Langit Abu-Abu dan Lagu Pagi

Terbaru5 Dilihat

 Langit Abu-Abu dan Lagu Pagi

 

Tung Widut

 

Langit berwarna abu-abu. Angin meniup pelan, membuat lonceng kecil di halaman terus berbunyi pelan. Pagi itu cukup segar. Walaupun agak mendung, inilah yang dirindukan selama beberapa bulan terakhir. Sedikit hawa dingin melekat pada kulit, terasa nyaman.

 

Bu Wida tersenyum, lalu menyalakan lagu Negoro Angin karya Denny Caknan — lagu yang sedang sangat populer saat itu. Apalagi setelah ada seseorang yang kemiripan dengannya merilis ulang lagu itu dengan aransemen yang indah, lagunya terasa makin menyentuh hati. Cukup menghibur pagi yang tenang itu.

 

Anaknya, Sa, sibuk mondar-mandir dari ruang makan ke ruang belajar, lalu mengambil perlengkapan mandi. Ruangan terpisah, namun suasana terasa hangat. Bu Wida menyambungkan pemutar musiknya ke speaker aktif agar suaranya lebih jelas.

 

“Ayo, Nak, dengarkan dan cobalah hafal lagunya,” kata Bu Wida lembut namun bersemangat. “Siapa tahu sewaktu-waktu ada acara di sekolah atau di desa, kita langsung bisa tampil dengan percaya diri.”

 

Sa tersenyum setuju. Sambil menyiapkan buku dan mengambil handuk, ia mulai menyenandungkan nada-nada lagunya. Suara kecilnya terdengar, hampir menyatu dengan alunan musik dari speaker. Ia tampak antusias.

 

Cekrek! Pintu terbuka. Sebuah tangan terulur, mengecilkan volume speaker itu.

 

“Bikin budak saja, suaranya sampai ke tetangga,” kata Pak Udin yang baru saja masuk.

 

“Tidak berlebihan, Pak. Ini untuk belajar, bukan sekadar hiburan,” jawab Bu Wida mencoba menjelaskan.

 

“Tetap saja, jangan sampai tetangga dengar. Kayak orang hajatan di pagi hari.”

 

Bu Wida menghela napas panjang. Di sinilah letak perbedaannya dengan suaminya. Bagi Bu Wida, memutar lagu setiap pagi adalah cara sederhana membangun suasana hati yang baik sekaligus membentuk lingkungan yang mendukung bakat menyanyi anak. Semakin sering anak mendengar, semakin ia terbiasa dan tumbuh percaya diri.

 

Namun bagi Pak Udin, hal itu belumlah cukup penting. Ia lebih memprioritaskan nilai akademis yang tinggi, agar kelak anaknya bisa menjadi pegawai yang terhormat. Itulah cita-citanya. Dua pandangan yang berbeda, namun keduanya sama-sama menginginkan yang terbaik untuk anak mereka, hanya saja dengan jalan yang berbeda.

 

Lagu itu kini terdengar lebih pelan, hanya memenuhi satu ruangan. Sa tetap menyenandungkan nada itu pelan, masuk ke kamar mandi dengan senyum yang tak hilang. Bu Wida berharap, suatu hari nanti, suaminya pun mengerti: kebahagiaan anak lahir ketika ia diizinkan tumbuh di jalannya sendiri, diiringi lagu yang dicintainya.

 

Tinggalkan Balasan