Mengeluh Oh Kenapa Mengeluh

YPTD21 Dilihat

Mengeluh Oh Kenapa Mengeluh

Mengeluh merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Ketika menghadapi kesulitan, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau kekecewaan, seseorang cenderung mengungkapkan isi hatinya. Dalam batas tertentu, mengeluh dapat menjadi cara melepaskan beban emosional agar pikiran tidak terlalu tertekan.

Dalam perspektif Islam, mengeluh kepada Allah SWT melalui doa dan munajat merupakan bentuk penghambaan yang dianjurkan. Namun, mengeluh terus-menerus kepada sesama manusia hingga menumbuhkan sikap putus asa tidaklah baik. Al-Qur’an mengajarkan kesabaran, ikhtiar, dan tawakal sebagai jalan menghadapi ujian kehidupan.

Dari sudut pandang psikologi, mengungkapkan perasaan yang terpendam memang dapat membantu menjaga kesehatan mental. Menuliskan keluhan dalam jurnal atau catatan harian sering dianjurkan karena mampu membantu seseorang memahami emosinya secara lebih jernih. Akan tetapi, mengulang-ulang keluhan tanpa mencari jalan keluar justru dapat memperkuat stres dan kecemasan.

 

Pergi ke sawah menanam padi,
Padi menguning di petani senang.
Jangan mengeluh sepanjang hari,
Syukur & ikhtiar  hati menjadi tenang.

Para filsuf sejak zaman Yunani kuno mengajarkan bahwa manusia perlu membedakan antara hal yang dapat dikendalikan dan yang tidak dapat dikendalikan. Energi terbaik adalah mengubah apa yang bisa diperbaiki, sementara yang di luar kuasa diterima dengan lapang dada. Sikap ini melahirkan ketenangan dan kebijaksanaan.

Budaya Jepang mengenal konsep gaman, yaitu kemampuan bertahan dengan sabar dan bermartabat ketika menghadapi kesulitan. Di negara-negara Nordik, masyarakat cenderung menghindari keluhan berlebihan demi menjaga harmoni sosial. Sementara dalam budaya Timur, rasa syukur dan kebersamaan sering menjadi penawar kesedihan.

Alih-alih terjebak dalam lingkaran keluhan, cobalah menuliskan semua unek-unek yang dirasakan. Setelah itu, pilih mana masalah yang bisa diselesaikan dan mana yang harus diterima. Langkah sederhana ini membantu pikiran lebih terarah serta mengurangi beban emosional yang menumpuk.

Pada akhirnya, hidup tidak ditentukan oleh banyaknya masalah, melainkan oleh cara kita menyikapinya. Keluhan yang diolah menjadi introspeksi akan melahirkan solusi. Kesulitan yang disikapi dengan sabar akan menumbuhkan ketangguhan. Dan hati yang dipenuhi syukur akan menemukan kebahagiaan bahkan di tengah keterbatasan.

  • Thamrin Dahlan
    Salam Literasi
  • BHP 7 Juni 2026

Tinggalkan Balasan