membaca.
“Maaf, Bu. Tadi saya tak merespon ucapan Ibu. Kasihan Gilang nanti Bu.” Ucapku.
“Ga pa-pa,Bu. Ibu kan sibuk.” Masih dengan sinisnya beliau menjawab.
Aku tetap tersenyum. Biarlah semoga suatu saat terketuk hatinya untuk dapat melakukan hal yang sama. Bagimanapun semua murit-murit kita baik yang pandai ataupun tidak adalah tanggung jawab kita sebagai guru untuk mendidik dan mengarahkan mereka. Aku tetap lakukan apa yang menjadi keinginan hatiku untuk tetap bisa buat murit-murit tak kehilangan haknya.
Untuk kedua kalinya Gilang datang ke sekolah untuk belajar. Aku sampaikan ke Ibu kepala sekolah untuk mohon izin siswa datang ke sekolah walaupun masih PPKM. Bukan tak mematuhi anjuran dan ketetapan dari dinas. Aku hanya ingin mengupayakan dan berikan hal terbaik untuk siswaku. Dengan tetap menggunakan prokes penyebaran covid-19 aku di izinkan Ibu Kepala Sekolah untuk bisa damping belajar Gilang. Karena memang keadaan Gilang tak memungkinkan untuk bisa belajar daring.
Hari itu Gilang datang bersama neneknya. Neneknya hanya menyatakan terimaksih atas apa yang aku lakukan. Semangat Gilang dan juga Neneknya membuatku makin bersemnagat pula. Malah Ibu kepala sekolah meminta semua guru untuk bisa cek siswa yang mengalami hambatan dalam belajar daring. Setelah itu di harapkan setiap guru atau wali kelas wajib untuk bisa damping siswanya yang membutuhkan.
Begitu pula Bu Rini yang saat itu mengucapkan sesuatu padaku. Bersyukur di mulai dari aku dampingi belajar siswa di sekolah dengan waktu terbatas maka semua guru malah di wajibkan. Hari demi hari ada peningkatan belajar untuk siswa yang perlu bimbingan. Semoga keadaan semakin membaik hingga semua siswa dapat menerima haknya tanpa ada hambatan dan segala persoalan daring.
#KarenaMenulisAkuAda
#Day30KMAAYPTDChallenge
Gunungkidul, 22 September 2021



