P3D Nobar Film Autopsy Dead Body Can Talk

Terbaru6 Dilihat

Autopsy: Dead Body Can Talk, Ketika Kisah Pengabdian Hadir di Layar Lebar

Tayang di seluruh bioskop Indonesia, 3 September 2026

Ada sensasi yang berbeda ketika kita datang ke bioskop bukan sekadar untuk menonton film. Kali ini ada perasaan bangga, haru, sekaligus penasaran. Sebab film yang hendak ditonton berkisah tentang teman sendiri—seorang dokter forensik yang selama ini dikenal dalam lingkungan Kedokteran Kepolisian.

Paguyuban Purna Polwan Dokkes Polri bersama senior Dokkes Polri, Bapak BJPP dr. Soerjono, SKM, Bapak KBPP dr. Wahyono Sumarto, Sp.KJ, dan KBPP Thamrin Dahlan berkesempatan mengikuti Nonton Bareng Film Autopsy: Dead Body Can Talk di Cinema XXI Mal Cijantung, Kamis, 3 September 2026, pukul 14.25 WIB. Bagi kami, ini bukan sekadar acara nobar. Ada ikatan emosional karena sosok dan profesi yang diangkat dalam film begitu dekat dengan perjalanan pengabdian kami.

Terima kasih kepada Bapak Irjen Pol (P) dr. Prima Heru Yulihartono, M.Kes., berkenan memfasilitasi P3D Nonton Bareng Film Dokter Hastry. Bagi komunitas P2KP, kesempatan seperti ini sungguh istimewa. Menonton bersama tentu terasa jauh lebih berkesan dibandingkan duduk sendirian di dalam bioskop. Apalagi yang ditonton adalah kisah perjuangan seorang teman, sebuah profesi yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pengabdian, dan dunia Kedokteran Kepolisian yang kami kenal dari dekat.

Semangat Ibu-Ibu Polwan ternyata luar biasa. Pukul 12.30 WIB, sekitar dua jam sebelum film dimulai, Drg. Ike, Drg. Indri, dan Mbak Ipin sudah berada di lantai 4 Mal Cijantung, siap menyambut para calon penonton. Satu per satu peserta berdatangan. Tiket dibagikan, sekotak makanan pun diterima dengan senyum. Beginilah kalau ibu-ibu sudah bekerja: rapi, cekatan, ramah, dan yang pasti tidak boleh ada peserta yang terlewat. Terima kasih, terima kasih!

Ternyata Ketua P3D, KBPP Andrini, juga sudah menyiapkan spanduk. Nah, inilah ciri khas komunitas P2KP: kalau hadir, harus ada tanda bukti kehadiran! Maka sesi foto pun dimulai di depan Cinema XXI. Senior KBPP Nani Alaydrus sibuk mengatur yunior yang berebut ingin tampil di depan kamera. Tiga senior bapak-bapak hanya tersenyum ketika diajak bergabung. Mau menolak tentu tidak tega. Akhirnya, jadilah foto bersama yang kelak menjadi kenangan indah.

P3D Foto bersama di Cinema XXI m Mal Cijantung 

Ruang tunggu Cinema XXI semakin ramai. Bukan hanya rombongan Polwan Plus, tetapi juga banyak penonton lainnya. Tentu masing-masing mempunyai alasan mengapa memilih film Autopsy: Dead Body Can Talk. Film ini memang menarik. Bukan sekadar tontonan yang menegangkan, melainkan kisah nyata tentang perjuangan seorang perempuan dalam dunia kedokteran forensik Kepolisian. Di sinilah rasa penasaran berubah menjadi kebanggaan.

Ibu-Ibu Polwan pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bergantian selfie di depan banner film Autopsy, lengkap dengan ekspresi ceria. Rasanya seperti ingin berkata kepada dunia: “Ini lho, Dokter Hastry, teman kami!” Ada kebanggaan tersendiri melihat kisah perjuangan seorang sahabat akhirnya hadir di layar putih. Bagi kami yang mengenal dunia Dokkes, perjalanan itu bukan cerita biasa. Ada pengabdian, ada pengorbanan, ada tanggung jawab, dan ada sisi kemanusiaan yang tidak selalu terlihat oleh masyarakat.

Tepat menjelang film dimulai, para penonton memasuki ruang cinema. Ada pemandangan yang diam-diam membuat hati tersentuh. Ibu-Ibu Polwan dengan penuh perhatian membimbing para senior lansia, mencarikan tempat duduk, bahkan mengantarkan sampai ke kursinya. Tidak ada yang merasa lebih muda atau lebih senior. Semua saling membantu. Inilah indahnya persahabatan yang telah terjalin puluhan tahun. Bukan karena seremoni, bukan pula karena kebetulan bertepatan dengan momentum tertentu, tetapi karena memang saling peduli.

Lalu bagaimana dengan filmnya?

Sebagai penonton yang datang dengan perasaan mengenal sosok utama ceritanya, tentu pengalaman menontonnya menjadi berbeda. Saya tidak hanya melihat aktor dan akting di layar. Saya seperti sedang melihat kembali perjalanan seorang teman dalam menjalankan tugas kemanusiaan. Satu kalimat dari suami dr. Hastry dalam film ini begitu melekat di hati:

“Istriku tersayang telah melakukan pengabdian terbaik menolong orang yang tidak bisa lagi minta bantuan.”

Kalimat sederhana, tetapi dalam maknanya. Di balik pekerjaan seorang dokter forensik terdapat manusia-manusia yang telah pergi dan tidak mampu lagi berbicara. Di situlah keahlian, ketelitian, keberanian, dan hati nurani mengambil peran. Orang yang telah meninggal memang tidak dapat berbicara, tetapi jasadnya dapat “berbicara” melalui ilmu kedokteran forensik.

Masih banyak kesan lain setelah menyaksikan film ini. Biarlah nanti saya susun dalam tulisan khusus berupa resensi film. Untuk sementara, cukup saya katakan: film ini membuat saya kembali mengenang perjalanan panjang perjuangan Kedokteran Kepolisian. Bapak dr. Soerjono bahkan tampak terharu. Ada kenangan panjang yang kembali hadir—perjuangan menjadikan organisasi Diskes berkembang hingga menjadi Pusdokkes.

Istilah Kedokteran Kepolisian, atau yang lebih akrab dikenal masyarakat sebagai DokPol, kini semakin mudah dipahami. Di balik seragam para petugas forensik terdapat profesi yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengungkap identitas dan membantu memberikan kepastian bagi keluarga korban. Peran ini semakin penting dalam penanganan Disaster Victim Identification (DVI), termasuk dalam kerja sama dan penanganan kasus pada tingkat internasional.

Maka setelah lampu cinema menyala dan film berakhir, pertanyaan menarik muncul dari kalangan Polwan Dokkes: “Apa pendapat kita setelah menonton film teman sendiri?” Jawabannya ternyata bukan hanya soal bagus atau tidak bagusnya sebuah film. Lebih dari itu, kami seperti sedang menyaksikan sebagian perjalanan hidup, pengabdian, persahabatan, dan perjuangan yang selama ini hanya kami dengar dari cerita.

Nonton bareng akhirnya bukan sekadar duduk bersama menikmati film. Ia menjadi ruang untuk mengenang masa lalu, menghargai pengabdian, mempererat silaturahmi, sekaligus memberikan apresiasi kepada seorang sahabat yang kisah perjuangannya kini ditonton masyarakat Indonesia.

Selamat untuk Film Autopsy: Dead Body Can Talk.

Dari kami para sahabat dan senior Dokkes Polri:
Bangga pernah mengenal. Bangga pernah bersama. Dan hari ini, bangga menyaksikan kisah teman sendiri hadir di layar lebar.

Brigjen Pol. Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti saat ini menjabat sebagai Kepala Biro Kedokteran Kepolisian (Karodokpol) Pusdokkes Polri.

Akhir kalam, Rekomendasi untuk para pembaca bahwa film Autopsi Dead Body Can Talk patut anda tonton.  Indkator sebuah film itu bagus. Para penonton dari awal terkesima dari satu adegan ke adegan sampai film selesai karena ada rasa penasaran.  Begitulah awak rasakan ketika menonton 2 seri Film Box Office Agak Laen

 

Salam Literasi
BHP, 4 September 2026
Thamrin Dahlan

 

Tinggalkan Balasan