Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bapak Thamrin Dahlan yang dirahmati Allah SWT, pertanyaan ini menyentuh inti perjalanan ruhani seorang mukmin. Dalam tradisi Islam, terutama yang diamalkan para ulama tasawuf dan kaum sufi, tujuan hidup bukan sekadar beribadah pada waktu tertentu, tetapi menghadirkan Allah SWT dalam kesadaran setiap saat. Mereka berusaha menjadikan setiap tarikan dan hembusan napas sebagai dzikir kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab: 41)
Ayat ini menjadi landasan bahwa mengingat Allah tidak dibatasi waktu dan tempat. Dzikir dapat dilakukan ketika berjalan, bekerja, duduk, bahkan ketika hati sedang merenung. Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring.” (QS. Ali Imran: 191)
Para ulama sufi mengajarkan latihan sederhana namun mendalam, yaitu menghubungkan napas dengan kalimat tauhid. Saat menarik napas di dalam hati mengucapkan “Allah”, dan ketika menghembuskan napas mengucapkan “Hu” (Dia). Ada pula yang melafalkan “Laa Ilaaha” saat menarik napas dan “Illallah” saat menghembuskannya. Tujuannya bukan sekadar menggerakkan lidah, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa hidup ini berlangsung karena izin Allah semata.
- Burung merpati terbang melayang,
Hinggap sejenak di dahan jati.
Jika Allah selalu dikenang,
Tenanglah jiwa damailah hati.
Adapun untuk senantiasa bershalawat kepada Rasulullah SAW, Allah sendiri memerintahkannya:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Karena itu banyak ulama membiasakan shalawat pendek yang mudah diamalkan sepanjang hari:
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.
Atau yang lebih ringkas:
Shallallahu ‘ala Muhammad.
Semakin sering diucapkan, semakin hidup rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Dalam hadis disebutkan bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadanya.
- Bunga melati harum berseri,
Tumbuh mekar di tepi telaga.
Perbanyak shalawat setiap hari,
Agar dekat dengan Rasul mulia.
Para guru tasawuf juga mengajarkan tiga kunci agar hati selalu ingat kepada Allah.
- Pertama, menjaga wudhu semampunya.
- Kedua, membiasakan dzikir pendek seperti “Subhanallah”, “Alhamdulillah”, “Allahu Akbar”, dan “Laa Ilaaha Illallah”.
- Ketiga, memperbanyak shalawat kapan saja, terutama setelah salat, saat berjalan, dan sebelum tidur. Dengan latihan yang istiqamah, dzikir akan turun dari lisan ke hati, lalu dari hati menjadi napas kehidupan.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pada awalnya seseorang berdzikir dengan lidah. Setelah terbiasa, hati ikut berdzikir. Kemudian sampai pada keadaan di mana hati selalu sadar kepada Allah meskipun lidah sedang diam. Inilah yang disebut sebagian ulama sebagai “dzikir daim” (dzikir yang terus-menerus).
Sebagai amalan praktis harian, Bapak dapat membiasakan:
- Membaca istighfar 100 kali setiap pagi.
- Membaca shalawat 100 kali setiap hari.
- Membaca “Laa Ilaaha Illallah” 100 kali.
- Mengucapkan “Alhamdulillah” setiap memperoleh nikmat.
- Mengucapkan “Subhanallah” ketika melihat keindahan ciptaan Allah.
- Mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” ketika mendapat musibah.
- Menutup hari dengan muhasabah dan dzikir sebelum tidur.
Semoga Allah SWT menjadikan setiap detak jantung, setiap tarikan napas, setiap langkah kaki, dan setiap goresan pena Bapak sebagai dzikir yang mendekatkan diri kepada-Nya serta menjadikan shalawat senantiasa mengalir dari lisan dan hati kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Salam Takziem
BHP, 24 Juni 2026
09 Muharram 1448 Hijriah
Thamrin Dahlan














