Kisah Omjay: Literasi yang Terlupakan

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

guru10 Dilihat

Literasi yang Terlupakan: Kisah Omjay Mencari Cahaya di Tengah Bisingnya Dunia Digital

Di tengah derasnya arus informasi di era digital, kata literasi sering diucapkan, tetapi tidak selalu dipahami. Banyak orang mengira literasi hanya sebatas kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi adalah kemampuan memahami, mengolah, dan memaknai informasi agar bermanfaat bagi kehidupan.

Ironisnya, di zaman ketika informasi begitu mudah diakses melalui internet, justru semangat literasi sering kali terasa semakin redup. Buku-buku di perpustakaan sekolah menjadi saksi bisu. Rak-rak yang dahulu ramai kini lebih sering sepi. Anak-anak lebih akrab dengan layar ponsel daripada lembaran buku.

Kisah ini pernah dialami oleh Omjay, atau yang dikenal sebagai Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, seorang guru yang dijuluki Guru Blogger Indonesia. Sebagai seorang pendidik dan pegiat literasi, Omjay sering merenung tentang masa depan budaya membaca dan menulis di negeri ini.

Perpustakaan yang Sepi

Suatu siang, setelah selesai mengajar di sekolah, Omjay berjalan menuju perpustakaan. Ia ingin melihat kondisi ruang yang dulu menjadi tempat favorit siswa untuk membaca.

Namun ketika pintu perpustakaan dibuka, suasana yang ia temukan justru membuat hatinya sedikit sedih.

Ruangan itu sunyi.

Hanya ada satu atau dua siswa yang duduk sambil membuka buku. Selebihnya kursi-kursi kosong.

Omjay teringat masa ketika perpustakaan sekolah menjadi tempat yang ramai. Anak-anak datang untuk mencari buku cerita, komik pendidikan, atau sekadar membaca majalah.

Kini, sebagian besar siswa lebih memilih membuka ponsel mereka.

Informasi memang ada di internet, tetapi sering kali tidak dibaca secara mendalam. Mereka membaca sekilas, lalu berpindah ke konten lain. Kebiasaan membaca yang perlahan dan penuh pemahaman mulai tergeser oleh kebiasaan menggulir layar tanpa henti.

Omjay duduk di salah satu kursi perpustakaan dan membuka sebuah buku lama. Ia membalik halaman demi halaman sambil tersenyum kecil.

“Buku tidak pernah marah ketika kita meninggalkannya,” pikirnya.
“Tetapi ia akan selalu setia ketika kita kembali membacanya.”

Literasi yang Bukan Sekadar Membaca

Sebagai guru informatika, Omjay tidak pernah menolak perkembangan teknologi. Ia bahkan aktif mengajarkan siswa tentang dunia digital, coding, dan pemanfaatan internet.

Namun ia juga menyadari satu hal penting.

Teknologi tanpa literasi yang kuat bisa menjadi pisau bermata dua.

Internet menyediakan jutaan informasi. Tetapi tidak semua informasi benar. Banyak berita palsu, hoaks, dan opini yang disajikan seolah-olah sebagai fakta.

Di sinilah literasi menjadi sangat penting.

Literasi mengajarkan seseorang untuk berpikir kritis. Untuk memeriksa kebenaran informasi. Untuk memahami makna dari apa yang dibaca.

Tanpa literasi, seseorang mudah percaya pada apa saja yang muncul di layar ponselnya.

Omjay sering mengatakan kepada murid-muridnya:

“Internet memberi kita informasi. Tetapi literasi memberi kita kebijaksanaan.”

Menghidupkan Literasi Lewat Menulis

Alih-alih hanya mengeluh tentang menurunnya minat baca, Omjay memilih melakukan sesuatu.

Ia mulai mengajak siswa untuk menulis.

Bukan menulis yang rumit atau penuh teori, tetapi menulis tentang pengalaman mereka sendiri.

Tentang kehidupan di rumah.
Tentang persahabatan.
Tentang mimpi dan harapan mereka.

Omjay percaya bahwa menulis adalah cara paling sederhana untuk menumbuhkan literasi.

Ketika seseorang menulis, ia belajar berpikir. Ia belajar menyusun ide. Ia belajar memilih kata yang tepat untuk menyampaikan pesan.

Menulis juga membuat seseorang lebih menghargai proses membaca. Karena sebelum menulis, seseorang harus membaca dan memahami berbagai sumber.

Di kelasnya, Omjay sering memberikan tantangan sederhana.

“Satu hari satu paragraf,” katanya.

Tidak perlu panjang. Yang penting konsisten.

Awalnya banyak siswa yang merasa kesulitan. Tetapi setelah beberapa minggu, mereka mulai terbiasa.

Beberapa bahkan mulai menikmati proses menulis.

Ada yang menulis cerita pendek. Ada yang menulis pengalaman lucu di sekolah. Ada juga yang menulis puisi sederhana.

Melihat itu, hati Omjay terasa hangat.

Literasi di Rumah dan di Sekolah

Omjay sering mengatakan bahwa literasi tidak bisa hanya dibangun di sekolah.

Literasi harus menjadi budaya di rumah.

Ketika orang tua membaca buku, anak-anak akan melihat dan meniru. Ketika orang tua gemar berdiskusi tentang pengetahuan, anak-anak akan terbiasa berpikir kritis.

Sayangnya, di banyak keluarga, kebiasaan membaca mulai tergeser oleh televisi dan ponsel.

Padahal, budaya literasi bisa dimulai dari hal-hal kecil.

Membacakan cerita sebelum tidur.
Mengajak anak berdiskusi tentang buku yang mereka baca.
Memberikan contoh bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan.

Menurut Omjay, literasi adalah investasi jangka panjang.

Hasilnya mungkin tidak terlihat dalam sehari atau seminggu. Tetapi dalam jangka panjang, literasi membentuk cara berpikir seseorang.

Orang yang literat cenderung lebih bijak dalam mengambil keputusan. Lebih mampu memahami perbedaan pendapat. Dan lebih siap menghadapi perubahan zaman.

Cahaya yang Tidak Boleh Padam

Di akhir hari itu, sebelum meninggalkan perpustakaan, Omjay menutup buku yang sedang ia baca.

Ia menatap rak-rak buku yang berdiri rapi.

Di sana tersimpan ribuan cerita, pengetahuan, dan pengalaman manusia.

Omjay percaya bahwa literasi mungkin sedang menghadapi tantangan besar di era digital. Namun ia juga yakin bahwa literasi tidak akan pernah benar-benar hilang.

Selama masih ada orang yang membaca.

Selama masih ada orang yang menulis.

Selama masih ada guru yang mengajak muridnya berpikir dan bertanya.

Cahaya literasi akan tetap menyala.

Omjay kemudian berdiri, merapikan buku yang ia baca, dan berjalan keluar dari perpustakaan dengan langkah pelan.

Di dalam hatinya ia berbisik:

“Menulis adalah cara kita menjaga cahaya itu tetap hidup.”

Dan selama masih ada orang yang mau menulis dengan hati, literasi tidak akan pernah benar-benar terlupakan. ✨

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tinggalkan Balasan