Kumpulan Kisah Kami di Masa Pandemi

Terbaru392 Dilihat

KUMPULAN KISAH KAMI DI MASA PANDEMI

Tulisan ini adalah kumpulan kisah siswa-siswi kami selama pelaksanaan PJJ di masa pandemi Covid-19. Kisah penuh intrik dan menarik untuk dibaca. Semoga kisah ini akan menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan untuk kami khususnya, keluarga besar SMP Negeri 2 Subang. Dan menjadi gambaran umum tentang pembelajaran di masa Corona, yang mungkin terjadi di sekolah anda juga. Berikut kisahnya:

Bab.1

Pertemuan di Awal Tahun Ajaran Baru

Hari ini adalah awal tahun ajaran baru. Tak seperti biasanya, pertemuan awal kami terasa agak kaku dan mengkhawatirkan. Kaku, karena siswa memakai seragam bukan hanya baju atasan berwarna putih dan rok atau celana berwarna biru, sepatu hitam, beserta topi sekolah. Kali ini, mereka datang dilengkapi dengan masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Hampir kami para guru tak mengenali wajah mereka satu per satu. Kekakuan semakin bertambah karena kami harus menjaga jarak satu sama lain. Tak ada lagi salam-salaman dan berpeluk ria. Siswa tak boleh lagi mencium tangan gurunya. Begitu juga guru dengan rekan-rekannya. Hanya salam tangan menempel di dada yang masih diperbolehkan. Belum lagi, ritual mencuci tangan dengan sabun di air mengalir atau wastafel yang tersedia. Sesaat ada rasa sedih yang menyergap hati melihat pemandangan ini. Dalam sekejap, kebiasaan lama berubah menjadi kebiasaan baru dengan tata cara yang disebut protokol kesehatan. Semua itu dilakukan semenjak adanya virus Covid-19. Virus ganas yang berasal dari Wuhan, Cina dan secepat kilat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Dan kondisi ini telah mengkhawatirkan kami semua. Khawatir akan tertular penyakit yang mematikan itu.

Setelah memanggil nama-nama siswa yang masuk ke dalam kelas asuhan saya, kelas IX C, mereka pun masuk ke kelas dan duduk agak berjauhan dengan yang lainnya. Pihak sekolah sudah menetapkan aturan tentang pembagian kelas beberapa hari sebelumnya. Dari jumlah 36 siswa dibagi dua gelombang. Gelombang pertama mulai jam 8.00 hingga 10.00 pagi. Sedangkan gelombang kedua dari jam 10.00 sampai 12.00 siang. Tiap gelombang terdiri dari setengah jumlah siswa keseluruhan yaitu 18 orang. Kami melakukannya untuk menjaga jarak, sesuai dengan aturan protokol kesehatan yang ditetapkan oleh pemerintah. Saya hampir tak mengenali mereka, setelah lama tidak berjumpa. Dan sekarang, wajah mereka tertutup masker. Semakin asing saja buat saya. Hanya beberapa siswa saja yang masih bisa saya kenali. Mungkin karena saya pernah mengajar atau menjadi wali kelas mereka ketika duduk di kelas VIII. Sisanya membuat saya jadi pusing mengingat-ingat kembali. Wajah-wajah baru yang sebenarnya sudah lama sekolah di SMP ini.

Suasana kelas serasa di kuburan. Senyap, tak seramai biasanya. Semua siswa diam membisu. Hanya suara saya saja yang lantang terdengar walaupun tertutup masker. Suara tiap siswa terdengar hanya jika dipanggil oleh saya, atau menjawab pertanyaan sederhana yang saya lontarkan. Betapa kakunya pertemuan itu. Dan suasana seperti itu berulang di gelombang kedua. Sama persis senyap dan kakunya. Untuk menghilangkan kekakuan, saya ajak mereka bercerita tentang keluarga, tempat tinggalnya, dan keseharian mereka. Hal terakhir yang disampaikan adalah rencana pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang merupakan hal baru bagi kami semua. Dengan harapan pembelajaran baru ini dapat diterima dan menjadi pengalaman yang berharga dan bermakna buat kami guru dan siswa.

Setelah siswa bertatap muka di kelas dengan wali kelasnya, mereka disarankan untuk mengambil buku paket di perpustakaan. Begitu banyak buku yang mereka pinjam. Jangan tanya beratnya. Karena dari tas gendong yang mereka panggul, saya sudah mengetahui bebannya.

Kami mengakhiri pertemuan awal dengan foto bersama. Masih tetap bermasker tapi tak bisa menjaga jarak, karena tuntutan agar semua siswa terbawa dalam fotonya. Setidaknya kami masih punya semangat untuk belajar dalam keterbatasan karena pandemi ini. Semangat yang terpancar dari foto kami saat mengepalkan tangan tanda tak ingin menyerah. Pembelajaran harus tetap dilaksanakan, walau tak bisa bertatap muka di kelas seperti yang dulu dilakukan. Kelas dengan sejuta kenangan. Kelas yang untuk 8 bulan ke depan akan menjadi tempat yang sangat dirindukan.

Tunggu kami di kisah selanjutnya..

Penulis: Tuti Suryati, S.Pd

Instansi: SMP Negeri 2 Subang, Jawa Barat




Tinggalkan Balasan