Disadur dari Ceramah Felix Siau
Selamat Ramadan hari ke-7. Semoga puasa kita semakin meneguhkan iman, menguatkan kesabaran, dan menajamkan rasa syukur. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an,
Dengan meluruskan tujuan kepada Allah (akhirat), ketenangan jiwa akan tercapai, karena takdir adalah ketetapan yang terbaik.
- Stres = Tujuan Salah: Mengejar tujuan yang salah (duniawi/hasil akhir) menyebabkan stres, bukan takdir-Nya.
- Perbaikan Niat: Fokus pada proses dan tujuan akhirat (ridho Allah).
- Ridho Takdir: Mengimani takdir membuat hati tenang, sedangkan salah tujuan membuat beban pikiran
Surah Saba ayat 13:
Bekerjalah wahai keluarga Daud sebagai bentuk syukur.
Perintah ini bukan sekadar ajakan spiritual, melainkan mandat peradaban. Syukur tidak berhenti di lisan, tetapi berlanjut pada tindakan nyata. Inilah pelajaran agung dari kisah Nabi Daud AS.
Sebagai seorang Nabi sekaligus Raja, Daud memiliki kekuasaan dan kemuliaan. Namun beliau tidak hidup bermewah-mewahan dari kas negara. Ia memilih bekerja dengan tangannya sendiri. Dengan mukjizat dari Allah, besi menjadi lunak di tangannya, lalu diolah menjadi baju besi yang kokoh namun ringan.
Dari hasil itulah beliau menafkahi keluarga dan bersedekah. Seorang pemimpin memberi teladan: kehormatan bukan pada jabatan, melainkan pada kejujuran keringat.
Inilah makna syukur sejati. Allah menegaskan bahwa sedikit sekali hamba-Nya yang benar-benar bersyukur. Syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah” yang meluncur ringan di bibir, tetapi komitmen untuk bekerja, berbuat adil, hidup sederhana, dan menggunakan nikmat untuk ketaatan.
Keluarga Daud membuktikan bahwa rasa terima kasih kepada Allah harus diwujudkan dalam amal saleh yang terukur dan bermanfaat.
Mukjizat melunakkan besi bukan untuk kesombongan, melainkan untuk produktivitas. Anugerah selalu menuntut tanggung jawab. Ilmu, jabatan, kekayaan, bahkan kesehatan adalah “besi lunak” dalam kehidupan kita.
Tinggal bagaimana kita menempa menjadi karya. Jika nikmat tidak melahirkan manfaat, maka syukur belum sempurna. Ramadan mengingatkan: ibadah vertikal harus berdampak horizontal.

Sebagai Penasehat, saya mengajak diri sendiri dan sahabat semua untuk menjadikan pekerjaan sebagai ibadah. Profesionalitas adalah bagian dari takwa.
Jangan menggantungkan hidup pada fasilitas, tetapi bangun kemandirian dengan integritas. Pemimpin yang bersyukur tidak menyalahgunakan wewenang, tidak memanjakan diri, dan tidak menunda tanggung jawab.
Sebagai Penakawan, izinkan saya tersenyum kecil. Kadang kita lebih rajin menghitung THR daripada menghitung amal. Lebih cepat menghitung keuntungan daripada menghitung keberkahan.
Padahal, rezeki yang halal dan keringat yang jujur jauh lebih menenangkan daripada angka besar tanpa ridha. Syukur itu bukan teori ekonomi, tetapi praktik nurani.
Sebagai Penasaran, mari kita bertanya pada diri sendiri di hari ke-7 Ramadan ini: sudahkah nikmat yang Allah beri kita olah menjadi karya?
Sudahkah jabatan menjadi amanah, bukan kesempatan? Sudahkah waktu kita menjadi ladang pahala? Jika belum, masih ada sisa Ramadan untuk memperbaiki.
Ke pasar membeli kain sutra,
Singgah sebentar membeli delima.
Syukur bukan hanya kata semata,
Namun bekerja penuh takwa.
Besi ditempa jadi perisai,
Dipakai pahlawan di medan laga.
Ramadan hadir mengetuk hati,
Agar syukur menjelma karya.
Semoga kita termasuk hamba yang sedikit itu — yang benar-benar bersyukur.
- Aamiin Ya Rabbal Alamiin
- BHP, 7 Ramadan 1447 Hijriah
- TD







