
Di tengah tantangan dunia literasi Indonesia yang masih menghadapi rendahnya minat baca dan menulis, kehadiran Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) menjadi angin segar. Yayasan ini hadir bukan sekadar sebagai penerbit, tetapi sebagai gerakan literasi yang membuka pintu lebar bagi siapa saja—terutama guru—untuk mewujudkan impian memiliki buku sendiri.
Bagi banyak guru di Indonesia, menulis sebenarnya bukan hal yang sulit. Setiap hari mereka menulis materi, laporan, refleksi pembelajaran, hingga pengalaman mengajar yang sangat berharga. Namun, menjadikan tulisan tersebut sebagai buku sering kali terasa seperti mimpi yang jauh. Di sinilah YPTD mengambil peran penting: menjembatani antara kemampuan menulis guru dan dunia penerbitan buku.
Misi Literasi dari Seorang Pensiunan yang Menginspirasi
YPTD didirikan oleh Thamrin Dahlan, seorang pensiunan Polri yang memiliki semangat luar biasa dalam dunia literasi. Setelah pensiun, beliau tidak berhenti berkarya. Justru dari masa purnabakti itulah lahir sebuah gerakan besar: membantu masyarakat Indonesia, termasuk guru, agar bisa menulis dan menerbitkan buku.
Yayasan ini resmi berdiri sekitar tahun 2019 dan sejak saat itu terus berkembang pesat. Dalam beberapa tahun saja, YPTD telah menerbitkan ratusan buku dari berbagai penulis dengan latar belakang beragam. (FINNEWS.ID)
Yang menarik, YPTD tidak hanya fokus pada penulis profesional, tetapi justru memberi ruang luas bagi penulis pemula—termasuk guru, blogger, hingga penulis Kompasiana. (Nurterbit)
Membantu Guru Menerbitkan Buku Secara Gratis
Salah satu keunggulan utama YPTD adalah komitmennya dalam membantu penulis menerbitkan buku ber-ISBN secara gratis atau dengan biaya yang sangat ringan. (Kompasiana)
Bagi guru, ini adalah peluang emas. Selama ini, banyak guru yang memiliki naskah tetapi terhambat oleh biaya penerbitan atau proses yang rumit. YPTD hadir dengan solusi sederhana:
- Guru cukup mengirimkan naskah
- Tim YPTD akan membantu proses editing dan desain
- Pengurusan ISBN dilakukan oleh penerbit
- Buku bisa terbit dalam waktu relatif cepat (sekitar dua minggu) (Kompasiana)
Bahkan, penulis tetap mendapatkan master file buku sehingga bebas mencetak ulang atau mendistribusikannya sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa YPTD tidak hanya menerbitkan buku, tetapi juga memberdayakan penulis agar mandiri.
Komunitas yang Menghidupkan Semangat Menulis
YPTD bukan sekadar penerbit, melainkan juga komunitas literasi. Para penulis yang bergabung akan masuk ke dalam grup komunikasi aktif, saling berbagi pengalaman, motivasi, dan inspirasi.
Bagi guru, komunitas ini sangat penting. Menulis sering kali terasa sepi jika dilakukan sendiri. Namun dalam komunitas, proses menulis menjadi lebih hidup dan menyenangkan.
Banyak guru yang awalnya ragu, akhirnya berhasil menerbitkan buku pertamanya melalui YPTD. Bahkan ada yang kemudian produktif menulis dan menerbitkan lebih dari satu buku.
Buku sebagai “Mahkota” Seorang Guru
Dalam dunia literasi, ada ungkapan menarik: “Buku adalah mahkota seorang penulis.” YPTD menjadikan filosofi ini sebagai semangat gerakan mereka.
Bagi guru, memiliki buku bukan sekadar prestasi pribadi, tetapi juga:
- Bukti karya nyata di dunia pendidikan
- Sumber inspirasi bagi siswa
- Warisan ilmu yang bisa dibaca lintas generasi
YPTD membantu mewujudkan hal tersebut. Tulisan yang sebelumnya tersebar di blog, catatan harian, atau media sosial, dikumpulkan dan disusun menjadi sebuah buku utuh.
Dengan demikian, karya guru tidak lagi “hilang”, tetapi menjadi dokumentasi yang abadi.
Dampak Nyata bagi Dunia Pendidikan
Peran YPTD dalam membantu guru menerbitkan buku memiliki dampak yang sangat besar, antara lain:
1. Meningkatkan budaya literasi guru
Guru menjadi lebih semangat menulis karena ada wadah nyata untuk menerbitkan karya.
2. Menginspirasi siswa
Guru yang menulis buku akan menjadi teladan bagi siswa dalam budaya membaca dan menulis.
3. Menambah nilai profesionalisme
Buku dapat menjadi bagian dari portofolio guru, bahkan mendukung pengembangan karier.
4. Menyebarkan praktik baik pendidikan
Pengalaman mengajar yang ditulis guru dapat menjadi referensi bagi guru lain di seluruh Indonesia.
Dari Mimpi Menjadi Kenyataan
Banyak kisah inspiratif lahir dari YPTD. Guru yang sebelumnya tidak percaya diri menulis, akhirnya berhasil menerbitkan buku solo atau antologi. Bahkan, beberapa di antaranya menjadikan buku sebagai awal perjalanan menjadi penulis produktif.
YPTD membuktikan bahwa menerbitkan buku bukan lagi hal eksklusif. Siapa pun bisa, selama mau menulis dan berproses.
Penutup: Saatnya Guru Menjadi Penulis
Kehadiran Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan adalah bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana: menulis.
Bagi para guru, tidak ada alasan lagi untuk menunda. Tulisan yang selama ini tersimpan bisa menjadi buku yang menginspirasi banyak orang. YPTD telah membuka jalan, kini tinggal keberanian untuk melangkah.
Karena sejatinya, guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga penulis yang mampu mengabadikan ilmu dan pengalaman untuk masa depan.
Dan bersama YPTD, mimpi itu bukan lagi sekadar angan—melainkan sebuah kenyataan yang bisa diwujudkan.





