Penantian

Terbaru387 Dilihat

Penantian

Suara adzan maghrib terdengar merdu dari mushola dekat rumahku. Segera kututup candela dan kuletakkan hand phone yang sedari tadi masih dalam genggamanku. Berharap Mas  Angga masih bisa menghubungiku setelah suara petir menyapa tanpa permisi, gemuruhnya mampu   mengagetkanku serta menghentikan pertemuanku dengan Mas Angga melalui panggilan WA.  Ada rasa was-was karena selama empat hari tiada mendapat kabar darinya belum juga selesai saling bertanya kabar tiba-tiba terhenti begitu saja.

Siapa yang tidak akan merasa sedih. Ku hilangkan segala gundah gulana  segera ku ayunkan langkah untuk  ambil wudu dan tunaikan salat mahrib. Kusebut kau dalam doa.  Merindumu hanya bisa terobati dengan doa-doa indah yang kupinta pada sang pemilik jiwa, Allah SWT. Ketenangan segera hadir, kulanjutkan untuk membaca ayat-ayat quran agar hati semakin tenang. Betul saja setelah hal itu aku lakukan hati ini merasa lebih tenang.

Segera aku kirim pesan chat untuk Mas Angga. Berharap kali ini Mas Angga bisa menerima pesanku dan membacanya.

[Maaf Mas tadi terputus ? Gimana keadaan Mas ? baik-baik aja kan ? ] tanyaku dengan penuh harap.

Tanda ceklis satu. Upz artinya pesanku belum sampai dan belum bisa Mas Angga baca. Kutarik nafas panjang dan ku buang pelan serta pejamkan mata. Itulah yang sering aku lakukan seperti pesan Mas Angga di kala hati tidak nyaman maka aku lakukan hal itu.  Kenangku pada seseorang yang telah mampu buat diriku jatuh hati.

Sudahlah semoga Mas Angga baik-baik disana. Akupun segera lakukan aktivitasku  sambil menunggu adzan isya kubuka lagi buku kumpulan  cerpen “2020 bercerita” kubaca lembar demi lembar sampai terbaca beberapa judul. Membaca adalah kesukaanku dari dulu semenjak duduk di bangku SMP dan berlanjut sampai sekarang. Bagiku membaca dapat membuat hati senang bisa melupakan hal-hal buruk yang ada dalam pikiran kita. Tidak heran buku-buku memenuhi rak buku yang terpajang di dalam kamarku. Bukulah yang selalu menemaniku menghabiskan hari-hari sebelum aku menemukan Mas Angga dan kuputuskan untuk menerimanya sebagai calon suamiku.

Tak terasa adzan isya’pun berkumandang dan segera aku tunaikan. Masih tetap berharap dan menunggu akan kabar dari Mas Angga. Biasanya tiap kali waktu salat tiba dia selalu mengingatkan dan jika berkesempatan kami salat bersamaan walau dilakukan  di lain tempat. Namun tidak mengurangi kedamain yang dapat kami rasakan setelah melakukan salat.

[Mas ayo salat isya’ dulu, Aku tahu kau disana   mengingatku dan juga berharap malam ini kita bisa salat isya bersma. Mas baik-baik disana ya ] tak ada balasan. Tak terasa air mata menetes di pipiku, hangatnya membawaku semakin merindumu. Kekawatiran pastilah ada.

Selepas isya aku hanya rebahan dan sesekali membaca buku yang belum aku selesaikan, malam semakin merangkak naik jam dinding sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB aku pun tetap berbaik sangka, semoga Mas Angga di sana baik-baik saja. Tak ada tanda-tanda dia membalas chat yang aku kirim. Hawa dingin merasuk tubuhku, hujan yang mengguyur bekasnya masih terasa. Hujan selalu bisa membawaku merindumu.

Tak terasa aku pun sampai tertidur hingga aku terbangun sudah hampir jam 03.00 WIB dini hari. Ku segera bangkit. Air wudu menyejukkan masuk sampai ke pori-pori kulitku. Desir angin berhembus menyapaku. Semakin diri merasa begitu lemah. Kubersimpuh sujut tuk mohon ampunananya, mohon petunjuknya. Pasrahkan segenap jiwa raga. Kutemukan seberkas sinar harapan. Allah akan selalu berikan yang terbaik untuk hamanya. Dan aku sangatlah yakin. Allah berikan yang terbaik untukku.

***

Malam berganti pagi pun menyapa, mentari pancarkan kehangatan dan membawa sejuta harapan. Hari ini, esok dan lusa harapanku masih sama. Aku tetap menuggu Mas Angga. Jarak yang memisahkan tak menjadikanku ragu. Segala rintang akan aku hadang. Tak mudah memang menjalin hubungan jarak jauh, namun aku dan Mas Angga selalu berkomitmen dengan apa yang telah kami sepakati. Ku buang jauh pikiran negatif  yang menghantui.

Setiap senja aku selalu ingin menghabiskan dan menikmati bersama Mas Angga. Walau beda tempat namu senja bisa selalu menyatukan kami. Bait-bait rindu terukir disana. Saat rindu berharap jumpa namun temu belum berpihak. Jemariku mewakili rasa yang tak bisa terucap. Benang rindu yang tercipta. Membawaku pada sebuah puisi untukmu di sana.

 Merah senja membawa kisah

Pada sebait kata yang menggugah

Jiwa meronta karena terpisah

Bukan karena tak cinta namun satu langkah

Untuk sebuah harapan indah

Saat bulan delapan janjikan jumpa

Namun apa hendak dikata pandemi masih melanda

Terpaksa menahan rindu yang bergelora

Tuk sebuah harapan hidup bersama

Benang rinduku pun kujaga

Delapan puluh delapan minggu menunggu

Kan kujaga setiaku

Sampai pada titik temu

Yang menjadi penghilang pilu

Rinduku rindumu menyatu

Percayalah bahwa rindu yang menggebu

Menunggu waktu untuk bertemu

Adalah bukti cintamu

Seperti Mas Angga merasakan apa yang kurasakan. Setelah aku kirim puisi untuknya. Dia pun membalasnya dan betapa hatiku bahagia. Mas Angga sampaikan untuk minggu depan akan pulang, dia akan penuhi janjinya.

Tak sabar aku menunggu kedatangannya. Hati berbunga-bunga tiada terkira. Hingga waktu yang dinanti tiba. Aku menunggu di batas kota tempat kita berpisah untuk melepas kepergian Mas Angga kala itu. Di tempat yang sama, dan masih dengan perasaan yang sama. Aku dengan setiaku dan kau datang dengan janjimu. Kita kan menyatu dalam balutan rindu.

Kulihat sosok yang tak asing lagi bagiku. Langkahnya, senyumnya , masih seperti yang dulu.

“Dik, aku datang.” Ucapnya.

Aku tak bisa berkata-kata. Tatapanku mewakili semuanya. Tak terasa aku sudah dalam pelukannya.

“Maafkan aku, Dik. Aku telah buatmu menunggu. Bukan maksudku agar kau menunggu lebih lama. Namun ini demi kita dan masa depan kita.” Kembali Mas Angga berucap.

Kali ini aku sudah bisa berkata-kata.

“Bukan salah Mas Angga. Terimakasih, Mas telah datang dan penuhi janji itu.” Jawabku

“Iya, Dik. Aku datang untukmu untuk mimpi kita. Sengaja aku sedikit mengurangi chat denganmu agar aku tau sejauh mana kesetianmu. Dan kau tau, aku sangat tersiksa untuk menahan semuanya. Namun aku sangat yakin. Esok adalah milik kita.” Jelasmu

“Sudahlah, Mas. Ayuk kita duduk dulu di bangku itu.” Pintaku.

Sengaja aku meminta Mas Angga untuk istirahat dulu di bangku tua dulu tempat kami berpisah dulu. Aku ingin mengenangnya dan juga tunjukkan pada bangku tua saksi janji kami. Aku ungkapkan semuanya dan Mas Angga tau bagaimana selama sekian tahun ini aku menunggu. Perjuangan panjang untuk sebuah harapan. Bagaimana aku harus bisa menjaga hati dan perasaan. Tak mudah namun untuk tekat yang kuat maka semua kan terasa indah.

Semua terjawab sudah. Dan aku sama Mas Angga akan segera menikah mengikat janji suci. Terimaksih cinta terimakasih rasa. Tak mudah aku sampai ke titik ini. Jika hati sudah terpatri dan Allah meridhoi alam pun berpihak. Ihtiyar dan doa dilakukan. Allah pun menyatukan dengan cara-Nya.

 

#KarenaMenulisAkuAda

#Day29KMAAYPTDChallenge

Gunungkidul, 21 Sepetember 2021

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan